Suami Dadakan

Suami Dadakan
extra bab 183


🌻🌻🌻🌻🌻


Melisa kembali keluar dari dalam ruangan yang baru saja satu langkah ia masuki.


Matanya langsung merah dan berkaca-kaca dengan tangan dingin serta gemetar.


"Ada apa?" tanya Reza bingung dengan sikap istrinya yang kembali murung.


"Aku gak sanggup liatnya, Mas. kita pulang aja, aku akan menjadi orang paling bodoh yang akan pura-pura lupa dengan semua yang terjadi" ucap Melisa sambil meremat kain baju bagian dadanya yang seakan begitu sesak.


.


.


Wanita itu kembali terluka saat melihat anak angkat yang begitu ia sayangi sedang menyuapi makanan kepada seorang wanita yang terbaring lemah, hal yang biasanya Langit lakukan juga padanya jika ia merasa kurang enak badan.


Ya... Reza dan Melisa kini memang baru sampai di kota dimana wanita yang melahirkan Langit dirawat.


Negoisasi panjang selama tiga hari akhirnya membawa mereka datang kemari.


Melisa tak mau menunggu anaknya itu pulang, ia ingin menjemput Langit untuk pulang dengan segera.


Ia masih egois mempertahankan miliknya, anak kesayangannya, calon menantu dari putrinya.


Langit segalanya bagi Melisa.


"Udah dateng jauh-jauh, pake drama bohong sama adek masa mau pulang," ucap Reza sambil meraih tangan sang istri.


"Sakit, Mas"


Reza membawa tubuh sang istri kedalam pelukannya, sambil terus menenangakan jika semua baik-baik saja, tak ada yang berubah dalam kehidupan mereka termasuk Langit.


.


.


Melisa menghapus air matanya, berkali-kali ia menarik nafas dan membuangnya secara kasar.


Meyakinkan dirinya sendiri jika ia masih punya tempat di hati anak angkatnya itu.


CEKLEK


Keduanya masuk perlahan, namun tetap saja membuat Langit cepet menoleh padanya.


"Buna" serunya kaget dengan kedatangan Melisa yang tiba-tiba.


"Maaf, Bun. Maafin Abang" jawab Langit yang ikut sedih melihat Melisa terisak, bagaimanapun ini pertama kalinya ia pergi tanpa mengabari lebih jelas pada Melisa.


Melisa mengurai pelukannya, ia melirik ke arah seorang wanita bertubuh kurus, dan pucat.


Tatapannya begitu sendu bahkan Melisa melihat ia menghapus air matanya sendiri.


"Buna, ini ibunya Abang" ucap Langit pelan, ia mengatakannya setelah Reza mengangguk kan kepala.


"Buna tahu" jawab Melisa.


"Selamat siang nyonya" sapa Diana, ibu kandung Langit.


"Ya, selamat siang juga" Melisa menjawab sapaan Diana dengan perasaan bingung.


Langit membawa Melisa agar lebih dekat dengan ibunya, ia ingin dua Wanita ini bisa sama-sama menjaganya kelak.


"Abang tetep sayang Buna, Buna yang terbalik buat Abang" Langit sadar dengan sikap dingin Melisa, ia tahu Buna nya sedang merasa tak nyaman.


"Terimakasih sudah merawat Langit, menyayanginya Dengan begitu tulus, terimakasih banyak" ucap Diana sambil terisak lirih.


Bohong jika hatinya tak pedih saat melihat anak yang ia lahirkan dan ia urus selama tiga tahun ternyata lebih menyayangi wanita yang kini masih dipeluknya, ingin sekali Diana protes dan mengatakan jika semua ini tak adil tapi ia cukup sadar diri.


"Kalian bisa menyayangi Abang dan menjaganya bersama, cepat sehat agar bisa kembali ya" ujar Reza yang berdiri di sisi istrinya.


"Ya, aku akan selalu kuat jika bersama anakku" jawab Diana, matanya menatap Langit dengan penuh kasih sayang.


Melisa yang sadar hal itu mengepal kesal, rasa takutnya kembali muncul. Ia belum siap di duakan.


.


.


.


.


Abang pulang hari ini ya, bareng Buna?


🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉***


Nurut ya bang sama calon mertua 🤭🤭🤭


Like komen nya yuk ramai kan ♥️