Love Petal Falls

Love Petal Falls
Love petals bloom 175


Setelah selesai merias wajah, dan berpakaian rapi. Sara pun langsung berdiri di depan cermin besar yang ada di dekatnya, memperhatikan penampilannya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Sara terlihat tersenyum bahagia, memandangi dirinya di depan cermin sambil mengusap perutnya yang buncit itu. "Tidak terasa beberapa bulan lagi, anak keduaku dan Ryu akan lahir... aku jadi tidak sabar merawat bayi kecil ini bersama Ryuzen." Sara terus mengusap perutnya yang membucit itu dan melihat ke arah cermin lalu berkata, "Nak, nanti setelah kau lahir... mami akan melihat untuk pertama kalinya, bagaimana seorang pria seperti papimu menggendong bayi, pasti lucu sekali." Sara tergelitik membayangkan Ryuzen menggendong seorang bayi.


Beberapa saat kemudian, tiba-tiba pintu kamar Sara diketuk dari luar.


"Ya... masuklah..." Ujar Sara.


Ternyata bibi Rachel yang muncul, dan langsung menghampirinya. "Nona... kau terlihat senang, apa sedang memikirkan sesuatu?"


Sara mengangguk. "Ya bibi benar! Aku senang, karena aku habis membayangkan bagaimana seorang pria arogan yang dingin seperti Ryu, suatu hari nanti akan mengganti popok anaknya. Bukankah itu lucu?" Terang Sara diikuti tawanya yang renyah.


Bibi Rachel ikut tertawa. "Ya pastinya sangat lucu dan akan menjadi momen langka."


"Aku jadi penasaran, Ryu bisa tidak ya menjaga anak kedua kami nanti?" Sara tampak meragukan suaminya.


"Aku rasa... tuan muda akan jadi ayah yang sangat hebat. Sudah hampir tiga puluh tahun aku bekerja untuk keluarga Han. Dan aku tahu, meski tidak ia tampakan secara langsung, tuan muda adalah pria yang sangat sayang pada orang-orang yang memang berarti baginya. Dan aku yakin, tanpa nona minta pun, tuan pasti akan berusaha untuk menjadi ayah terbaik bagi anak-anak kalian."


Sara tersenyum senang, "Ya kau benar! Aku rasa juga begitu."


"Kalau begitu, nona silakan segera turun ke bawah. Karena sepertinya sebentar lagi tuan akan datang menjemputmu."


"Hem, aku akan turun."


~~


Tak berselang lama saat Sara pun menuruni tangga bersama bibi Rachel, ternyata Ryuzen sudah berada dibawah menunggunya. Melihat istrinya cantik itu turun dari tangga, Ryu pun langsung menghampirinya dan menggandeng Sara yang kehamilannya makin membesar.


"Kau sudah tiba sejak tadi?" Tanya Sara pada Ryuzen.


"Tidak, aku baru saja tiba. Apa kita langsung berangkat ke restoran?"


"Ya, kita langsung ke restoran saja," jawab Sara.


"Baiklah...!"


Sara pun pamit dengan bibi Rachel. "Bibi, kami pergi dulu."


"Iya nona, tuan hati-hati di jalan," balas bibi Rachel yang dipamiti oleh Sara.


Sara yang sudah menggandeng lengan Ryuzen pun langsung beranjak pergi berasama suaminya.




Di apartemennya tempatnya tinggal, Rina yang baru saja membaca berita trending di situs jejaring sosial, tiba-tiba dibuat kaget dengan berita tersebut. Ia pun langsung menghampiri Kenzo yang ternyata baru saja selesai dari toilet.



~~



"Kenzo... kau lihat berita ini!" Seketika Kenzo dan Rina sama-sama terdiam, Rina yang malah terfokus pada restleting celana Kenzo yang masih terbuka pun spontan berteriak, lalu menutup matanya dan membalikan badan.



Kenzo yang juga kaget pun berujar, "Hei kau jangan teriak begitu, kalau orang lain dengar, bisa-bisa orang lain mengira aku mau melakukan hal yang tidak-tidak padamu." Kenzo lalu segera menutup restletingnya tersebut. "Sudah, kau bisa berbalik badan sekarang!" Ujar Kenzo.



"Kau yakin?"



