
🌻🌻🌻🌻
Maaf.. Abang belum bisa bahagiain kamu, Cha...
Doakan Abang bisa mempertahankanmu hingga akhir
Tiap bait kalimat itu tak pernah bosan ia ucapkan dalam hatinya, tak banyak inginnya selama ini cukup bisa bersama Cahaya saja itu sudah hal terindah baginya walau harus bersembunyi di balik punggung Reza.
Memainkan drama menjadi Kakak paling besar di hadapan orang tua angkatnya, namun ia juga harus menjadi kekasih hati paling sabar di hadapan Cahaya.
Jangan tanyakan restu dari dua adik jagoannya, tentu Langit sudah mendapat empat jempol sekaligus dari mereka, walau kadang ia harus kesal karna Air sering kali menggodanya didepan Reza atau Melisa, mungkin hanya Bumi yang membuat dia selalu berada di zona aman selama ini.
"Bang, kita cari jajanan ya, aku lagi kepengen ngemil" bisik Cahaya.
"Iya, kamu mau apa?" Langit berkata sambil mengusap tangan Cahaya yang masih melingkar di perutnya.
"Aku mau.... mau.... mau apa ya?" Gadis cantik dengan helm merah mudanya itu masih nampak berfikir.
"hayo.. mau apa?, bingung kan" kekeh Langit.
motor berhenti di sebuah lampu merah, Cahaya terus mengedarkan pandangannya mencari apa yang sekiranya ingin ia makan saat ini.
"Aku mau itu aja!" tunjuknya kemudian, tepat saat lampu berubah menjadi hijau.
Langit kembali menjalankan motor maticnya menuju tempat yang tadi di tunjuk Cahaya.
"Hati-hati turunnya"
Cahaya terkekeh dengan perhatian perhatian kecil dari Langit yang tak pernah berubah sampai sekarang.
"Aku udah gede, Bang"
"Bukan masalah gede atau kecil yank. tapi Abang gak mau kamu kenapa kenapa" ujarnya sambil melepas helm dari kepala Cahaya, lalu merapihkan rambutnya yang sedikit berantakan.
"Ya udah yuk masuk"
Hal yang paling keduanya nanti adalah momen seperti ini, melakukan dan mengungkap perasaan mereka secara terbuka tanpa takut Reza berdehem keras ke arah mereka.
Tangan keduanya saling bertautan, berjalan masuk kedalam kedai sebuah tempat makan yang menyajikan banyak menu khas jajanan malam
"Pesen apa yank?"
Cahaya belum menjawab, ia masih sibuk melihat lihat kertas menu.
"Ini aja deh" tunjuknya pada sebuah gambar yang menurutnya menarik.
"Dua ya mbak" pesan Langit pada seorang wanita yang sedari tadi menunggu pesanan mereka.
Seperti biasa, Langit selalu memainkan tangan Cahaya Sambil menunggu makanan datang, tapi kali ini tentu di atas meja bukan di bawah meja seperti yang ia lakukan tadi siang
Gadis itu menautkan kedua alisnya bingung.
"Abang mau kemana?" Cahaya balik bertanya, mendadak jantungnya berdetak kencang.
"Gak kemana-mana, kan Abang cuma tanya" Langit tersenyum, Ia mulai sadar akan perubahan raut wajah gadis di hadapannya itu.
"Itu tadi, Abang mau kuliah dimana?"
"Tinggal hitungan Bulan Abang lulus, kalo kalian ya udah pasti masih disana, tapi kan Abang harus keluar"
Cahaya terdiam, siap tak siap ia nanti harus menjalani hari-harinya selama tiga tahun kedepan tanpa Langit.
"Adek gak sadar kalau sebentar lagi Abang keluar ya?" lirihnya sedih dengan menundukkan wajahnya.
"Tapi Abang masih disini kan?, gak akan keluar kota?" tanya Cahaya serius.
Langit melempar senyum manisnya.
"Kalau Abang keluar negeri gimana?"
"Abang minta waktu buat Abang bisa bawa kamu suatu hari nanti"
"Papamu tantangan terbesar buat Abang, dan Abang akan lakuin apapun untuk itu"
Keduanya terdiam tanpa berkata bahkan Cahaya tak sedikit pun bisa menjawab.
.
.
.
.
" Aku gak sanggup gak ada Abang!
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥***
Si Reza emang kudu di pelintir belalainya..
Abang Langit bikin Mak othor melow.
Jangan jauh2 kerumah Mak othor aja sini kita ngeliwet 😝😝😝😝
like komennya yuk ramaikan