
π»π»π»
Sebulan berlalu, kini usia kandungan Melisa sudah genap delapan bulan, tinggal hitungan hari buah hati mereka akan lahir kedunia.
Jangan tanyakan bagaimana hubungan mereka, sudah pasti setiap ada air mata beberapa detik kemudian langsung berganti dengan gelak tawa.
Melisa semakin posesif ia semakin bergantung pada Reza, bobot tubuhnya yang tiga kali lipat membuatnya sering tak percaya diri, rasa takut kehilangan dan di tinggalkan selalu menghantuinya.
"Pokonya, aku ikut" rengekan itu hampir setiap pagi selalu di dengar Reza, pria yang semakin tampan itu tak pernah masalah dengan ke ikut sertaan istrinya ke kantor, hanya saja ia sangat khawatir dengan kondisi KHUMAIRAHnya.
"Kamu jangan cape cape, Ra"
Walau itu jawabannya, tetap saja Melisa akan ikut ke kantor.
"Diem disini ya, Jangan kemana kemana, telepon Viana kalau mau apa apa, Ok" pesan Reza saat ingin meninggalkannya untuk urusan meeting.
"Iya, tapi jangan lama-lama"
"Iya, sayang" sahutnya sambil setelah mencium kening istri tercintanya.
Tak ada yang ia lakukan selama di ruangan kerja suaminya, hanya duduk santai sambil menonton tv atau membaca majalah, tidur siang di kamar ataupun makan apa saja yang ia inginkan, tak pernah sekalipun ia mengganggu pekerjaan Reza.
Asal suaminya pulang tepat waktu ia akan diam menunggu dengan sabar, ia senang melakukannya, tempat ternyaman nya adalah suaminya sendiri.
"Aku ada rapat yang di undur sore nanti, mau jalan jalan gak?" tanya Reza setelah kembali.
"Mau, yeeeee" ibu hamil berpipi bulat itu bersorak gembira.
"Mau kemana?"
"Ke Grand mall, ada yang mau aku beli" jawabnya malu malu.
"Tumben!" sahut Reza, bingung.
Meski menikah setahun lamanya Reza hafal betul berapa kali sang istri minta sesuatu di luar rasa ngidamnya.
Melisa bukan type gadis yang senang berbelanja pada umumnya.
"Aku ada liat jepit rambut bagus banget , boleh kan?" pintanya pelan dan ragu.
"Boleh, sayang. Pabriknya aja kalau kamu mau aku beliin, haha" kekehnya saat menjawab yang langsung mendapat cubitan kecil namun menyakitkan di perutnya.
"Gak lucu!" sahut Melisa,
"Aku emang gak lucu, tapi aku ganteng maksimal" balasnya dengan percaya diri.
*****
"Mana, Ra? udah ketemu belum?" tanya Reza yang terus mengekor di belakang istrinya dengan sabar mengikuti langkah pelan Melisa berkeliling Grand Mall.
"Bukan yang ini, aku liatnya putih tapi banyaknya yang silver"
"Tanya dong, dari pada muter muter nanti kamu cape" kata Reza yang sudah berdiri sejajar dengan Melisa.
"Malu" jawabnya sambil mengulum senyum.
Reza yang gemas akhirnya mencium pipi istrinya sekilas, namun mampu membuat Melisa terkejut, karna Reza melakukannya di tempat umum yang banyak orang berlalu lalang.
"Mas, ih!"
Reza hanya mengaduh kesakitan saat lengannya di pukul, jeritan pura pura hanya untuk menarik perhatian.
"Iya, pak ada yang bisa saya bantu?" tanyanya saat sudah berdiri di hadapan Reza dan Melisa.
"Ayo, kamu mau cari apa?" kata Reza agar istrinya mengutarakan maunya langsung.
"Hem, aku mau ini"
Melisa mengunjukkan layar ponselnya pada wanita tersebut, ia pun tak tahu apa namanya.
"Ah, ini. tunggu saya ambilkan" ucapnya dengan senyum ramah kemudian pergi.
"Tuhkan, aku bilang juga apa" goda Reza.
"Iya, iya.. aku kan malu" sungut Melisa kesal.
Selang beberapa menit wanita itu kembali dengan kotak kaca di tangannya, ia langsung memberikan barang tersebut kepada Melisa.
"Ini limited edition, hanya yang bertanya yang kami ambilkan" seloroh wanita itu dengan sopan.
"Bener itu yang kamu mau?" tanya Reza memastikan.
Istrinya mengangguk berkali-kali, dengan mata terus menatap benda ditangannya.
"Ya udah, ambil satu" kata Reza sambil memberikan satu kartu pada wanita tersebut.
"Apa sih?" Reza yang penasaran akhirnya memperhatikan benda itu dengan seksama.
"Sepasang jepit rambut?"
"Iya, baguskan?" tanya Melisa
"Bagus, sini aku pake in"
"Gak, aku gak mau pake aku cuma mau liat aja" Jawabnya sambil menyembunyikan barang itu di belakang punggungnya.
"Permisi, ini kartu dan struknya"
Reza meraihnya, memasukkan kembali kartu kedalam dompet lalu melihat struk yang diberikan wanita tadi.
"Empat juta tiga ratus ribu rupiah!" ucapnya.
"Berapa, Mas?" tanya Melisa.
"Hem, berapa ya tadi, udah aku buang struknya" jawab Reza.
"Mahal ya?, kan tadi bilangnya ini limited edition"
"Enggak, itu sama harganya kaya sepiring Somay ko' hahaha'' kekeh Reza sambil merangkul bahu istrinya.
π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯
Fix somay sultan 4,3 juta..
itu adonannya di bikin dari apa bang?π€
Like komennya yuk ramaikan
ini bab ke 4 loh hari iniπππ