
Setelah puas berjalan-jalan dan membeli banyak mainan bersama nenek Ivy sambil bercerita tentang kisah Ryuzen. Kini nenek Ivy dan Arvin pun tengah bersiap untuk kembali masuk ke mobil. Arvin yang terlihat sangat senang saat itu pun berterimakasih pada sang nenek
"Nenek buyut terima kasih! Hari ini aku senang sekali!"
"Sama-sama sayang." Nenek Ivy mengusap lembut kepala pria kecil yang menggemaskan itu.
"Yuji, sebelum pulang kita ke holykids dulu ya!" Seru nenek Ivy dengan nada lembut pada Yuji yang duduk di kursi pengemudi.
"Baik nyonya!"
"Holykids itu tempat apa nek?"
Nenek ivy menolehkan kepalanya seraya tersenyum pada Arvin.
"Nanti kau akan tahu saat kita sudah tiba di sana, dan aku yakin pasti kau akan suka di sana, " ucap sang nenek buyut.
Setelah nenek Ivy dan Arvin sudah masuk ke dalam mobil, Yuji pun langsung tancap gas, dan malajukan mobilnya menuju holykids.
~
Setibanya di dalam gerbang bangunan yang bercorak warna-warni itu, Arvin pun dengan spontan menurunkan kaca jendelanya. "Ternyata holykids yang nenek maksud itu adalah sebuah panti asuhan?" Arvin menoleh ke arah nenek Ivy yang ada disampingnya.
"Ayo Arvin kita turun, kita temui anak-anak yang ada di dalam sana!"
Nenek Ivy mengajak Arvin turun, dan dengan cepat Arvin pun mengindahkan ajakan sang nenek buyutnya itu. Mereka pun keluar dari mobil dan melangakah masuk, menemui anak-anak yang ada di panti asuhan.
Baru saja memasuki pintu utama bangunan itu, anak-anak panti itu langsung saja menyerbu nenek Ivy dan memanggil-manggil namanya,
"Nyonya Ivy!"
"Nyonya Ivy lihat gambar yang ku buat!"
"Nyonya Ivy ayo kita bermain!"
Para anak-anak yang usianya tak jauh terpaut dari Arvin itu mengerubungin nenek Ivy. Arvin yang melihatnya agak mundur karena takut jika dirinya terlalu dekat, ia akan jatuh dan terdorong oleh anak-anak panti asuhan itu. Untungnya Yuji yang sebagai pengawal nenek Ivy pun berusaha segera mengondusifkan situasi, dibantu oleh para ibu penjaga panti. Hingga akhirnya situasinya menjadi tenang dan anak-anak kembali duduk rapi.
"Halo anak-anak!" sapa Ivy Han dengan sumringah.
"Halo juga Nyonya Ivy!" Mereka secara bersamaan pun membalas ucapan nenek Ivy barusan.
"Anak-anak, hari ini aku membawa cicitku kemari!" Nenek Ivy pun segera meminta Arvin mendekat ke arahnya, dan berdiri di hadapan anak-anak panti asuhan untuk memperkenalkan dirinya.
"Halo semua, namaku Arvin Chen salam kenal!" Sapa Arvin dan memperkenalkan diri dengan sopan.
"Halo Arvin!" Balas anak-anak panti asuhan.
"Wah kakak Arvin ganteng deh!" ujar seorang gadis kecil yang usianya sedikit lebih kecil dari Arvin.
"Arvin, kau mau main dengan kami tidak?" tanya salah seorang anak laki-laki di panti itu pada Arvin.
Arvin pun tentu saja dengan senang hati menerima ajakan anak itu untuk bermain. Tapi sebelum pergi, Arvin menoleh ke arah nenek Ivy dulu seolah minta Izin.
"Tentu saja sayang, kau mainlah dengan mereka. Sementara biar nenek menyelesaikan urusan dulu dengan para pengurus panti."
"Terima kasih Nek!" tukas Arvin yang kemudian berlari dan bergabung dengan anak-anak panti itu.
Holykids sendiri sudah berdiri sekitar 15 tahun lamanya. Panti asuhan ini sengaja didirikan oleh Nyonya Ivy untuk membantu anak-anak terlantar. Dibawah naungan Emerald foundation selain Panti Asuhan ini, nenek Ivy juga mendirikan sebuah rumah sakit di kota Montegi untuk anak-anak penderita kanker. Dan setiap bulannya Ivy Han selalu rutin mengunjungi panti asuhan untuk memberikan sejumlah uang donasi untuk panti tersebut.
"Nyonya anda sungguh dermawan, dan lihat cicit anda! Dia juga terlihat begitu manis dan sangat baik. Dia sama sekali tidak merasa risih bermain dengan anak-anak di panti ini," ujar ibu kepala panti asuhan.
Ivy Han pun menoleh ke arah Arvin yang kini tengah terlihat asyik bermain bola dengan anak-anak di panti asuhan itu.
"Sara mendidik dan memebesarkan Arvin dengan penuh kasih dan cinta, hingga dia tumbuh menjadi anak yang ceria dan mudah bergaul. Andai Ryuzen dulu mendapatkan perhatian dan cinta sebagaimana Arvin saat ini, mungkin dia tidak akan tumbuh menjadi seperti sekarang. Tapi sudahlah, toh pada akhirnya aku bersyukur cucuku di pertemukan dengan wanita sebaik Sara, yang bisa membuat hidupnya menjadi lebih baik dan terarah saat ini."
ย ~~
Di kediaman Han sepasang suami istri itu tengah menikmati waktu bersantainya, Ryuzen meletakkan kepalanya di pangkuan Sara. Kakinya yang panjang membuat tubuh Ryuzen melebihi panjang sofa yang di duduki oleh Sara.
