Suami Dadakan

Suami Dadakan
Air mata.


🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Gemericik sisa Hujan membuat pasangan suami istri baya itu enggan kekuar dari selimut tebal mereka, keduanya masih saling memeluk bahkan Reza tak henti menciumi pucuk kepala Khumairahnya.


Melisa selalu terkekeh sampai kelopak mata teduhnya menyipit saat sang sandaran hati masih saja sering menggoda.


Prianya tak pernah berubah..


Kalimat itu yang selalu di katakan Nyonya besar Rahardian dalam hati saat Reza selalu memperlakukannya dengan sangat baik baik Ratu dalam istana. Tak pernah berkata kasar dan melayangkan tangan ke tubuhnya adalah dua hal yang sangat di jaga Reza pada sang istri. Semarah apapun ia, Reza lebih memilih pergi sejenak lalu pulang kembali meminta pelukan.


"Mas Reza gak laper?" tanya Melisa ketika waktu sudah menunjukan jamnya sarapan pagi.


"Dingin, masih pengen di peluk"


"Tapi nanti di tungguin, kita mandi sama-sama ya" tawar Melisa, setua apapun mereka aktivitas romantis tetap menjadi yang paling utama di lakukan.


.


.


Dan benar saja, anak mantu cucu dan cicit mereka sudah menunggu di ruang makan. Keduanya langsung mendapat senyuman hangat dari para keterunan terbaik yang di jaga penuh kasih sayang.


"Pagi, Pah.. Mah" sapa Air begitu pun dengan yang lain ikut menimpali.


Semuanya menikmati sarapan dengan begitu lahap, mungkin hawa dingin karna riak air hujan membuat semua yang ada di meja makan begitu sangat kelaparan.


Reza menatap satu persatu dari semua orang yang kini ada di depannya, candaan dan obrolan ringan selalu menjadi teman makan pagi siang dan malam mereka.


Belum lagi kerusuhan yang di ciptakan para cicit Rahardian yang selalu heboh dan berakhir mengundang gelak tawa. Rasanya waktu tak ingin cepat berlalu, belum puas rasanya pria baya itu melewati semuanya. Ia kini seakan enggan menutup mata karna takut tak bisa membukanya lagi.


"Appa ngelamun, mikirin apa?" tanya Sam yang akhirnya membuyarkan lamunan Reza. Ia menoleh sambil tersenyum lalu menggelengkan kepala.


"Gak apa-apa, ayo habiskan" jawab Reza.


"Ini udah habis, Appa gak liat piring dede udah kosong?" kata Sam yang membuat Reza terkekeh kecil.


.


.


Suasana kembali sepi, semua sudah melakukan aktivitasnya masing-masing termasuk ia dan sang istri tapi berbeda dengan hari ini, keduanya memilih kembali ke kamar karna tak memungkinkan bagi pasangan itu ada di taman belakang seperti hari hari kemarin saat usai sarapan.


"Perlu baju hangat?" tawar Melisa pada sang suami yang sudah duduk di kursi yang tepat menghadap ke balkon kamar mereka.


"Enggak, sayang. Kamu selimut terhangat ku, kemarilah" pinta Reza sambil mengulurkan tangan yang langsung di sambut oleh Khumairahnya.


Lagi dan lagi, keduanya berpelukan sambi menikmati tetesan sisa air hujan di depan mereka, bauanya begitu khas dan menyejukkan hati siapapun.


"Kamu tahu, Mas. Sejak kecil sampai detik ini aku tak pernah bermain air hujan, aku takut sakit dan ibu aka marah padaku" ucap Melisa seakan mengenang masa lalunya.


"Jika ibu marah, itu tandanya ia sayang padamu. Ibu tak ingin kamu jatuh sakit, Ra" jawab Reza meski ia tahu bukan itu yang sebenarnya terjadi.


"Hem, semoga, Mas"


Reza menatap lekat kedua manik mata sang istri yang berair, ia tahu ada kerinduan terselip disana maka langsung ia peluk tubuh mungil yang selalu menghangatkannya itu kedalam pelukan.


.


.


.


Menangislah, Ra... karna air mata bukanlah tanda kelemahan tapi bukti kalau kita masih memiliki perasaan.


🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Iya... kaya rasaku padamu Bang Gajah 🤣


Meski belalaimu tak lagi ON aku tetap ingin membelainya 🤭🤭