
π»π»π»π»
"Sampai bertemu di pertemuan selanjutnya"
Reza dan Langit bangkit dari duduknya kemudian bergegas keluar dari ruangan rapat.
Pria itu menepuk bahu anak angkatnya saat berjalan menuju ruangan kerja.
Reza sungguh sangat bangga dan puas dengan hasil presentasi hari ini yang di tunjukan oleh Langit.
"Kamu pulang aja duluan, Om masih banyak kerjaan" ucap Reza saat keduanya sudah duduk di sofa.
"Apa gak ada yang mau Abang bantuin?" Langit menawarkan diri.
"Bantu jagain adek aja sana, Minggu lalu kayanya ada temennya mau bikin acara jadi kamu ajak dia aja" ujar Reza sambil mengendurkan tali dasinya.
"Iya, Om, aku pamit pulang"
"Ya, hati-hati di jalan" Reza menyerahkan kunci mobilnya pada Langit.
***
Pemuda tampan itu melangkah santai menuju lift khusus yang akan langsung membawanya ke area parkiran mobil VVIP.
Langit membawa kereta besi mewah milik Reza dengan kecepatan sedang menuju apartemen.
Sampai disana ia langsung masuk dan mencari pujaan hatinya yang ternyata sedang berada di kamar Melisa.
Tok..tok..tok..
Langit mengetuk pintu kamar orang tua angkatnya sedikit keras.
CEKLEK
"Iya, Bang" sahut Cahaya sambil membuka pintu.
"Abang udah pulang?" tanya Melisa dari arah dalam kamar, Wanita yang masih saja cantik di usianya yang tak lagi muda itu sedang membereskan barang-barangnya.
"Udah, Bun"
Cahaya menarik tangan Langit masuk kedalam kamar, ia ingin menunjukan sesuatu pada kekasihnya.
"Aku kalau pakai ini cantik gak?"
"Apa gak terlalu terbuka, itu bahu kamu nanti kelihatan apalagi kalau di pakai malam pasti dingin, yank"
Melisa mengulum senyum, ia sangat gemas dengan dua anaknya itu.
Langit benar-benar sabar dan penuh perhatian pada si bungsu yang manjanya luar biasa.
"Tapi aku suka, Bang"
"Ya udah, tapi harus pakai luaran lagi ya" Pinta Langit.
"Iya, Bun. Kenapa?" anak angkatnya itu balik bertanya.
Melisa menggelengkan kepalanya, dua hari rasanya begitu cepat jika Langit ada dirumah, beda halnya jika anak itu sedang berada diluar kota waktu dua bulan serasa bertahun-tahun bagi Melisa yang rundung rindu
.
.
.
"Kata papa kamu ada acara sama temen-temen kamu?" tanya Langit pada Cahaya yang bergelayut manja di lengannya.
Gadis itu hanya mengangguk sambil terus berjalan beriringan menuju dapur karna Langit mengeluh lapar dan ingin membuat sesuatu bersama Cahaya.
"Abang mau buat apa sih, Buna kan udah masak" ucap Chaca saat melihat Langit sudah siap bertempur di dapur dengan menggulung tangan bajunya sampai siku.
"Apa aja yang penting enak dan kenyang, apalagi kalau bikinnya di temenin kamu, pasti lebih enak" goda Langit dengan senyum yang selalu membuat Cahaya salah tingkah.
"Abang jangan suka senyum-senyum, jantung akunya gak kuat"
Langit malah tertawa mendengar ucapan Sang kekasih dengan nada manjanya itu.
Keduanya tak butuh apapun, selama tangan mereka saling menggenggam dan tatapan mata mereka saling bertemu itu sudah seakan dunia milik keduanya.
"Wah, kalau gitu Abang diem aja deh biar kamu sehat sehat terus ya yank"
"Aku sehat, Bang."
"Harus! kamu harus sehat karna Abang mau kamu nanti melahirkan banyak anak untuk Abang" kekeh Langit sambil memeluk Cahaya.
"Abang mau berapa?" goda Si bungsu
"Abang mau sebelas, hahaha" ...
Sehat ya cantik...
Abang gak akan bisa gak ada kamu π₯Ίπ₯Ί
Tapi mak othor mau kejam dikit sama kamu nanti gak apa-apa ya sayang πππ
.
.
Kabooooooooooooorrrr
Like komen nya yuk ramai kan