Suami Dadakan

Suami Dadakan
Bab 48


🌻🌻🌻


"Aw...ampun,Ra!" teriak Reza saat perutnya di cubit oleh Melisa yang sudah sangat malu.


"Maaf..maaf sayang!" ia masih memohon ampun karna tak kuat merasakan panasnya cubitan sang istri.


"Aku malu" rengek Melisa, namun itu membuat suaminya justru memeluknya erat.


"Maaf, sayang! aku bercanda"


Melisa yang sudah berada dalam dekapan Reza sudah tak kuasa untuk bergerak, ia hanya bisa menyembunyikan wajahnya di dada bidang yang selalu membuatnya nyaman.


"Ketagihan ya? enak kan!" godanya lagi tak henti-henti.


"Udah, dong jangan ledekin aku terus" protes Melisa yang entah sudah Semerah apa wajahnya kini.


"Ok, yuk ke kamar" aja Reza kemudian.


"Gak, aku mau makan"


"Kamu belum makan?" tanya Reza serius.


Melisa menggelengkan kepalanya, dengan menundukkan pandangannya..


"Ya tuhan, Ra. maaf ya sayang" ucap Reza penuh rasa penyesalan, kepergiannya selama beberapa jam ternyata sudah sangat menyiksa istrinya.


"Mas Reza aku hubungin gak di angkat, bahkan pesanku pun gak ada yang dibalas"


"Ponsel? dimana ya ponsel ku ya?"


Reza mengurai pelukannya, ia mulai berjalan kearah meja kerjanya, di tariknya beberapa laci namun ia tetap tak menemukan apa yang ia cari.


"Awas hilang loh, Mas"


"Gak, Ra. aku cuma lupa naro aja"


Reza terus mencari ke setiap sudut meja kerjanya, sampai ia meraih jas hitam yang menyampai di kursi kebesarannya.


Ia rogoh kantong jas itu dan wajahnya tersenyum saat ia berhasil mengeluarkan benda pipih itu.


"Ada nih" ucap Reza lalu mengecek seluruh pesan dan panggilan tak terjawab dari istrinya, ada raut sedih diwajahnya manakala ia membayangkan betapa kesalnya sang istri selama tiga jam menunggunya sendiri disini.


"Mas Reza tadi keluar gak pake jas bukan urusan kantor kan?" tanya Melisa penuh selidik.


"Iya, aku ada urusan sebentar"


"Iya, maaf" Reza meraih tangan Melisa, namun dengan cepat ditepis olehnya.


"Jangan ngambek dong" goda Reza tetapi sepertinya goda nya ini tak membuat istrinya luluh.


"Yuk, makan" ajaknya kemudian saat tak mendapat respon.


"Gak jadi" jawabnya ketus sambil berjalan kearah sofa mengambil tasnya.


"Mau kemana?" tanya Reza.


"Pulang!"


Melisa keluar tanpa menoleh lagi pada suaminya, penantiannya berujung sia-sia saat tak mendapat jawaban dari Reza tentang kepergiannya.


"Tunggu,Ra" Reza mencoba meraih tangan istrinya sebelum memasuki lift


"Aku bis pulang sendiri,Mas"


"siapa?" tanya Reza masih mencengkeram tangan Melisa.


"Aku! aku bisa pulang sendiri" jawab Melisa kesal.


"Maksud ku siapa yang nyuruh kamu pulang?" balas Reza dengan terkekeh.


Kini keduanya berada di kotak besi yang membawa mereka langsung ke lobby kantor yang bisa langsung menuju area parkiran VVIP para petinggi perusahaan.


Tak ada obrolan atau candaan didalam mobil selama perjalanan menuju rumah, Melisa memilih membungkam mulutnya dan sama sekali tak memperdulikan suaminya.


"Ayo dong sayang, aku di cuekin sih" ucap Reza saat mobil sudah berhenti di garasi rumah orangtuanya.


Lagi-lagi Melisa tak menjawab ia langsung masuk kedalam rumah lebih dulu, tak menghiraukan suaminya yang meminta untuk menunggunya.


"Ra!" teriak Reza di depan tangga.


Melisa mengehentikan langkahnya saat di ujung tangga, setan kecilnya kini sedang berjalan kearahnya.


"Hai, Kak Mel" sapanya sedikit berteriak.


"Aku gak butuh basa basimu" jawab Melisa ketus.


"Lo gak mau liat apa yang gue punya?" tanya Rossa tiba tiba, membuat Melisa mengehentikan langkahnya.