
🌻🌻🌻🌻
" Ya ampun, kakak lupa! masih di luar, Pah"
Air langsung terlonjak dari duduknya, bergegas keluar rumah kembali menemui Hujan.
"Lo lagi ngapain?" tanya Air saat melihat gadis yang di bawanya diam berdiri dekat lampu hias yang tadi ia tabrak.
"Lo gak liat gue lagi ngapain!" sentaknya kesal.
"Kenapa gak masuk?, malah berdiri disitu kaya orang minta sumbangan!" oceh Air.
"Lo gak ngajak gue masuk, Ay"
Air mengernyitkan dahinya, otaknya sedang memutar kejadian beberapa menit lalu.
"Emang gue gak ngajak ya?" tanyanya sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Hujan memutar bola matanya malas, ingin sekali ia memukul kepala pemuda di hadapannya itu.
"Ya udah, sekarang gue ajak Lo masuk nih, jangan marah ya" godanya sambil mengulurkan tangan.
" Gak mungkin gue marah-marah disini" ucap Hujan
"Kenapa?"
"Takut gak bisa pulang, ini dimana gue gak tau. Rumah nya gede gede banget, apalagi pagarnya"
Air terkekeh sembari menarik tangan Hujan.
"Tar gue beliin yang kaya gini buat Lo"
"Beneran, Ay?" tanya Hujan antusias.
"Iya asal Lo yang ngepel tiap hari, ok!"
Hujan langsung menjewer telinga Air sampai pemuda itu merintih kesakitan.
"Perih, Jan"
"Biar adil kiri sama yang kanan" jawabnya sambil mencebikkan bibir.
"Cih, sial banget sih dapet calon istri begini" gumamnya sambil menggandeng tangan Hujan masuk kedalam rumah kakek neneknya.
.
.
.
Langkah keduanya langsung berhenti tepat di ruang tamu dimana Seluruh keluarga berkumpul kecuali Melisa yang memilih beristirahat di kamar.
"Ini Hujan, Pah"
"Duduk" Titah Reza.
Semua yang ada disana memang belum tahu tentang masalah yang dialami si sulung termasuk mama dan papa jadi sangat wajar jika pasangan baya itu sedikit terkejut saat Cucu Kesayangannya itu datang dengan seorang gadis.
"Siapa Hujan?" tanya papa menoleh kearah anaknya, Reza.
"Calon istri!" ucap semuanya secara bersamaan. Semua mata tertuju pada pasangan yang sudah terlihat berantakan itu.
"Maksudnya apa?" tanya Mama.
"Aku akan nikahkan mereka secepatnya, aku harap mama dan papa merestui" jelas Reza pada kedua orangtuanya.
"Apa yang sudah kakak lakukan?" Tebak papa, perasaanya sungguh takut kali ini, mama yang terlihat gelisah meremat tangan Suaminya begitu erat.
"Mereka tak melakukan apapun, tak ada yang perlu di khawatirkan"
Papa dana Mama saling pandang, tersirat kekecewaan dari kedua manik mata pasangan baya itu, cucu kesayangan mereka yang belum genap berusia dua puluh tahun harus menikah muda dengan seorang gadis yang entah siapa dan dari mana asalnya.
"Kamu yakin?" tanya papa pada Reza yang di Jawab anggukan.
Papa menghela nafasnya, ia tahu jika anaknya pasti sudah memperhitungkan masalah ini dengan baik.
Reza tak mungkin menyetujui jika gadis yang di bawa si sulung bukan dari keluarga baik.
"Baiklah, Oppa dan omma hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian, siapkan semua!" titah papa yang langsung membuat semuanya mengangguk setuju meski dua cucu yang lain merasa sangat penasaran.
"Nanti kami akan ke rumahmu untuk membicarakan pernikahan kalian" ucap Reza yang duduk dihadapan Anak dan calon menantunya itu.
"Iya, Om. nanti aku bilang Bunda" jawab Hujan yang sedari tadi menunduk.
"Kak, antar Hujan pulang, Pakai mobil ini sudah malam" titah Reza Lagi.
"Iya, Pah" sahutnya dengan tersenyum simpul.
Air langsung bangkit dari duduknya tanpa melepas genggamannya dari tangan Hujan, Ia mengambil kunci mobil yang di sodorkan Langit padanya, tak lupa iapun berbisik di telinga si bungsu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sorry ya dek.. harap antri !!!!
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Sesuai jalur lahir ya kak 🤭🤭🤭
like komennya yuk ramaikan ♥️