
~Villa Constel
Ryuzen baru pulang, ia melihat Sara yang kini tengah tertidur di atas sofa. "Wanita bodoh, tidur di luar tanpa selimut kau ini cari penyakit ya?" ucap Ryuzen melihat Sara tertidur di atas sofa tanpa selimut.
Ia pun langsung menggendongnya dan membawanya ke kamar. Ryuzen meletakkan tubuh Sara di atas kasur dan menyelimutinya. Ryuzen sejenak memandangi wajah Sara, yang terlihat sangat murni tanpa polesan apapun di wajahnya yang kini tengah tertidur.
"Kau pasti lelah karena hari ini," gumam Ryuzen menyentuh pipi Sara yang putih merona. Selesai mengusap dan membelai wajah Sara, Ryuzen pun meninggalkan Sara yang kini sudah tertidur pulas.
~~
Malam yang sunyi dan gelap, Ryuzen tengah bersandar di teralis balkon sambil meminum sebotol anggur mewah koleksinya.
Sara... bagiku kau masih menjadi teka-teki yang tak bisa aku pahami.
Apa aku benar-benar menyukaimu, atau hanya rasa peduliku yang tumbuh karena rasa bersalahku padamu di masa lalu.
Ryuzen menikmati anggurnya sambil mengamati langit gelap yang tidak terlihat bintang sama sekali. Sama seperti hatinya yang selalu gelap tanpa pancaran sinar di dalamnya.
~~
Pagi hari pun menjelang, Sara yang baru saja terbangun dari tidurnya tiba-tiba jadi agak sedikit ling lung.
"Semalam aku ini bukannya belum di kamar ya? Kenapa tiba-tiba sudah dikamar begini, aneh!" ungkap Sara yang tidak tahu jika sebenarnya Ryuzen semalam pulang ke villa.
Setelah mandi dan berdandan rapih, Sara turun ke dapur untuk membuat sarapan. Namun Sara bingung dibuatnya karena sudah ada sarapan diatas meja, dan lebih terkejutnya lagi, ia melihat Ryuzen yang sudah rapih, duduk sambil menikmati secangkir kopi di ruang makan.
"Ryuzen kapan kau pulang?"
"Semalam!" balas Ryuzen datar.
"Bukannya, kau bilang semalam tidak akan pulang?,"
"Makan dulu sarapanmu baru bicara, aku sudah pesankan semua sarapan yang biasa kau makan," ujar Ryuzen.
Sara pun menuruti ucapan Ryuzen, ia menarik bangku dan bergabung untuk sarapan. Omlet sayur dan secangkir teh hijau kesukaan Sara sudah tersedia, Sara mulai menyantapnya.
"Oh iya kenapa kau semalam pulang, katanya tidak pulang?" telisik Sara yang kini tengah memotong omlet di piringnya.
"Tidak suka aku pulang?" balas Ryuzen.
"Aku hanya bertanya kok!" jawab Sara.
"Oh iya Ryuzen, kartu kredit yang kau beri kemarin aku kembalikan padamu saja ya," ungkap Sara tiba-tiba.
"Kau sedang menghinaku?" sahut Ryuzen.
"Bu..., bukan begitu, aku pikir ..."
"Seumur hidup, aku tidak pernah menerima kembali sesuatu yang sudah aku berikan pada orang, karena bagiku itu sebuah penghinaan. Jadi kau simpan saja, dan jangan pernah mencoba mengembalikannya padaku lagi!"
"..Baiklah," jawab Sara menurut.
"Ryuzen kau sudah mau pergi?" tanya Sara melihat Ryuzen yang bagun dari duduknya dengan keadaan rapih dan siap pergi.
"Aku harus berangkat lebih awal, ada yang harus aku urus," jelas Ryuzen.
Ryuzen menoleh dan terhenti
"Ada apa?"
"...., Hati-hati di jalan," ucap Sara yang sebenarnya masih ingin mengatakan hal-hal lain. namun tidak bisa kali ini karena kesibukan suaminya itu.
"Ya," balas Ryuzen, yang kemudian melenggang pergi. Bagi Sara hari ini, Ryuzen terlihat lebih kalem dari biasanya.
"Hari ini kenapa dia sedikit berbeda," tukas Sara.
"Padahal ingin berterima kasih lagi, tapi malah tidak sempat karena dia harus pergi, resiko pria sibuk di negeri ini!" gumam Sara mengangkat kedua bahunya.
~~
C-lovely Florist
Sara yang tengah memotong bunga yang rusak, tiba-tiba dikagetkan oleh kehadiran Rony,
"Bwaa..." ujar Rony mengagetkan Sara.
"Rony? Kau buat aku kaget saja!" ujar Sara jengkel.
"Hahaha, maaf ya,"kata Rony sedikit menyesal.
"Ada apa?"
"Tidak ada, hanya ingin menemuimu saja,"
Rony tiba-tiba menyentuh bunga matahari yang sudah tumbuh besar, ia tersenyum melihat bunga itu.
"Ini bunga hasil bibit yang aku berikan padamu kan?"
Sara mengangguk.
"Hais.. tidak terasa sudah hampir satu tahun perkenalan kita, dan..... "
"Dan apa?"
"Eh, tidak apa-apa, hanya bahagia saja ternyata kau benar-benar merawat bunga dariku hingga sebesar ini," ungkap Rony senang.
"Aku suka bunga ini, dia sangat cantik tapi sayang hanya sendirian disini," ucap Sara terlihat bersedih karena bunga matahari ini tumbuh tinggi sendirian.
"Aku harap kau terus merawatnya," balas Rony.
Sara mengangguk, "tentu saja,"
"Sara aku harap perasaanmu padaku juga seperti bunga ini, terus tumbuh meski hanya perlahan-lahan," ungkap Rony sambil memperhatikan Sara yang tengah memandangi bunga matahari itu.
πΉπΉπΉ
Like, comment dan vote yang rajin ya gais...ππ·