
π»π»π»
Ada beberapa petugas rumah sakit yang sudah menunggu berjejer di depan pintu utama rumah sakit, semuanya menunduk hormat saat Reza dan Melisa masuk.
"Mas, ih pada gitu sih!" keluh Melisa yang merasa risih.
"Biasa, orang ganteng dateng jadi gitu," bisiknya sambil terkekeh.
"Duh, PeDe banget sih Hubby ku, eh tapi emang ganteng sih" sahut Melisa semakin bergelayut manja di lengan suaminya.
"Bener kan ganteng? beruntung banget kamu Ra.. dapetin aku ckck" Reza terus saja menggoda sambil membanggakan dirinya sendiri sampai pada keduanya sudah berada di dalam lift.
Melisa langsung berjinjit untuk bisa mencium bibir suaminya, Reza yang terkejut sempat terdiam namun selang beberapa detik ciuman panas pun mereka lakukan di dalam lift.
TRIIIING
Belum sempat kotak besi itu terbuka Melisa dengan cepat kembali memencet tombol tanpa melepas Pagutan bibirnya.
Ciuman pun semakin lama terasa menuntut ingin lebih.
"Udah" bisik Melisa dengan nafas berat.
"Ah, gitu kamu mah, tadi di mobil diem aja!" dengus Reza kesal.
"Maaf, " kekeh Melisa sambil merapihkan baju bagian bahunya yang sedikit tersingkap karna ulah suaminya.
"Pegel, Ra" rengek Reza.
"Nanti dirumah lanjutin ya" ucap Melisa menenangkan Reza yang mulai gusar.
"Apartemen ya, udah lama gak pulang kesana"
"Tapi Lusa ada acara dirumah, Mas"
"Besok pagi aku anter kamu pulang"
"Terserah deh"
Keduanya terus saling menggoda Sampai langkah mereka terhenti tepat mereka berada di ruang periksa kandungan.
CEKLEK.
Reza membuka pintu, dilihatnya Rissa masih bermain dengan ponselnya..
"Woy, kerja!" sentak Reza .
"Ya ampun, laki Lo,. Mel..gue masih perawan bisa mati jantungan" decak Rissa kesal dan menimpuk Reza dengan sebuah spidol.
"Lo doang yang berani Sama anak bos" unjuk Reza pada si dokter cantik.
"Anaknya kan? bukan bosnya!" sungut Rissa.
"Gue pecat , Lo!"
"Udah, ini kapan mau di periksanya sih?" omel Melisa yang pusing dengan Perdebatan keduanya.
"Maaf, Ra"
Melisa segera berbaring di brankar pasien yang sudah di siapkan oleh para perawat.
Rissa langsung menyingkap dress yang di kenakan Melisa sampai sebatas dada, membalurkan gel dan mulai menggerakkan alat diatas perutnya.
"Detak jantungnya masih bagus ya," kata dokter Rissa dengan mata fokus kepada layar LED dihadapannya.
"Mau tau gak jenis kelaminnya?" goda Rissa pada Reza memancing.
"Gak!" jawab si calon ayah itu dengan cepat
Ada raut kecewa jelas di wajah Melisa.
"Sabar ya, Mel.."
Reza mencium kening istrinya, ia paham dengan rasa kecewa yang sedang Melisa rasakan saat ini.
"Semua ok, kita periksa tekanan darahnya dulu"
seorang perawat membantu Melisa merapihkan bajunya lagi, sedangkan Rissa langsung menyiapkan alat lainnya.
"Hem, turun dikit doang nih. Rileks ya Mel. jangan stres" pesan Rissa.
"Kamu mikirin apa sih?" Tanya Reza kesal.
Melisa menggeleng.
"Aku gak mikirin apa apa" kata Melisa.
"Udah trimester ketiga wajar ibu hamil terlalu memikirkan masalah persalinan nanti" Rissa mencoba menjelaskan pada Reza.
"Hah! jangan dipikirin, Ra nanti juga udah waktunya lahir" kata Reza.
"Iya, Mas"
Usai pemeriksaan keduanya berpamitan untuk pulang setelah Rissa menuliskan beberapa resep obat dan vitamin
"Langsung anter kerumah ya" titahnya pada Rissa setelah bangun dari duduk.
"Siap!" sahut si dokter.
Reza merangkul bahu istrinya keluar ruangan pemeriksaan, berjalan beriringan di lorong yang sepi yang hanya ada mereka berdua.
"kenapa sih disini gak pernah ada orang lain?" tanya Melisa penasaran, sudah lama ia ingin tanyakan hal ini karna sangat aneh menurutnya
"Ini lantai khusus keluarga, Ra" jawab Reza.
Melisa hanya mengangguk dan tak lagi banyak bertanya, hatinya selalu minder saat mengetahui sekaya apa suaminya itu.
"kamu kenapa?" tanya Reza yang bingung saat istrinya mendadak diam.
"Ah, enggak" sahut Melisa dengan tertawa kecil.
"Kita pulang kerumah aja ya, abis acara baru pulang ke apartemen" pintanya kemudian.
"Ya udah deh" jawab Reza pasrah.
Kini keduanya sudah berada didalam mobil, dengan kecepatan sedang Reza menjalankan kereta besinya untuk membelah jalanan ibu kota yang mulai padat merayap.
TIIIIIINNNN.
Klakson ia tekan saat penjaga belum juga membuka pagar tinggi yang menjulang didepan rumah mewah orangtuanya.
"Tumben rame, mama udah banyak panggil orang kali ya?" kata Melisa penasaran.
"Mungkin!".
Melisa langsung membuka pintu, berjalan tergesa karna rasa keingintahuannya.
"Ada apa, Mah?" tanya Reza saat ia dan Melisa sudah masuk kedalam rumah.
"Tanya pada papamu" sahut si mama sambil melirik kearah suaminya
"Papah bikin apa sih?" kini pertanyaan Reza ajukan pada pria paruh baya itu.
"Papa bikin lift untuk Melisa, biar istrimu itu gak main lift lagi dikantor !" bisik papa sambil terkekeh ditelinga putra sulungnya.
πππππππ
keren dah mantu sultanπ€π€π€
othor mah maen odong odong ajalahπ
like komennya yuk ramaikan β₯οΈβ₯οΈπ€