"Ryu, kenapa Arvin dan nenek belum pulang ya?" Sara bertanya-tanya sambil sesekali tangannya membelai rambut gelap Ryuzen.
" Mungkin mereka membeli banyak barang dan mainan, jadi pulangnya agak terlambat," balas Ryuzen yang kini terlihat begitu manja di pangkuan Sara.
Beberapa saat kemudian terdengar suara kecil yang mengganggu tapi sangat di rindukan oleh Sara dan Ryuzen.
Arvin dan nenek Ivy yang baru saja pulang dari panti asuhan holykids pun langsung menuju ke ruangan tempat dimana Sara dan Ryuzen berada sekarang.
Sara pun bangun dari duduknya untuk menyambut mereka yang baru saja tiba. Begitu pun Ryuzen yang yang nampaknya harus menyudahi waktunya bermanja-manja dengan sang istri.
"Mami, Papi," ujar Arvin yang baru saja tiba dan langsung berlari memeluk kedua orang tuanya itu.
"Hai sayang, ada apa? Kenapa tiba-tiba Arvin yang sudah besar ini jadi bersikap begini? " Sara terlihat bingung melihat Arvin yang tiba-tiba memeluk dirinya dan Ryuzen dengan erat.
Ryuzen yang tak kalah bingung jadi ikut bertanya, "Jagoan! Kau ini kenapa?"
"Aku sayang kalian berdua, jangan pernah meninggalkan aku sendirian. Aku akan sangat sedih jika kalian meninggalkanku!"
Ucapan Arvin pun berhasil membuat Sara dan Ryuzen saling melempar pandangan.
Sara kemudian mengelus lembut kepala anaknya itu dan berkata, "Arvin, kau tenang saja kami tidak akan meninggalkanmu. Kami akan selalu menjadi orang tuamu."
"Arvin, kau tidak usah takut! Aku akan terus bersamamu,"
Aku tidak akan membiarkan anakku merasakan apa yamg dulu aku rasakan!
Arvin kini telah melepas pelukannya pada Sara dan Ryuzen. Sara lalu memintanya untuk bersih-bersih dan ganti pakaian.
"Kalau begitu, sekarang kau mandi dan bersih-bersih ya. Setelah itu makan malam dan tidur karena kau besok harus sudah kembali lagi ke asrama."
"Baik Mami!"
"Oh iya, apa kau ingin tidur dengan mami lagi?" tanya Sara.
Arvin menatap Ryuzen yang sudah sejak tadi menatapnya seolah mengisyaratkan dirinya tidak di izinkam tidur di kamar orang tuanya.
"Kata papi, kalau aku mau cepat punya adik aku tidak boleh tidur sekamar dengan mereka. Demi adikku!"
"Tidak Mami, hari ini aku mau tidur di kamarku sendiri saja! Aku mandi dulu ya..." Arvin pergi untuk bersih bersih.
Selang beberapa detik setelah Arvin pergi, nenek Ivy pun tiba.
"Nenek, kalian sebenarnya habis dari mana?" tanya Ryuzen.
Nenek Ivy pun duduk, sementara Sara meminta bibi Rachel membuatkan secangkir teh untuk nenek Ivy.
"Aku mengajak Arvin ke holykids,"
Ryuzen mengangkat satu alisnya. Sara yang tidak paham akhirnya buka suara, "Holykids itu apa?"
"Holykids adalah panti asuhan yang dibuat oleh yayasan Emerald untuk anak-anak terlantar," jelas Ryuzen singkat.
"Benarkah? Aku baru tahu! Lalu apa yang kalian lakukan di sana? Oh tunggu, jangan-jangan Arvin bersikap seperti tadi karena habis dari panti asuhan ya."
"Kami bersenang-senang, dan Arvin terlihat sangat berbaur dengan anak-anak di sana." Nenek menoleh menatap Sara
"Sara, aku bangga padamu. Kau merawat Arvin dan membersarkannya dengan baik. Arvin tumbuh menjadi anak yang mudah bergaul dan cerdas. Bahkan dia memberikan semua mainan yang tadi aku belikan untuknya kepada anak-anak disana. Kau benar-benar telah mendidik Arvin dengan baik."
Sara tersenyum sekaligus terharu mendengar kata-kata nenek Ivy barusan. Ia senang anaknya tumbuh menjadi anak yang luar biasa, sekaligus terharu karena Arvin yang biasanya suka tak mau kalah, kali ini dia mau berbagi dengan orang lain.
"Aku hanya mengajari Arvin, sebaik dan semampu yang aku bisa Nek!"
"Sara, terima kasih!"
Ryuzen dari tempatnya duduk saat ini hanya bisa menatap kagum pada wanita disebelahnya tersebut. Wanita yang telah rela mengorbankan masa mudanya untuk merawat anaknya yang bahkan saat itu dia tidak tahu siapa ayahnya. Bahkan sedikit pun Sara tak pernah mengeluh lelah pada Ryuzen.
"Aku jadi semakin merasa berdosa jika mengingat itu, untuk menebus dosaku padamu. Aku akan berikan seluruh hidupku ini untukmu Sara. Aku berjanji!"
"Ryu, kenapa kau menatapku begitu?"
Ryuzen hanya tersenyum simpul sambil menatap Sara lebih dalam, "Aku hanya sedang berpikir, batapa Tuhan begitu baik menghadiahkan seorang wanita luar biasa seperti dirimu untukku!"
Sara dengan spontan mengulurkan senyum manisnya kala mendengar ucapan Ryuzen barusan.
๐น๐น๐น๐น