
kata-kata Sara berhasil membuat Ryuzen untuk kedua kalinya, seperti dihantui rasa bersalah yang luar biasa.
"Jika saat itu aku tahu Arvin adalah darah dagingku, mungkin tanpa kau minta pun aku akan berikan seluruh darahku untuknya," sesal Ryuzen mengingat kejadian itu. Namun penyesalan pada akhirnya hanya akan jadi penyesalan yang tak mungkin bisa di benarkan apapun alasannya.
~~
Saat terjadi ketegangan diantara Sara dan Ryuzen, tiba-tiba Arvin yang baru saja di jemput oleh Kenzo dari sekolah untuk akhir pekan pun datang.
"Aku pulang!" ujar Arvin yang dibelakangnya ada Kenzo.
"Sepertinya timingnya sendang tidak pas," ujar Kenzo di dalam hatinya, melihat suasanya di antara Ryuzen dan Sara yang sepertinya tidak bagus.
Arvin yang melihat koper di samping Sara pun akhirnya dibuatnya bertanya-tanya.
"Mami, kau mau apa dengan koper itu?"
Sara mendekati Arvin dan berkata jika dirinya akan pulang ke rumahnya.
"Tapi, Mami... kau bilang minggu ini aku boleh tinggal disini, lagi pula Paman Ryuzen sudah berjanji akan mengajariku menembak, kenapa kita malah harus pulang?"
Rasa kecewa begitu terlihat di wajah menggemaskan Arvin saat itu. Ryuzen yang melihat putranya kecewa membuatnya semakin merasa bersalah. Namun saat ini, dirinya juga belum bisa berbuat apa-apa, mengingat Sara jelas berhak atas Arvin ketimbang dirinya.
"Arvin lain kali saja, sekarang kita dulu pulang ya...," bujuk Sara pada Arvin
"Mami sebenarnya kenapa sih! Paman Ryuzen juga kenapa tidak mengatakan apapun, biasanya dia paling pandai cari alasan supaya mami luluh," gumam Arvin yang terlihat cemberut.
Ryuzen mendekatkan tubuhnya, merendahkan badannya dan berlutut supaya dapat menjangkau wajah Arvin. "Arvin, kau anak laki-laki yang hebat, tapi hari ini kau ikuti apa yang mami-mu ucapkan. Nanti, jika ada waktu aku berjanji akan langsung mengajarimu menembak, bagaimana?"
"Kau janji?" kata Arvin memastikan.
"Dengar, Aku ini pria yang tidak akan menghianati janji yang telah aku buat sendiri," balas Ryuzen menaruh tangannya di dada tanda telah bersumpah janji. Hingga Arvin pun akhirnya mengerti dan mau diajak pulang oleh Sara.
~Kediaman Sara
Arvin terlihat tidak terlalu bersemangat sejak dirinya kembali dari villa constel, hal itu membuat Sara jadi merasa tidak enak. "Arvin, bagaimana kalau kita pergi berdua jalan-jalan ke pasar malam?" Sara mencoba untuk menghibur Arvin dengan mengajaknya pergi.
"Sorry mam, tapi aku sedang tidak bersemangat, kalau mami mau keluar jalan-jalan silakan pergi sendiri saja."
"Sejujurnya aku begitu egois tidak sih? Bagaimana pun juga kan, kenyataannya Arvin memang anaknya Ryuzen, dan yang menyebalkannya lagi, kenapa sifat mereka harus mirip, sama-sama harus dapat apa yang mereka mau. Benar-benar menyebalkan!"
"Aku mau istirahat di kamar saja...," ucap Arvin, lalu pergi ke kamarnya.
"Melihat Arvin begitu, aku jadi seolah seperti, ibu jahat yang sengaja memisahkan anak dan ayah kandungnya. Tapi mau bagaimana lagi, jujur saat ini hatiku masih merasa sakit dan ingin marah tiap kali melihat pria itu di dekatku."
Sara menghela nafas...
"Kalau sudah begini, terpaksa harus membuang egoku dulu." Sara pun kemudian mengambil ponselnya.
~~
~Kamar Arvin
Di Kamarnya, Arvin yang hanya duduk sambil memegang mainan Iron Man yang ia dapat dari Ryuzen, malah berbicara sendiri.
"Andai saja paman Ryuzen adalah papiku yang sungguhan, pasti tidak akan begini jadinya," ujar Arvin yang kini tengah bad mood.
