
🌻🌻🌻🌻
Mobil berhenti di area parkiran sebuah pemakaman umum di pinggiran kota, ini kali keduanya mereka datang bersama.
Hujan menuntun tangan Air yang berjalan di belakangnya, Entah sadar atau tidak keduanya kini lebih sering berpegangan tangan setiap saat.
"Assalamualaikum, Bu.. Ayah" sapa Hujan yang sudah berjongkok di sisi makan kedua orangtuanya.
Gadis itu memandang lekat gundukan tanah yang terdapat batu nisan bernamakan Ayah ibunya.
Matanya terpejam dengan tangan menadah diatas pangkuannya, begitupun dengan Air.
Amiin
Keduanya berbarengan mengakhiri doa mereka.
Air meraih bahu Hujan, ia sandarkan kepala gadis itu di dadanya.
"Luapin kerinduan Lo, tapi jangan bikin mereka sedih Karna lo begini" bisik Air yang hanya di balas Anggukan oleh Hujan.
"Gue pengen sekali aja liat mereka, atau peluk mereka, Ay" ucap Hujan lirih.
"Gak usah, tar kalo udah nikah gue yang bakal peluk Lo terus" goda Air, Hujan langsung menarik kepalanya.
"Modus!" sentaknya kesal namun Air mHujanm.
Hujan kembali diam, ia fokus lagi pada kedua makam orangtuanya dengan sesekali menghapus sendiri air matanya.
Air yang hanya sekedar menemani Hujan tapi setidaknya ia mengerti dengan apa yang gadis itu rasakan, malah ia sempat menghapus cairan bening di ujung matanya saat ia membayangkan ada di Posisi Hujan.
"Yuk, pulang" ajak gadis itu kemudian.
"Hem, iya" sahutnya, namun Air tak langsung berdiri.
Ia mengusap batu nisan calon mertuanya dengan begitu hari.
"Ayah, Ibu. Air sama Hujan pamit Pulang kami kemari tak hanya mendoakan kalian tapi juga ingin meminta restu atas hubungan kami dan niat baik kami untuk menikah" ucap Air.
Hujan yang sudah lebih dulu berdiri menghapus air matanya lagi karna terharu.
Puas mengutarakan isi hati dan maksud kedatangannya ia pun bangun dan berdiri saling berhadapan dengan Hujan tapat di depan makam kedua orangtua gadis itu.
Air meraih tangan Hujan kemudian merogoh kantong celananya sendiri.
" Di depan makam Ayah sama Ibu, gue bakal maksa Lo buat nikah sama gue" ujarnya serius.
"Hujan, Lo harus mau ya jadi istri gue!" tambahnya lagi sambil memakai kan satu cincin putih polos dijari manis gadis itu.
Hujan yang masih tecengang hanya diam menatap Air yang tersenyum simpul padanya.
"Kok Lo gitu sih, kesannya maksa banget!" ketus Hujan.
"Lah, kan tadi gue udah bilang bakal maksa Lo karna gue gak suka penolakan!"
Hujan mendengus kesal, ia yang sedari dulu memimpikan lamaran yang begitu romantis namun nyatanya malah mendengar kata yang cenderung sangat memaksa.
"Yes, Ya" goda Air.
"Cih, gue nolak juga percuma" ketusnya lagi.
"Lo nolak ya gue paksa lagi, kalo di tolak lagi ya paksa lagi gitu aja terus sampe Lo bilang *********Yes*********!"
"Bodo amat lah, gue nolak atau terima juga tetap nikah sama Lo" dengusnya sebal.
"Sama... suka gak suka juga gue tetep Nerima Lo jadi istri gue, nyebelin banget kan!" balas Air.
Hujan menoleh sambil berdecak pinggang.
"Ya udah gak gak usah jadi nikahnya" ancam Hujan.
"Cih enak aja Lo bilang gak jadi setelah Lo bikin orang tua gue kecewa gara-gara mulut laknat Lo itu" ujar Air sambil menekan bibir hujan dengan jari telunjuknya.
"Terus Lo mau apa?, kalo emang gak mau nikah" Hujan yang tiba-tiba emosi sudah mengeram kesal menahan marah.
.
.
.
.
.
Gue mau ciuman halal....
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
Kakak ganteng ku kayanya masih dendam sama adeknya 🤭🤭🤭🤭
Yakin kak ciuman doang, gak icip-icip yang Laen 🤪🤪🤪 enak juga loh..
sini di ajarin dulu sama suhunya 🤣🤣🤣🤣🤣
LIKE komen nya yuk ramai kan ♥️