"Iya... apa perlu aku buka lagi, lalu kututup dihadapanmu baru kau yakin!"



"Baiklah..."Rina pun membalikan tubuhnya lagi ke arah Kenzo. Kali ini ia memastikan jika restleting celana kekasihnya itu sudah tertutup dengan benar. "Oh ya sudah benar!" Ucap Gina malu-malu.



"Jadi kau itu grusak-grusuk, sebenarnya mau bilang apa padaku Rina?"



"Oh iya... aku ingin tanya soal.ini!" Rina menyodorkan layar ponselnya ke depan wajah Kenzo. Kenzo pun menyipitkan matanya ke layar ponsel tersebut. "Oh soal ini..., baiklah... kita duduk dulu sambil minum ice tea baru aku akan ceritakan."



"Kenapa tidak langsung saja cerita?"




"Baiklah... aku akan buatkan, kau duduk saja di ruang tamu." Rina pun bergegas membuat ice tea.



~~



Di restoran Oracle, Sara dan Ryu tampak langsung memesan makanan untuk santapan makan siang mereka. Dan sambil menunggu pesanan mereka datang. Ryuzen seperti kebiasaan, dirinya akan memandangi wajah istrinya terus menerus hingga membuat Sara merasa tidak nyaman, dan berkata, "Kenapa sih, kau itu sering sekali memandangi orang begitu. Percaya tidak, hal itu bagiku menyeramkan tahu!"



Meski mendengar ucapan Sara, tapi Ryuzen tetap saja masih memandangi Sara. "Memangnya salah, memandangi wajah istriku sendiri. Lagi pula salahmu sendiri punya wajah cantik."



"Kalau cuma karena cantik, di kantormu kan juga banyak wanita cantik, ditambah mereka pintar. Kalau aku kan tidak pintar dalam hal apapun." Ujar Sara dengan raut wajah masam.



Ryuzen pun tertawa melihat Sara yang sepertinya tengah cemburu. "Di kantorku memang banyak wanita cantik...."



Sara melirik sinis ke arah Ryu.



"Tapi sayangnya... istriku jauh lebih cantik. Dan aku tidak butuh wanita yang pintar, karena aku sudah memiliki kepintaran itu, ditambah kau juga sudah memberikanku anak yang pintar jadi..., aku tidak butuh istri yang pintar."



Sara pun tanpa sadar luluh dengan ucapan Ryuzen,



"Tapi...kalau perempuan yang pintar mereka kan bisa..."



"Kau itu pintar, hanya ceroboh dan terlalu lugu sehingga jadi bodoh secara tidak langsung."



Sara mencebikkan bibirnya. *Sebenarnya dia itu sedang memuji apa menghinaku sih*?



"Sudahlah sayang..." Ryu mengambil satu tangan Sara yang ada di atas meja. "Bagiku kau wanita paling sempurna," ucap Ryu lalu mengecup punggung tangan sang istri. Alhasil Sara pun tersipu dibuatnya.



"Tuan muda, mulutmu memang benar-benar mengerikan. Aku yakin jika kau berbicara seperti ini pada semua wanita yang kau temui. Dalam satu hari kau bisa berkencan dengan sepuluh wanita. Tidak heran kalau dulu beritamu dengan wanita setiap hari selalu terpampang di media."



"Aku tidak peduli pada wanita-wanita yang aku saja sudah lupa. Aku hanya peduli padamu Sara.. kau satu-satunya di dalam hidupku." Ucap Ryuzen dengan begitu lembut sambil memandangi sang istri.



Tak terasa, akhirnya makanan pesanan mereka pun tiba. Sara nampak sudah tidak sabar menyantap lobster asam manis yang kini berada di hadapannya itu. "Ini lezat sekali!" Gumam Sara dengan liur yang mungkin hampir menetes.



"Mari makan...!" Ucap wanita itu, dan langsung melahap makan siangnya. Sebagai suami, Ryuzen pun hanya bisa tersenyum sambil takjub melihat istrinya yang dengan lahap menyantap makanannya.



๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน



Hai lagi teman-teman readers tersayang, jangan lupa tinggalkan jejaknya dengan **LIKE, COMMENT**, dan **VOTE**.


Selamat hari jumat. Semoga hari kalian baik...๐Ÿ˜Š



Love -C