
🌻🌻🌻🌻🌻
"-Saya tak mau tau! nikahi Hujan sekarang juga!"
Air duduk lemas di tepi tempat tidur sedangkan Hujan semakin histeris, tangis gadis itu bukan soal pernikahannya tapi rasa bersalahnya yang membuat wanita yang membesarkannya itu kini sangat kecewa.
"Ampun, Bun" lirih Hujan bersimpuh di kaki sang bunda.
"Cukup hanya bunda, kamu jangan!"
Air yang tak bisa berbuat apa-apa, hanya diam terpaku melihat Hujan memohon ampun.
"Saya gak bisa, pernikahan bukan lelucon!" ujar Air dengan tegas, Ia bangkit dari duduk bersiap untuk pergi.
"Pergilah, Tapi akan saya pastikan polisi akan datang menjemputmu di rumah kedua orangtuamu" jawab dokter Anna.
Air menghentikan langkahnya, bayangan sang mama terlintas jelas di pelupuk matanya, mana mungkin bisa ia membayangkan polisi datang menangkapnya di depan kedua orangtuanya.
"Demi Tuhan, saya gak lakuin apapun sama dia" teriak Air kesal.
"Apa yang dilakukan pasangan muda mudi jika sedang dalam kamar berdua dengan pintu tertutup rapat seperti tadi" Dokter Anna tak kalah menjerit, ia kembali menangis sesenggukan.
"Pikiran anda terlalu jauh, Bu"
"Cukup, Ay! biar aku yang bicara sama bunda"
Hujan semakin meringsek mendekati wanita yang masih menangis pilu karna ulah konyolnya. Ia mengerti dengan apa yang sedang di rasakan bundanya saat ini.
"Maafin Hujan ya, Bun. tapi sumpah demi apapun Hujan Sama Air gak lakuin hal diluar batas kami" jelas gadis berambut sebahu itu.
"Air tadi pingsan, Hujan cuma nemenin aja sampe dia siuman" tambahnya lagi, berusaha tetap meyakinkan kesalahpahaman ini.
"Bunda tetep gak bisa terima kalian dalam satu kamar yang tertutup seperti ini, jika bunda tak segera datang apapun bisa kalian lakukan!"
"Berhenti menuduh kami, Bu"
Air yang Sudah sangat kesal tak lagi bisa mengontrol emosinya, ia memandang Hujan dengan penuh amarah dan benci.
"Ini kenyataan!, nikahi anak saya atau saya jebloskan kamu ke polisi" ancam dokter Anna.
Bagai buah simalakama, Air hanya bisa diam mencerna Pilihan yang semuanya tentu sangat merugikan.
Ia tak mungkin menikahi Hujan tanpa alasan jelas, begitupun dengan laporan polisi, ia tak mau nama besar keluarganya tercoreng gara-gara kecerobohannya.
"Bun, Hujan gak mau nikah" rengeknya masih dengan derai air mata.
"Bunda hanya takut nasib sial menimpamu juga"
Dokter Anna yang tadinya selalu menepis tangan Hujan kini malah meraih tubuh gadis itu agar masuk kedalam pelukannya.
"Cukup Bunda, kamu jangan!"
"Mbak......"
Pemuda tampan itu berhambur memeluk mbak Aish yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri
"Tolongin kakak, Mbak"
"Mbak, percaya sama kakak" sahut wanita itu, ia kembali menitikan air mata saat mendengar Air terisak dalam dekapannya.
"Kakak takut, kakak takut mama marah"
"Kamu bisa jelasin ini salah paham, kak"
Air hanya diam, otaknya tak bisa berpikir jernih saat ini.
Rasa takut mamanya kecewa sudah sangat mengguncang hatinya.
"Kakak, iya in aja dulu, mbak yakin ini cuma emosi sesaat. Nanti kamu sama Hujan bicarain lagi pelan-pelan sama dokter Anna ya" saran Mbak Aish, ia sangat percaya jika Air tak mungkin melakukan hal tak wajar.
Air melepas pelukannya, ia menatap kedua mata mbak Aish, Wanita yang lebih tua lima tahun darinya pun akhirnya mengangguk.
.
.
.
.
.
.
.
.
Baiklah, aku akan menikahinya
🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉
sedih aku tuh!!
Jangan anu anu dulu ya kak.
Aku belom siap jadi Ambu ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
Like komen nya yuk ramai kan.