
🌻🌻🌻🌻
Air melajukan motor besarnya dengan kecepatan tinggi membelah jalan raya yang ramai lancar di tengah kota, pemuda tampan itu menarik gas Motornya kuat-kuat agar bisa cepat sampai di rumahnya. Rasa lengket di tubuhnya membuat ia sungguh merasa tak nyaman.
Motor ia parkir kan di area khusus keluarganya. Dilihatnya mobil sport sang adik pertanda Bumi sudah lebih dulu sampai dirumah.
Hanya butuh waktu lima menit akhirnya ia sampai di depan pintu apartemen.
"Maaaaaah....mama kakak" panggilnya seperti biasa.
"Kemana sih, sepi banget" gumamnya sambil terus berjalan ke arah tangga, kaki panjangnya melangkahi satu persatu anak tangga hingga ujung.
Ia berhenti tepat di depan kamar kembaran pertamanya.
Kangen Yayang.
Sadar akan suara hatinya sendiri ia langsung tersenyum kecil, merutuki kekonyolannya yang sudah menyebut nama gadis kesayangan adiknya itu.
Langkah ia lanjutkan menuju kamarnya sendiri. Melempar tas punggungnya ke atas ranjang kemudian masuk kedalam kamar mandi.
Air membuka seluruh pakaiannya, tubuh tinggi putih polosnya kini sudah berada di bawah kucuran air shower yang begitu dingin tapi ia sangat menikmatinya sambil memikirkan banyak hal termasuk...
Nikah..
Beneran gue nikah?
Ish.. gue beruntung apa sial kalo begini!
kenapa harus nikah karena salah paham?
Males banget gue di bikin lecet sama si Hujan deres.
Air terus saja bergumam sembari memegang miliknya yang sedikit menegang 🤭🤤🤦..
*****
Tok tok tok
pemuda tampan yang masih terlilit handuk sebatas pinggang itu langsung menoleh kearah pintu saat mendengar ketukan pintu.
"Masuk" sahutnya sambil membuka pintu lemari untuk mengambil kaos oblong rumahan.
CEKLEK
Bumi membuka pintu dengan pelan, menyembulkan kepalanya untuk mencari keberadaan sang kakak.
"Ada apa?" tanya si sulung pada adiknya yang belum juga masuk.
"kakak dari mana, gak kuliah?" Bumi balik bertanya, sambil berjalan mendekat kemudian duduk di kursi meja belajar kakaknya.
"Enggak" jawabnya singkat.
"Tumben ngilang gak ada kabar, aku tanya Yayang juga dia gak tau" ucap Bumi sambil memainkan buku yang tersusun rapih.
"Hari ini Of di room chat"
Usai memakai pakaian lengkapnya, Air duduk di tepi ranjang berhadapan dengan Bumi, ia meraih ponselnya di dalam tas yang tadi ia lempar.
"Ada kejadian apa tadi pagi?, semua tanya aku" tanya Bumi lagi, tapi belum juga di Jawab karna Air terlihat fokus pada ponselnya.
"Kak...."
"Hah, Apa?" Air sedikit terkejut saat ia panggil lumayan keras oleh Bumi.
"Tadi pagi ada drama apa di parkiran, kakak di seret sama cewe yang satu fakultas kedokteran itu?" Bumi mengulang pertanyaannya namun kini lebih di perjelas.
"Hem, iya"
Keduanya kembali terdiam beberapa saat sampai akhirnya Air menanyakan sesuatu pada Bumi.
"Yayang pulang kampung?"
Pemuda pendiam itu mengangguk, wajahnya berubah sendu kemudian sedikit menunduk.
"Neneknya meninggal, dan dia bakal beberapa hari disana?"
Bumi mengernyitkan dahinya, tatapan sedikit tajam ia berikan pada sang kakak.
"Sedetail itu dia kasih tau kakak?" tanya Bumi.
Air mendongakan wajahnya untuk melihat Bumi yang berbicara sedikit ketus padanya, Perubahan sikap nada bicara dan garis wajah sang adik membuat ia tergelak.
"Iyalah, biar anak anak jalanan gak nyariin dia, nanti kan aku bisa kasih alesan kenapa Yayang gak bisa dateng, sama sekalian buat cari catering di tempat lain juga"
Bumi tersenyum tipis, ia lupa akan kedekatan gadisnya dengan kakaknya itu hanya sebatas teman untuk para adik-adik asuh mereka di jalan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Jangan terlalu cemburu, kalau aku mau mungkin udah dari dulu. tapi........?"
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕♥️
Tapi apa?
Hujan lebih menggoda kah? 🤭🤭🤭🤭
Like komen nya yuk ramai kan ❤️