Love Petal Falls

Love Petal Falls
Love petals bloom 9


Pagi pun mulai menjelang, jarum jam sudah menunjukkan pukul 06.00 pagi. Sara pun membuka matanya lalu meregangkan otot-ototnya, hingga dirinya sadar di kanan dan kirinya tidak ada suami dan anaknya.


"Kemana perginya mereka berdua? Apa sudah bangun?" Karena tak ingin penasaran lama-lama, Sara akhirnya beranjak dari tempat tidurnya untuk memastikan dimana kedua jagoannya itu pergi. Sara pun melangkah turun, tapi seketika dirinya justru di buat kaget oleh, sosok dua laki-laki yang tengah tidur di atas permadani lantai dan beralaskan selimut.


Kedua orang itu tidak lain tidak bukan adalah, suami dan anaknya yang kini tertidur pulas, dengan posisi yang membuat Sara tersenyum menahan tawa. Ryuzen yang tertidur di atas selimut sambil memeluk Arvin seperti guling, kini tidur tengkurap di atas tubuh suaminya itu.


"Melihat mereka begini, aku seperti melihat dua orang yang sama cuma berbeda ukuran," gumam Sara sambil menahan gelak tawanya.


Karena tak ingin mengganggu anak dan suaminua yang terlihat masih pulas tertidur, Sara pun pelan-pelan berjalan keluar dari kamarnya.


~~


Selamat pagi nona Sara, sapa para pelayan saat dirinya hendak berjalan melankah menuju dapur. Sara pun dengan ramahnya menyapa kembali mereka.


"Selamat pagi!"


Sara berjalan ke arah dapur untuk mengisi kembali teko pitcher di kamarnya yang sudah kosong.


"Selamat pagi bibi Rachel...!" Sapa Sara pada bibi Rachel yang tengah sibuk membuatkan minuma herbal untuk nenek Ivy.


"Selamat pagi Nona Sara, apa ada yang bisa aku bantu?" tanya bibi Rachel melihat Sara membawa teko pitcher ditangannya.


"Aku mau mengisi teko ini, Ryuzen dan Arvin biasa selalu langsung minum air putih jika baru bagun tidur!" jelas Sara yang kini tengah mengisi teko tersebut dari water dispenser.


"Nona, anda bisa menyuruh pelayan untuk melakukannya, biar pelayan yang mengerjakan semuanya, anda tidak perlu repot-repot begitu."


Sara pun hanya tersenyum kecil mendengar ucapan bibi Rachel barusan. Dirinya bukan berhenti dan menyuruh pelayan, malah mengambil cangkir dan menyeduh teh kamomil untuknya.


"Nona anda tidak perlu..."


"Bibi Rachel, aku tidak repot sama sekali. Aku sangat berterima kasih pada bibi dan semua pelayan yang ada di sini, karena sudah sangat membantu melakukan semua pekerjaan rumah. Tapi untuk hal yang mudah seperti ini, tolong biarkan aku melakukannya sendiri jika aku masih mampu ya!" jelas Sara.


"Apa nona selalu begini setiap hari, saat tinggal di villa?"


"Sejak menikah, aku memang mengurus suami dan anakku sendiri. Bukan karena Ryu tak mau membayar pelayan, tapi aku ingin menikmati peranku sebagai istri dan juga ibu untuk mereka," terang Sara.


"Kau benar-benar wanita yang baik Nona," puji bibi Rachel dengan tulus.


Sara pun selesai membuat teh kamomilnya dan diletakannya di atas nampan, bersama minuman herbal untuk nenek Ivy.


"Bibi silakan teruskan saja membuat sarapan, biar ini aku yang antarkan pada nenek," ucap Sara yang sudah membawa nampan berisi minuman herbal dan teh itu.


"Terima kasih nona Sara," tukas bibi Rachel.


~~


Taman belakang


Sara membawakan nampan berisi minuman herbal itu, untuk nenek Ivy yang kini tengah menikmati udara pagi di halaman bunga di belakang kediaman Han.


"Selamat pagi sayang...!" balas nenek ivy yang kemudian mempersilakan Sara duduk.


"Nenek silakan minum dulu, besok aku akan minta dan berikan resep minuman herbal dari bunga yang aku tahu baik untuk kesehatan Nenek pada bibi Rachel."


"Terima kasih sayang, aku benar-benar bersyukur kau hadir di hidup cucuku dan bisa memberikannya arti kebahagiaan hidup yang sesungguhnya."


"Sama-sama Nek!" balas Sara.


Sara pun ikut duduk di samping nenek sambil menikmati tehnya.


"Nek, boleh aku tanya sesuatu?" kata Sara setelah menyecap tehnya dan kemudian di taruhnya kembali di atas meja.


"Ada apa?"


"Ryuzen, saat kecil dan remaja bagaimana dirinya?"


Sebelum menjawab Sara, nenek Ivy pun meminum minuman herbalnya.


"Ryuzen itu, sejatinya adalah anak yang baik dan sangat cerdas. Hanya saja sejak datang kemari setelah kematian ibunya, dia seolah menutup dirinya. Ia tidak terlalu banyak bicara padaku apalagi kakeknya. Tapi dia tetap menghormati dan menuruti apa yang kakeknya inginkan.


Tapi jujur saja, aku tak bisa cerita banyak. Namun aku yakin, cepat atau lambat Ryu pasti akan menceritakan semua tentang hidupnya padamu. Kau tahu meski terlihat tenang, Ryuzen itu wataknya sangat keras dan tempramental, dia sama sekali tidak suka di kekang apalagi di paksa atau di tekan untuk melakukan sesuatu yang tidak sesuai kehendaknya. Jadi aku harap kau bersabar jika ingin tahu lebih dalam soal dirinya," ujar nenek memberi pengertian.


"Aku tahu Nek, tentu aku paham maksudmu," balas Sara, yang kemudian kembali meminum tehnya.


~


Setelah selesai mandi dan membantu bibi Rachel menyiapkan sarapan, Sara kembali lagi ke kamarnya untuk melihat kedua jagoannya itu apakah sudah bangun atau belum.


"Kalian sedang apa?" tanya Sara saat memasuki kamarnya dan melihat Ryuzen dan Arvin tengah melakukan stretching.


"Ayo papi! Sit upnya kurang seratus empat puluh kali lagi, semangat!"ย  ujar Arvin.


Karena tidak ada yang meresponnya Sara pun mengulang pertanyaannya, "Kalian sedang apa?"


"Urusan laki-laki, mami juga tidak akan paham," ujar Arvin


"Sayang, aku rasa biar aku jelaskan pun, kau tidak akan tahu!" sahut Ryuzen sambil sit up.


"Apa-apaan ini? Semalam bertengkar sekarang malah berkoalisi untuk mengabaikanku! Menyebalkan!" gerutu Sara.


"Terserahlah, yang jelas kalau kalian nanti sudah selesai! Cepat turun kebawah utuk sarapan!" terang Sara.


"Oke!" balas Ryuzen dan Arvin dengan kompak.


Sara pun kemudian meninggalkan kamar, dan kembali lagi ke bawah untuk memastikan sarapannya sudah siap.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน