
Jordan berniat membawa bom itu segera menjauh dari area dermaga. Untungnya disana banyak speed boat yang bisa ia gunakan untuk membawa bom ini ke tengah lautan. Sialnya hari yang kian semakin larut membuatnya sedikit kesulitan. Hal itu tentu saja karena matanya yang sudah mulai senja sedikit mengganggu pandangannya. "Haiss... umur memang tidak bisa dibohongi!" Ungkap Jordan sambil memijat kedua pelipis matanya.
Dan tanpa berlama-lama Jordan pun langsung mengambil langkah dan menaiki speed boat itu, guna membawa bom yang kini waktunya hanya tersisa dua menit lagi.
~~
Dengan kecepatan maksimal Jordan mengendarai speed boat tersebut menuju ke tengah laut. "Sedikit lagi, aku sudah akan berada ditengah laut." Jordan menoleh melihat waktu yang terus berjalan di bom waktu yang dipegangnya tersebut. "Aku harus melempar ini ke tengah laut, dan segera mejauh!" Ungkap Jordan. Namun saat dirinya hendak melempar bom tersebut, tiba-tiba terdengar suara tembakan yang mengenai bagian kaca speed boat yang tengah tumpangi olehnya itu.
"Brengsek! Siapa yang berani menembak kapalku!" Jordan pun spontan menoleh ke arah darimana datanganya serangan tadi. Dan benar saja, ia melihat jika di arah belakangnya ada speed boat lain yang sepertinya sejak tadi mengikutinya. "Sial! Siapa orang yang ada di speed boat itu! Kenapa dia menyerangku tiba-tiba?" Seketika sorot mata Jordan menajam saat menyadari seseorang yang terlihat berada di atas speed boat yang mengikutinya itu adalah, "Baj!ngan itu...!" Gumam Jordan dengan nada memaki.
~~
Ryuzen telah membawa Arvin keluar dari tempat tersebut dan bersiap mengantar putranya itu ketempat Sara. Namun sayang, piikirannya kali ini harus terbagi, antara membawa pergi segera Arvin dan memikirkan nasib sang ayah yang kini berada berjuang di tengah lautan sendirian.
"Papi... aku biar saja menunggu mami datang, papi pergi saja selamatkan kakek!" Kata Arvin tiba-tiba. Ryu pun menoleh menatap Arvin yang berada duduk disebelah, dirinya yang baru saja ingin menyalakan mesin mobilnya. Ryuzen terdiam, ia memang merasa ingin membantu sang ayah, namun dirinya juga tidak mau membuat Sara yang kini menunggunya jadi semakin khawatir. "Tidak! Aku harus membawamu dulu sekarang pada Sara!"
"Tapi... papi, bagaimanapun kakek kan...." Arvin tidak meneruskan perkataannya, dan malam menunduk sedih. "Maaf ya... gara-gara aku yang tidak bisa menjaga diri dan ceroboh... semuanya jadi harus seperti ini."
Sebagai orang tua, tentu saja Ryuzen tidak mau melihat anaknya itu menyalahkan dirinya sendiri atas semua yang terjadi, ia pun mencoba menyemangati putranya tersebut. "Kau jangan berkata begitu, karena melindungimu sudah menjadi keharusan bagiku. Jadi jangan pernah berpikir seperti itu lagi." Ryuzen mengusap kepala Arvin yang kini menunduk sedih, "Hei, angkat kepalamu...!"
Arvin pun langsung mengangkat kepalanya yang tertunduk pilu.
"Kau seorang pria kan?" Tanya Ryuzen.
"Ya aku seorang pria!" Ungkap Arvin sambil melihat wajah sang papi.
"Kalau begitu, sebagai pria sejati... kau tidak boleh terlalu sering menundukan wajahmu seperti itu. Karena yang pria sejati lakukan bukanlah meratapi hal yang sudah terjadi, melainkan memperbaiki kesalahan, dan itu yang sedang kakekmu kini tengah lakukan. Apa kau paham sekarang?"
Hem! Arvin mengangguk. "Aku paham papi!"
"That's my son!" Puji Ryuzen lalu mengusap kepala putranya tersebut dengan rasa bangga.
