
🌻🌻🌻🌻
Melisa keluar kamar meninggalkan Langit dan Cahaya.
tubuh lemahnya bersandar di daun pintu yang sudah ia tutup dengan pelan, Cairan bening lolos begitu saja saat ia memejamkan matanya.
"Mah..." Hujan yang baru naik ke lantai atas hendak menuju kamar Air tak sengaja melihat Melisa yang sedang meremat baju bagian dadanya.
Wanita cantik itu menoleh dengan senyum yang ia paksakan.
"Mama kenapa?, adek gimana?" tanya Hujan.
"Adek gak apa-apa, ada Abang yang nemenin"
Melisa mengulurkan tangannya meraih tangan Hujan, ia butuh pegangan saat ini.
Dadanya begitu sesak jika si bungsu sudah merintih menahan sesak nafasnya.
"Aku belum tau apapun, tapi aku harap mama kuat dan sabar ya" lirih Hujan, ia membiarkan calon mertuanya itu meremat tangannya dengan erat.
"Pasti, mama harus kuat demi adek" ucapnya dengan nada bergetar, tetes air mata masih saja mengalir di pipi putih mulusnya.
Hujan yang merasa ikut sedih akhirnya memberanikan dirinya memeluk ibu dari calon suaminya itu, ia memberikan bahunya untuk Melisa yang masih terisak lirih di depan pintu.
"Adek gak sendirian, ada kita yang pasti kuatin adek, mah" ucap Hujan sambil mengelus punggung Melisa yang sedikit terguncang.
"Terima kasih, kamu anak baik. semoga kamu dan Air bisa bahagia"
******
Langit yang masih menunggu gadis kecilnya itu tidur tak perduli sesibuk apa ia hari ini, otak nya hanya berpusat pada Cahaya yang terbaring dengan hembusan nafas yang amat pelan.
Mata pemuda itu tak sedikit pun mengalihkan pandangannya dari si bungsu, tangannya terus merasakan hawa dingin sampai akhirnya berangsur hangat.
"Kamu kuat, kamu bisa sembuh" lirih Langit sambil menghapus air matanya.
Tak ada yang lebih menyakitkan selain melihat pemilik hatinya itu terbaring lemah.
CEKLEK.
"Bang..."
Air dan Bumi yang mendapat kabar dari pasangan mereka masing masing langsung pulang usai kuliah,
Dua pemuda yang sama tampannya itu terus menghampiri Langit yang masih setia duduk di sisi tempat tidur.
"Tidurnya gak boleh lama-lama ya" bisik Air.
Bumi yang duduk diatas ranjang si bungsu pun tak luput dari rasa sedih yang bagai tercabik hatinya.
"Dek, jangan kaya gini, kakak gak suka!" Bumi menghela nafasnya, ia usap pipi cantik adiknya itu dengan tangannya yang bergetar.
"Adek cantik banget ya" timpal Langit, ia mengucapkan kalimat itu sambil menggigit bibir bawahnya sendiri.
"Kalian tau gak?, kalo adek tuh katanya jadi perempuan paling bahagia karna dia paling cantik diantara kita" Langit terkekeh dengan suara parau menahan Isak tangis.
"Tapi kita paling sengsara karna dia paling berisik" tambah Air yang menarik tubuh lemah adik perempuannya itu.
"Tapi kalo jadi kalem begini juga aku gak suka loh" ucap Bumi.
Ia mendongakkan wajahnya untuk menahan air mata.
"Iya, gada yang teriak teriak" tambah Langit.
Ia adalah salah satu pria yang akan sangat kecewa pada takdir jika gadis kecilnya itu harus pergi setelah sekuat tenaga ia berjuang melawan sakitnya sejak lahir.
"Adek Ayo bangun. Kakak bikinin makanan kesukaan kamu, kakak janji gak akan pedes" ujar si sulung, wajahnya sudah basah dengan derai air mata.
Gadis itu mendengar dan merasakan apa yang para pria itu katakan di sisinya, namun lagi dan lagi rasa lemahnya tak sanggup membuat ia membuka mata.
.
.
.
.
Kak... Adek capek!!!
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
Kuat ya cantik..
Perjalan kamu masih panjang sayang ❤️❤️
Like komen nya yuk ramai kan