Suami Dadakan

Suami Dadakan
extra bab 139


🌻🌻🌻🌻🌻


Hujan yang mendapat izin dari Bunda untuk menginap satu malam dirumah sakit akhirnya kembali pasrah untuk beristirahat dibalik selimut tipis, ia hanya bisa berbaring di temani Air yang duduk di sisi ranjang.


"Lo mau makan apa?, gue cuma beli roti"


Gadis itu menggeleng, karna rasa sakitnya membuat ia tak merasakan lapar sama sekali.


"Gue beliin coklat, Mau?, adek gue kalo lagi kaya begini pasti ribut pengen coklat yang banyak" kekeh Air, ia jadi rindu gadis cerewet itu.


"Gak usah, udah malem, Ay" ucapnya sambil membenarkan posisinya agar lebih nyaman.


"Apa mau pindah aja kerumah sakit gue?" tawarnya lagi.


"Mendingan gue pulang!" ketusnya pada Air.


Ponsel Air kembali bergetar, entah ini sudah yang keberapa puluh kali ia mengabaikannya.


Tak ada niatan sedikitpun untuk menanggapi kecuali dari keluarganya yang tadi memang sempat menghubunginya.


"Angkat aja, gak apa-apa" Ucap Hujan.


"Apa yang di angkat?, jemuran." kekeh Air sambil memasukkan ponselnya kedalam laci nakas sisi ranjang.


"Ya itu pasti dari pacar-pacar Lo, kan?"


Air hanya mengangguk, ia baru ingat memang memiliki janji dengan salah satu kekasihnya pulang kuliah ini, tapi rencana itu gagal saat ia bertemu Hujan .


"Lo tidur ya, gue juga ngantuk"


Dengan tangan saling menggenggam, pemuda itupun mencoba memejamkan matanya, Ia memang sangat lelah hari ini, dengan mata yang sudah tertutup rapat Air ternyata masih sempat berucap meski dengan suara serak...


Jangan di lepas, gue gak bisa tidur tanpa megang apapun!


****


Pukul delapan pagi keduanya sudah kembali bersiap untuk pulang, Bunda yang berniat menjemput pun lagi-lagi di tolak oleh Air, entah kenapa ia tak ada siapapun di sisi gadis itu saat ini.


Hujan hanya butuh dirinya, itulah yang terbersit dalam otak pemuda itu.


"Yuk, pulang" ajaknya setelah membereskan administrasi dan mengambil sisa obat.


"Hem, Ayo" sahut Hujan yang sedari tadi sudah menunggu duduk di tepi ranjang.


Air mengulurkan tangannya agar gadis itu berpegangan saat turun.


"Hati-hati"


Hujan hanya tersenyum, ia kadang masih aneh dengan sikap Air yang sering berubah sesuka hatinya tanpa kenal waktu dan tempat.


Air merangkul bahu Hujan dalam dekapannya, kedua Insan yang sangat serasi rupanya itu menjadi pusat perhatian seisi rumah sakit, banyak yang berbisik tersenyum bahkan ada yang tak berkedip melihat mereka.


"Gue malu, Ay" bisik Hujan.


"Cih, jalan sama cowok ganteng kok malu!" dengusnya kesal.


"Ay, ngomong-ngomong, motor Lo gimana? bukan masih di minimarket?" tanya Hujan.


"Udah dibawa pulang sama Asistennya papa" jawab Air santai.


Bukan hal baru bagi dirinya meninggalkan motornya begitu saja di jalan atau di tempat-tempat lainnya.


Jadi tak heran jika motor besar Ay memiliki banyak kunci cadangan dirumah atau di kantor.


"Enak banget ya jadi Lo" gumam Hujan.


"Kenapa?, bukannya Lo juga sebentar lagi jadi bagian dari gue" ujar Air sambil fokus ke jalan raya setelah meninggal kan area rumah sakit.


"Masih belum percaya gue bakal nikah sama Lo" Hujan menyandarkan kepalanya, nafasnya berhembus teratur meski otaknya kini sedang begitu banyak memikirkan banyak hal.


"Gue boleh minta sesuatu, Ay?" pinta Hujan.


Air yang reflek menoleh Langsung mengernyitkan dahinya saat kedua mata mereka saling bertemu.


"Mau apa? gue akan kasih semampu gue yang gue bisa buat Lo" jawab Air.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Kita ziarah dulu ya ke makam ibu sama ayah!


♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️


Minta restu dulu ya, Kak..


Biar gak kesurupan pas ijab kabul 🤪🤪🤪🤪


Like komen nya yuk ramai kan


buat yang komen di bab sebelumnya makasih banyak.. teteh udah baca semua,🙏🙏🙏