Suami Dadakan

Suami Dadakan
extra bab 115


🌻🌻🌻🌻


"Iyalah.. kan Lo calon nona muda nya RAHARDIAN"


Air tertawa saat Hujan membuang mukanya untuk menutupi kemerahan di wajahnya karna rasa malu.


Gadis itu langsung salah tingkah dan beranjak bangun tapi Air dengan sigap menahannya lagi.


"Jangan pernah pergi saat gue lagi ngomong sama Lo, gue gak suka di tinggal" cetusnya dengan nada serius bahkan pemuda itu berbicara dengan jarak yang sangat dekat hingga nafas hangatnya sangat terasa menyapu wajah Hujan.


"Maaf" hanya kata itu yang bisa ia ucapkan Karna debaran jantungnya membuat otaknya seakan lambat berfikir.


"Sekarang Lo punya gue, Lo akan ada dimana gue ada dan yang harus selalu Lo inget adalah jangan Pernah beranjak satu langkah pun ninggalin gue, paham!"


Hujan reflek mengangguk saat ia melihat sorot mata Air begitu tajam melihatnya, mata yang biasa selalu teduh saat ia becanda kini berubah bagai elang yang siap mencengkram nya.


"Jangan di ulang" tegasnya lagi.


Air meraih tangan Hujan diatas pangkuannya, meremas dengan lembut sambil memainkan jari-jarinya.


"Kata papa kita nikah Minggu depan, gue gak bisa bantah karna gue gak biasa lakuin itu, senakal apapun gue, gue akan nurut sama mereka dalam hal apapun termasuk pernikahan" ucapnya dengan sama-sama menunduk.


"Gue gak tau Lo mau apa gak, maka itu sekarang gue tanya sama Lo"


Keringat dingin sudah membanjiri tangan keduanya yang sedang menikmati ritme detak jantung yang luar biasa cepatnya.


Air mendongakan wajah Hujan dengan jari telunjuknya.


"Perasan gue ganteng, tapi kok Lo nunduk Mulu sih? lagi cari duit ya di kolong meja" goda Air, ia pun sedang berusaha menetralkan perasaannya.


"Cih, apaan sih!" Hujan menepis tangan Air daru dagunya.


"Dih, sombong amat Lo" dengusnya tanpa melepas tangan gadis galak di hadapannya itu.


"Lo mau nanya apa cepetan!" ujar Hujan masih membuang muka tak sanggup rasanya melihat pemuda itu kini sudah kembali tersenyum menggodanya.


"Cie.. maksa amat pengen di tanya" kekeh Air dengan jahilnya.


Hujan membuang nafas kasarnya, ia geram dengan keisengan Air yang senang sekali menggodanya setiap saat.


Ehem..


Air berdehem kecil, ia membenarkan posisi duduknya agar lebih nyaman, tak pernah ia merasakan segugup ini dihadapan seorang gadis padahal ia sendiri sudah sangat terkenal dengan julukan sang Playboy.


"Jan Hujan deres yang gak pake gerimis dulu tapi ada petirnya, Kita nikah yuk?"


"Kok diem aja?" tanya Air karna Hujan masih diam tanpa berkata apa-apa.


" Lo gak mau nikah sama gue, hah? Tanyanya lagi.


Gadis cantik itu masih diam, ia Sedang merasakan kini tangannya sedang di remas sedikit kuat oleh Air, mungkin pemuda itu juga sedang mengalami apa yang ia rasakan.


"Jan, jawab dong"


Hujan menoleh untuk memberanikan saling tatap dengan Air walau tak sanggup.


"Lo nikahin gue karna cuma mau berbakti sama orang tua Lo kan, karna Lo gak mau ngelawan mereka"


Hujan menarik nafasnya lalu melanjutkan ucapannya.


"Gue juga sama, gue akan lakuin itu buat Bunda"


keduanya saling menatap tajam, tak ada senyum atau apapun itu di wajah mereka sampai akhirnya Air mengulurkan tangannya sambil barkata....


.


.


.


.


.


.


.


Fix... kita main nikah nikahan ya!!


♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️


Terus ada kawinnya gak kak 🥱🥱🥱🥱


Bikin ribet aja Lo berdua!


Like komen nya yuk ramai kan