Suami Dadakan

Suami Dadakan
bab 171


🌻🌻🌻


Melisa..


PRAAAAAAAANG


Mama dan papa langsung menoleh kearah suara, terlihat Melisa sedang bersandar di sebuah meja hias sambil meremat ujung baju bagian dadanya, kini air mata sudah membanjiri wajah pucatnya


"Mel..." teriak mama yang langsung bangkit dari duduknya bersama papa.


Wanita paruh baya itu melangkah dengan hati hati karna banyak pecahan kaca terserak dilantai, serpihan dari sebuah guci berukuran sedang yang hancur tersenggol saat Melisa tak sengaja mendengar percakapan kedua mertuanya.


"Bi... bersihkan semua ini" teriak papa pada salah satu ART..


"Baik, tuan"


"Mel, sayang" ucap mama dengan deraian air mata, ia rengkuh tubuh sang menantu dalam pelukannya.


"Mama bilang apa tadi, mas Reza kemana?" tanya Melisa di sela isak tangis.


"Reza... " mama tak meneruskan kata-katanya.


"Kemana, mah?"


"Reza sedang bekerja, Mel" sahut papa sambil berjalan mendekat.


"Bohong!!!!" lirih Melisa dengan nada tercekat.


"Tadi aku denger, mama bilang mas Reza hilang" Melisa meronta ingin di lepaskan dalam pelukan mama.


"Sabar, sayang. Orang suruhan Papa sedang berusaha mencari" ujar mama mencoba menenangkan.


Melisa semakin histeris, tubuhnya lemas bagai tak bertulang saat mama membenarkan perkataannya, mana mungkin suami yang tadi pagi masih mengusap pipinya dengan begitu lembut kini hilang begitu saja tanpa ada satu orangpun yang tahu.


Dibantu oleh beberapa ART kini Melisa sudah dibawa ke dalam kamar, di baringkan di tengah tempat tidur sembari menunggu dokter Rissa datang memeriksanya.


"Biarkan si kembar di urus semua oleh para suster, kita fokus pada Melisa, mah" ujar papa sambil merangkul bahu istrinya.


"Iya, Pah, ya tuhan! bagaimana ini bisa terjadi" lirih mama pilu memikirkan nasib putra kesayangannya yang kini entah dimana keberadaannya.


"Sabar, mah. Mereka pasti bisa menemukan Reza" kata papa meyakinkan.


"Tapi itu desa kecil, Pah, di tengah pulau juga"


"Tolong percaya pada papa, mah"


Mama semakin terisak saat Melisa terus saja memanggil nama suaminya membuat siapapun yang mendengarnya pasti ikut merasakan bagaimana sedihnya kehilangan sosok yang teramat di cintai.


"Mas... pulang, ayo pulang!" gumam Melisa sambil meringkuk memeluk bantal yang biasanya dipakai oleh Reza.


"Papa lihat anak-anak dulu, mama jaga Melisa" ujar papa sebelum menemui ketiga cucunya yang sejak sore semakin rewel terutama Air.


"Mel, sayang, makan dulu ya, Ay sama cahaya kasihan" kata mama mengusap bahu menantunya yang masih beruraian air mata.


"Bawa kemari, mah. biar aku susui keduanya" kata Melisa yang mencoba bangun dari tidurnya.


"Tapi makan dulu ya, kamu belum makan"


Melisa hanya menggelengkan kepalanya, ia tak merasa lapar sama sekali saat ini.


"Air, mah, aku haus" pinta Melisa.


"Tunggu, mama ambilkan"


Dengan sigap mama langsung meraih gelas dan mengisinya dengan air putih hangat dari botol yang tersedia di atas nakas.


"Minum yang banyak, jangan sampai dehidrasi"


"Mama ambil si kembar dulu" ujarnya lagi sebelum mendatangi cucu-cucunya di kamar sebelah.


Melisa terus saja memijit pelipis dan kepalanya yang terasa sakit dan berat, matanya mulai buram saat menerima kedua anaknya dari tangan mama dan eyang.


"Satu-satu aja dulu, Mel" kata mama.


"Enggak, mah. langsung dua-duanya aja" sahut Melisa yang sudah siap menyodorkan kedua bongkahan wadah ASI alaminya.


