Suami Dadakan

Suami Dadakan
extara bab 105


🌻🌻🌻🌻


Bumi melangkah keluar dari kamar sang kakak dengan membawa banyak tanya dalam benaknya.


Tak ada jawaban yang ia dapatkan dari semua perkataan Air yang bagai teka-teki, Pemuda yang begitu mirip wajah dan tubuhnya itu seperti memberi ia peringatan yang ia sendiri belum mengerti maksudnya.


Tangan panjang Bumi meraih ponselnya di atas nakas untuk menghubungi Kahyangan, hubungan yang memang baru terjalin beberapa hari mengharuskan nya untuk lebih mengenal sosok gadis penguasa hatinya itu.


Senyum terukir di sudut bibirnya saat nama Yayang tertera di layar ponselnya.


*Yayang


[ Bu, aku akan pulang lusa nanti ]


Satu notif pesan segera ia buka kemudian dibacanya dengan seksama, setelah yakin apa yang ia lihat kini jarinya langsung mengetik pesan balasan untuk gadisnya.


*Bumi


[ Aku akan menjemputmu kesana, kirim alamat lengkapnya Sekarang ]


Tak sampai satu menit Kahyangan kembali membalas pesannya, Bumi nampak berfikir sejenak dimana tepatnya letak alamat yang di berikan Kahyangan.


"Lumayan jauh juga dari sini" gumamnya.


*Bumi


[ Baiklah, aku akan berangkat pagi dari sini ]


Keduanya saling bertukar pesan sampai larut malam, kebiasaan Bumi kini berubah drastis.


Jika dulu ia selalu memegang sebuah kalung sebelum memejamkan matanya, berbeda dengan malam-malam terakhirnya saat ini yang selalu memandangi wajah cantik sang pemilik kalung.


" Aku merindukanmu, Yang..."


******


Berbeda tempat, yaitu di lantai bawah ruang tengah kini ada pasangan kekasih yang baru saja pulang malam malam di luar.


Ada Langit dan Cahaya yang duduk berdampingan di sofa depan TV.


"Kamu istirahat duluan sana" kata Langit sambil mengelus kepala sang kekasih.


"Nanti aja, besok Abang mau nyusulin papa ya?" pertanyaan yang sudah tiga kali di tanyakan oleh si bungsu.


"Iya, Yang, tapi kalau udah beres langsung pulang kok" jelas Langit, ia tahu saat ini gadisnya sedang merajuk padanya.


" Ngapain aja disana?"


"Kerja dong, masa iya tidur, dek" jawabnya di sela gelak tawa.


"Kan ada papa, ngapain juga Abang harus ikut kesana juga" Keluhnya lagi, ia masih belum rela sering di tinggalkan, pekerjaan Langit yang begitu menumpuk setiap hari membuat keduanya jarang bertemu jika bukan saat sarapan atau makan malam dirumah.


Langit menjelaskan semua yang akan dilakukannya esok hari di luar kota bersama Reza dalam urusan pekerjaan. Ia akan memimpin rapat untuk pertama kalinya dengan jejeran para pengusaha dalam dan luar negeri, Ilmu yang ia dapat selama menjadi mahasiswa terbaik akan di perhitungkan di depan banyak orang termasuk calon mertuanya.


"Doakan Abang agar esok semua berjalan lancar tanpa kurang satu apapun" pinta Langit pada Cahaya.


Ia mencium berkali-kali pucuk kepala si Bungsu agar esok ia tak terlalu merindukan gadis kesayangannya itu.


"Aku selalu mendoakan Abang, tapi doaku yang paling utama adalah Abang bisa menjaga mata dan hati Abang pada perempuan lain di luar sana, bukan aku tak percaya, tapi....."


Cahaya menarik nafasnya dalam-dalam setelah ia memotong ucapannya sendiri, dadanya menjadi sedikit sesak namun ia mencoba untuk bersikap sebiasa mungkin.


"Tapi apa?, Abang selama ini selalu menjaga hati dan pandangan Abang, Dek" jawab Langit meyakinkan.


"Tapi.... aku kurang percaya dengan diriku sendiri, Bang. Aku sadar kalau aku hanya. gadis penyakitan yang berharap selalu ada di sisimu disisa hidupku"


.


.


.


.


.


.


.


.


Berhenti berbicara seperti itu lagi.. atau Abang akan pergi meninggalkan mu!


🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥


Siapa yang naro bawang sih..


ko bau 🤮🤮


Eh salah.. Kok sedih maksud nya 😭😭😭


Like komen nya yuk ramai kan ❤️