Selang beberapa detik tiba-tiba dari arah kaca spion yang ada di depannya, Arvin melihat sebuah mobil berhenti di belakang mobil yang ia tumpangi saat ini. Dan ternyata, dari dalam mobil tersebut tampak Sara dan Kenzo yang keluar dari dalamnya. "Papi... itu mami dan paman Kenzo!" Arvin memberitahu sang papi jika maminya dan asistennya itu tengah berjalan mendekati mobil mereka.
"Aku mau turun!" Ujar Arvin yang kemudian segera melepas sabuk pengamannya, dan bergegas keluar menemui sang mami.
~~
"Mami....!" Arvin berlari kencang dan langsung memeluk Sara, yang juga langsung membalas pelukan putranya itu dengan erat.
"Mami aku senang sekali melihat mami....!"
"Mami juga sangat bahagia bisa melihatmu lagi nak... sangat bahagia." Sara melepaskan pelukannya. Lalu dengan wajah khawatirnya, ia segera memastikan jika sekujur tubuh putranya itu baik-baik saja. "Kau baik-baik saja kan nak...? Mana yang terluka, apa kau disakiti? Bilang pada mami nak?" Sara jelas begitu khawatir pada putra semata wayangnya itu.
"Aku baik-baik saja mami, i'm good," balas Arvin agar maminya tidak lagi khawatir padanya.
Senang melihat Arvin akhirnya selamat dan kembali pada Sara. Tapi hati Ryuzen saat ini belum tenang, mengingat sang ayah masih berada di tengah laut sendirian. Ryuzen mengepalkan tangannya kuat-kuat, hingga ia menyadari ada sentuhan lembut yang tiba-tiba menggenggam tangannya.
"Sara...?" ucapnya menyadari jika yang menggenggam tangannya adalah istrinya sendiri.
Sara mengulum senyum pada Ryuzen, "Terima kasih sudah menepati janjimu padaku dengan membawa Arvin kembali dengan selamat. Sekarang... pergilah..."
Huh?
Hem, Sara tersenyum lalu mengangguk. "Pergilah, ayahmu pasti sedang menunggumu bukan...?"
"Iya Papi... cepat susul kakek! Dia membutuhkanmu!" Sahut Arvin yang juga meminta sang ayah agad segera pergi, untuk membantu kakeknya yang tengah berada di lautan menjauhkan bom dari pemukiman.
"Kalian...?"
"Tuan muda...!" Ujar Kenzo yang sudah siap pergi membantunya.
"Baiklah..." Dan tanpa berlama-lama Ryuzen pun pergi untuk menolong sang ayah.
Sara tersenyum senang melihat Ryuzen yang begitu peduli pada sang ayah. Aku tahu kau Ryu... dari caramu menunjukan emosimu saat ini, kau bukanlah pria tanpa hati. Karena jauh di lubuk hatimu... kau sangat menyayangi ayahmu.
"Mami... apa papi akan membawa kembali kakek?"
"Menurutmu?" Yang aku tahu, dia pria yang tidak pernah ingkar pada janjinya sendiri.
~~
"Lenyaplah kau Jordan!" Ujar Biyan Dao dengan sombongnya. Kemudian ia pun kembali melesatkan serangan pada Jordan yang saat ini, bahkan tak membawa senjata sama sekali sebagai perlawanannya terhadap sepupu liciknya itu.
*Bang! Malangnya... Jordan terkena tembakan yang dilesatkan oleh Biyan Dao.
Argh! "Sial! Aku tidak bisa melawannya saat ini. Aku harus segera membuang bom ini!" Bom waktu itu hanya tersisa dua puluh detik sebelum meledak. Dan tanpa banyak berpikir lagi, Jordan langsung membuang bom waktu tersebut ke tengah kelautan. Dirinya pun dengan menahan rasa sakit, memutar speed boatnya agar sesegera mungkin bisa menjauhi tempat dimana bom itu di jatuhkan tadi.
~~
Boom! Suara ledakan itu terdengar hingga ke tempat dimana Ryuzen dan Kenzo kini berada.
๐น๐น๐น
Halo ma beloved readers yang masih setia... cuma ingin kasih tau, jangan lupa untuk kasih LIKE COMMENT DAN VOTENYA.
Love -C