"Apa mami sama paman Ryuzen sedang bertengkar ya? Kalau iya, itu artinya aku harus buat mereka baikan, tapi bagaimana caranya...?" Arvin pun memasang wajah serius yang membuatnya justru semakin terlihat menggemaskan.
Beberapa saat kemudian tiba-tiba pintu kamar Arvin ada yang mengetuk, dirinya pun langsung beranjak dari tempat tidurnya dan membuka pintu itu.
"Astaga cepat sekali...! Padahal baru saja aku berharap, eh sudah terkabul," ujar Arvin di dalam hati, melihat ternyata yang datang benar-benar Ryuzen. Kehadiran Ryuzen membuat Arvin sangat gembira saat itu juga.
"Paman, bagaimana kau bisa datang kesini?" tanya Arvin.
"Seorang peri baik hati yang tidak suka padaku, tiba-tiba memberi tahu lewat bisikan kalbu," balas Ryuzen.
"Peri baik hati kau bilang? Yang ada saat ini, aku ingin sekali jadi iblis neraka, agar bisa menghukumu saat ini juga, dasar lady killer!" gumam Sara dengan ekspresi tidak suka.
"Mami...," ucap Arvin dengan tatapan polosnya, bermaksud meminta izin pada Sara.
"Baiklah, hari ini kau bisa pergi dengannya," ucap Sara memperbolehkan Arvin pergi dengan Ryuzen. Melihat Sara mengizinkannya, Arvin jadi sangat gembira.
"Kalau bukan karena Arvin, aku tidak akan sudi menelpon dan menyuruh pria ini datang kemari!"
Arvin pun akhirnya ikut pergi dengan Ryuzen.
~Di dalam mobil
Di dalam mobil Arvin duduk disebelah Ryuzen yang sedang mengemudi. Tidak bisa di pungkiri saat ini, Arvin terlihat begitu senang. "Jadi, kemana kita sekarang?" tanya Ryuzen.
"Tentu saja melakukan hal-hal yang pria keren lakukan!" jawab Arvin.
"Baiklah, Arvin hari ini akan kutunjukan, betapa kerennya Papimu ini!" ujar Ryuzen dalam hati.
**
Sementara itu, Sara malah mengundang Gina ke rumahnya untuk menceritakan semua kebenaran yang ada saat ini tentang dirinya dan Ryuzen.
"Sara jujur saja ya, setelah aku mendengar ceritamu barusan, aku ini jadi bingung harus bereaksi bagaimana. Kau tahu... Ryuzen Han dia pria paling hebat di negeri ini, dan kau dengannya...."
"Aku juga tidak menyangka, kenapa takdirku bisa begini," ucap Sara pasrah menerima takdirnya.
"Tapi kalau boleh jujur, Arvin itu jika dilihat-lihat memang sejak awal agak mirip sih dengan Ryuzen Han. Coba kau perhatikan baik-baik," ungkap Gina.
"Bukan cuma mirip rupanya, tapi sifatnya pun lebih dominan dengan sifatnya Ryuzen dibanding denganku."
Sara terlihat begitu kacau dan tidak tahu harus bagaimana saat ini.
"Lalu bagaimana dengan Arvin? Bagaimana pun dia berhak tahu semuanya kan?"
"Arvin anak yang pintar, kalau pun tidak diberi tahu, cepat atau lambat pasti akan ketahuan juga olehnya."
"Nah sekarang Arvin pergi dengan Ryuzen, bukankah itu tandanya tidak ada masalah di antara kau dan Ryuzen?" terang Gina.
"Bukan begitu, masalahnya... Arvin itu suka sekali dengan Ryuzen sejak pertama kali bertemu. Entah karena naluri ayah dan anak atau sejenisnya, yang jelas, aku hanya tidak ingin egois dalam hal ini. Karena aku melihat sendiri, bagaimana kecewanya Arvin saat aku tidak memberikannya izin pergi dengan priaitu," ungkap Sara yang kini menopang dagunya dan terlihat tidak semangat.
"Kalau sudah begini, jujur aku tidak bisa ikut campur lebih jauh lagi Ara. Yang bisa aku lakukan sebagai sahabat hanyalah, mendukung apapun keputusanmu jika itu yang terbaik."
"Terima kasih banyak Gina, kau memang sahabat terbaik yang Tuhan kirimkan untukku," ucap Sara tersenyum kecil.
Bersambung....
Like, comment and vote...! ππ·