Baby Ay yang menyecap dengan rakusnya akhirnya mulai merasa tenang setelah seharian terus saja menangis, sedangkan si bungsu hanya merengek sesekali karna badannya yang memang mendadak demam.


Mama terus saja menguatkan hati Melisa walau hatinya sendiri pun kini di rundung kesedihan, kehilangan anak yang selalu membuatnya bangga, Reza adalah sosok anak berhati lembut dan penuh kasih sayang.


Berkali-kali mama menghapus air mata Melisa yang turun tanpa henti, mata yang sudah memerah dan wajah yang sangat berantakan.


TOK TOK TOK..


"Iya, masuk" jawab mama.


"Malem, Tan, Mel" sapa dokter Rissa yang baru datang setelah di telepon secara mendadak oleh papa di masa cutinya.


"Maaf, Tante menyuruhmu kemari, nak"


"Gak apa-apa, aku juga lagi dirumah aja kok" jawab si dokter cantik yang empat hari lagi akan menjadi seorang pengantin itu


"Wah, montok banget ya, Mel"


"Iya, dok" jawabnya pelan.


Rissa yang sudah duduk disisi Melisa terus saja memperhatikan dua bayi yang sedang mengisi perutnya dengan ASI yang mengalir cukup deras.


"Kenyang ya?" goda Rissa pada si bungsu yang sudah melepaskan mulutnya dengan cepat.


"Tinggal si kakak nih" ujar Rissa lagi sembari mengusap kepala baby Ay.


Usai menyusui keduanya, kini Melisa kembali berbaring. Tubuhnya yang lemas hanya menerima apa saja l yang di lakukan Rissa padanya.


"Tensimu naik lagi, Padahal sebelumnya udah hampir normal ya"


"Mas Reza gak ada, dok" kini tangisnya kembali pecah.


"Ada, kita tunggu kabar dari orang-orang yang sedang mencari ya, kamu harus banyak-banyak berdoa" ujar Rissa setelah membereskan alat periksanya.


"Diminum obat sama vitaminnya ya, jangan lupa, ingat ketiga anak kalian, mereka butuh kamu sebelum Reza bisa pulang"


perkataan Rissa bagai pisau yang menyayat hatinya, begitu perih terasa. Bayangan buruk pun kini perlahan menguasai otaknya.


"Mas Reza harus pulang, harus pulang!" gumamnya lirih.


"Aku gak mau sendiri, aku mau mas Reza cepet pulang" kini ia menggigit bibir bawahnya kuat kuat untuk menahan tangisnya agar tak terlalu histeris.


Mama langsung berhambur memeluk Melisa,. dua wanita ini sedang rapuh karna belum adanya kabar apapun dari Reza.


***


Dilantai bawah papa sedang berbicara serius dengan beberapa orang yang berpakaian layaknya para preman, ada Ardi sahabat Reza yang ikut berkumpul juga di ruang tamu.


"Di sana sulit sekali sinyal, jadi untuk berhubung agak tersendat" ucap salah satu menerangkan.


"Coba cek ulang, itu kota kecil mana mungkin Reza tiba tiba hilang" ujar papa.


"Apa mungkin Reza di culik, om?" kata Ardi yang langsung membuat papa menatap tajam kearahnya.


"Reza dulu dua kali pernah hampir diculik kan?" tambah Ardi, papa langsung menyandarkan tubuhnya sambil menghela nafas panjang.


"semoga, bukan hal itu" sahut papa lirih.


"Periksa semua tempat, kantor polisi juga rumah sakit" kata papa lagi lagi memberi perintah.


"Baik, tuan, kami akan melakukan yang terbaik untuk menemukan tuan Reza"


"Cari sampai ketemu entah hidup atau mati"


🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥


Hidup dong paaaaaaaah 😭😭😭


babang Reza cuma kesenggol tukang cendol ko, pah.. tadi othor Udah terawang pake Baskom isi aer 🤭🤭🤭


LIKE komennya yuk ramaikan ♥️🤗


jangan lupa mampir ke lapaknya babang Reynand ya di sebelah..


#Menikahi sahabtaku