Suami Dadakan

Suami Dadakan
104


🌻🌻🌻


Kini keduanya berbaring saling memeluk dibawah selimut setelah Melisa kembali di bawa keruang inap pasien usai pemeriksaan USG. Reza mendekap istrinya dalam dada seakan tak ingin terpisah, ranjang berukuran besar itu cukup untuk mereka terlelap malam ini.


Benar kata dokter Caca, aku wanita paling beruntung di dunia ini. aku memiliki suami dan keluarga yang menyayangiku mana mungkin papa akan membuangku, cukup ibu yang tega berbuat seperti itu..


ibu... ibu dimana?


tak ingat kah padaku?


tak ingin kah ibu menimang cucu mu kelak.


Aku merindukanmu, Bu!


Melisa yang terbangun tengah malam, kembali menitikan air mata dalam dekapan suaminya.


Ia sedang mengingat dimana wanita yang melahirkan nya itu berada kini, semenjak menikah ia sama sekali tak tahu kabar dari ibunya, bertanya pada paman pun hasilnya hanya gelengan kepala.


Melisa tak pernah membenci ibunya, meski sedari kecil tak pernah mendapat kasih sayang. Ia di cap sebagai anak pembawa sial karna ayahnya meninggal bertepatan dengan kelahirannya ke dunia.


Reza mendengar sayup-sayup isakan kecil yang menggelitk telinganya.


"Ra, kamu nangis?" tanya Reza yang mengerjapkan matanya.


"Ibu, Aku kangen ibu" jawabnya pelan, namun Melisa langsung menenggelamkan wajahnya di dada suaminya.


"Sayang, jangan fikirkan itu, ibu baik baik saja" ucap Reza mencoba menenangkan, ia usap kembali punggung Melisa.


"Tapi aku kangen, aku pengen ketemu, bagaimanapun ia tetap ibuku, Mas" kini bukan lagi isakan yang terdengar, melainkan tangis yang tersedu-sedu.


Reza merasa sangat kasihan namun tak bisa berbuat apa-apa, ia hanya bisa menenangkan Melisa dalam dekapannya.


"Kamu tenang, Nanti kita cari tahu keberadaan ibu, ya. sekarang kamu tidur lagi kamu baru baikan, Ra" kata Reza setelah melirik jam di dinding ternyata baru pukul dua pagi.


Melisa hanya mengangguk, dan Reza menyeka sisa air mata yang masih tersisa di wajah pucat istrinya.


*******


"Pagi, cantik" sapa Reza pada istrinya setelah kedua mata yang sembab itu terbuka.


"Jam berapa?" tanyanya langsung, ia sedikit terkejut saat melihat suaminya duduk di sofa dengan laptop di pangkuannya.


"Baru jam tujuh" kata Reza yang langsung menghampiri kemudian duduk ditepi ranjang.


"Mas Reza gak ke kantor?"


"Aku bawa kerjaan kesini," jawabnya lalu mencium kening Melisa.


CEKLEK.


Reza menoleh, ternyata mama dan Ameera yang datang.


"Nak," sapa mama sambil terus berjalan mendekat.


"Kakak," Ameera pun ikut menyapa, gadis remaja itu langsung memeluk kakak iparnya.


"Bagaimana, baikan?" tanya mama.


"Iya, Mah" jawab Melisa dengan suara serak.


"Mama bawa makanan, kalian sarapan dulu ya"


" Aku nanti aja, Mah, biar aku suapi Melisa saja" kata Reza mulai membuka bungkusan di atas nakas yang diletakkan mama tadi saat datang.


"Mas reza juga harus makan, kita berdua ya"


"Sudah diperiksa lagi, Za?" tanya mama.


" Cuma semalam aja mah, USG pagi ini belum" jawab Reza yang mulai ikut menikmati sarapannya.


"Lalu bagaimana?"


"Hasilnya bagus ko,Mah. gada yang harus di khawatir kan"


"Syukurlah, mama dan papa hampir tak bisa tidur semalam memikirkan keadaan Melisa"


"Maaf, mah" akhirnya kata kata itu lolos dari bibir mungil Melisa.


"Kamu tak perlu minta maaf, yang paling penting mulai saat ini kamu harus lebih menjaga kesehatanmu, jangan terlalu banyak berfikir yang tidak terlalu penting,ok" pesan mama yang sudah duduk disisinya.


"Iya, Mah aku janji akan lebih hati-hati, aku akan menjaga diriku juga kandunganku"


"Pintar" kata Reza mengusap kepala istrinya.


"Ini juga salah mama, kalau mama tak menyuruhmu kerumah Desy, mungkin hal ini tidak akan terjadi. kamu pasti terlalu lelah kemarin" kata mama penuh penyesalan.


"Kamu ketemu Tante Desy?" tanya Reza serius.


"I..iya_ Mas" jawab Melisa terbata membuat Reza curiga.


"Suapan terakhir, ayo buka mulutmu" kata Reza.


"Habis, tinggal tunggu Caca datang"


" Selamat pagi"


Tiba-tiba dokter cantik itu datang, sudah lengkap dengan jas putih juga alat stetoskop di lehernya.


"Pagi, ca" jawab ketiganya berbarengan.


"Wah, udah sarapan nih, aku periksa dulu ya habis ini minum obat" kata Rissa yang sudah berdiri disisi ranjang.


Ia mulai memeriksa kondisi Melisa, sedang ada perawat yang mencatat apa yang Rissa katakan.


"Semua ok, tekanan darah masih tinggi tapi gak setinggi kemarin" ujar Rissa setelah usai memeriksa.


"Nanti ada suster yang akan bawa obat, di minum ya, Mel" titah si dokter cantik.


"Iya, dok. terimakasih" sahut Melisa.


Setelah Rissa keluar bersama suster, Reza pun izin keluar sebentar.


"Ra, aku keluar sebentar ya,"


"Kemana?" tanya Melisa.


"Cari cemilan sama Ameera"


"Ayo, dek. kita ke minimarket" ajak Reza pada adik kesayangannya.


"Yuk," Si bungsu pun mengiyakan dengan antusias.


🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥


babangku otewe jadi detektif DADAKAN 😂


like komennya yuk ramaikan ♥️♥️🤗