Love Petal Falls

Love Petal Falls
Love petals bloom 68


Sehabis menjenguk Sara di tahanan, Ryuzen langsung saja menjalankan mobilnya dan menuju ke Anglo.


Ada sekitar dua jam ia harus menempuh perjalan menuju Anglo. Dan sesampainya disana, Ryuzen langsung dihadapkan oleh pagar baja tinggi yang dilengkapi dengan berbagai sistem keamanan itu menyambut kedatangannya.


"Sudah lama tidak memasuki tempat ini," ujar Ryuzen sambil menunggu pintu gerbang yang terbuka dengan otomatis itu terbuka dan membiarkannya masuk. Pintu gerbang telah terbuka, Ryuzen langsung saja melajukan mobil mewahnya melewati pintu gerbang tersebut.


Sehabis memarkirkan mobilnya, Ryuzen pun bergegas berjalan menuju pintu utama. Ryu memasuki bangunan megah nan kokoh yang berdiri di sebuah distrik terpencil di pinggir pusat kota. Bagunan yang ada dihadapannya inilah markas yang ditempati black serpents selama bertahun-tahun.


"Tempat ini tidak banyak berubah," ungkap Ryu sambil melepaskan kacamata hitamnya.


Tentu saja, bagi Ryuzen Anglo tidak berubah. Mengingat tempat ini sudah menjadi bagian dari tempat tinggalnya di masa lalu, sejak dirinya setuju untuk bergabung menjadi anggota black serpents. Memasuki Anglo Ryuzen langsung di sambut oleh para penghuni tempat itu, yang mana kebanyakan dari mereka adalah bekerja sebagai bodyguard hingga pembunuh bayaran. Semua menatap ke arah datanganya mantan anggota organisasi itu.


Banyak anggota baru ternyata.


Namun beberapa, adalah orang lama yang juga Ryuzen kenal, seperti Edgar dan Meilin yang terlihat senang menyambut kedatangan dirinya itu.


"Halo death shadow, kau akhirnya kembali menginjakkan kakimu di tempat ini," seloroh Edgar.


"Tuan tampan kau kembali kemari, aku senang sekali!" ungkap Meilin tentu saja dengan gaya bicaranya yang terdengar tengah menggoda Ryu.


"Hai! Tapi maaf aku kemari hanya karena ada urusan dengan bos kalian, jadi aku tidak bisa berlama-lama," balas Ryu sambil terus berjalan menuju ke tempat tuan JH alias Jordan Han.


"Baiklah.. baiklah... bos kau yang paling hebat!" celetuk Edgar.


Namun saat tengah berjalan menuju tempat tujuannya. Ryuzen justru harus di hadang oleh salah seorang anggota black serpents yang sudah tidak asing lagi baginya.


"Kau kembali?" Tukas Orizel yang tengah memegang segelas wine.


"Bukan urusanmu!" Ryuzen terus saja berjalan dan tak menggubris Orizel.


"Sekian lama tidak kemari ternyata kau tetap sama seperti dulu, arogan dan merasa berkuasa. Cih! Kau pikir kau siapa?" Ejek Orizel bermaksud memancing amarah Ryu, tapi sayangnya Ryuzen enggan menggubrisnya dan memilih terus berjalan. Merasa di rendahkan dengan sikap Ryu, Orizel langsung menarik katananya dan menodongkan pedang itu ke arah Ryuzen.


"Kenapa tuan muda Han? Apa kau sudah lupa tradisi dan peraturan di Anglo?"


Ryuzen tidak bereaksi apa-apa, ia justru menyeringai dan menatap pria yang kini mengarahkan senjatanya itu ke lehernya.


"Peraturan, tradisi? Heh, mana mungkin aku lupa Orizel." Ryuzen menepis lempeng katana orizel dengan lengannya.


"Jadi, kau mau membunuhku? Silakan saja jika kau bisa." Ryuzen nampak meremehkan Orizel. Mendengar hal itu Orizel yang sejak lama iri dengan Ryu pun naik pitam dan mencoba mengayunkan pedangnya ke arah Ryuzen, namun...


*Bang!


Terdengar suara tembakan menembus tubuh seseorang.


Katana yang coba diayukan oleh Orizel tiba-tiba terjatuh. "Ryu..., ka-kau, sejak kapan kau...," Orizel meringis, sambil memegangi perut sebelah kirinya yang berdarah, karena baru saja terkena tembakan yang dilesatkan oleh Ryuzen tadi.


"Biadab kau Ryu...! Arggh! Sejak kapan kau membawa pistol!" Orizel nampak pucat dan kesakitan akibat banyak mengeluarkan darah dari lukanya.


Ryuzen hanya tersenyum kecut. "Oh ya, tadi kau tanya apa aku lupa peraturan dan tradisi tempat ini bukan? Kenyataannya, aku tidak pernah lupa dengan peraturan, apalagi tradisi saling membunuh di tempat ini. Karena hanya ada dua pilihan yang ada di tempat ini, yaitu" Ryuzen menyipitkan matanya


"Hidup jadi pemenang atau mati jadi pecundang! Tapi kau lupa Orizel, justru kau yang lupa, kau lupa jika di dalam kamusku tidak pernah ada kata kalah!"


"Oleh karena itu, sebelum aku buat kau benar-benar jadi pecundang. Lebih baik belajarlah menjadi anggota yang baik di tempat ini Orizel. Kau beruntung aku tidak menembak dibagian vital, jadi kau masih akan tetap hidup." ujar Ryuzen yang membuat suasana anglo jadi tegang.


Tempat ini benar-benar neraka dunia!


"Bukankah kalian semua anggota black serpents, jika ada anggota kalian yang butuh pertolongan. Maka tolong, bukan hanya jadi penonton!" Seru Ryuzen dengan suara beratnya.


Ryuzen melanjutkan langkahnya, setelah menyuruh anggota lain membawa Orizel ke IGD.


Tempat ini adalah neraka tempat dimana aku merasakan rasa sakit, jatuh, hingga aku tidak tahu lagi apa itu rasanya sakit. Jadi mana mungkin aku lupa semua tradisi yang dibuat olehnya.


~~


Setelah berjalan menyusuri ruangan, Ryuzen akhirnya berhenti di suatu ruangan dengan pintu yang memiliki ukiran. Ia memasuki ruangan yang selama ia tinggal di Anglo, belum pernah ia masuki sebelumnya. Ruangan yang hanya boleh dimasuki oleh JH atau orang yang memang diminta oleh JH untuk masuk.


"Akhirnya kau datang," balas Jordan dengan perasaan senang. Meski bukan sapaan hangat, tapi bagi Jordan melihat putranya mau menerima bantuannya adalah lebih dari cukup.


"Apa kau mau makan sesuatu?" Sambung Jordan mencoba beramah tamah.


"Aku tidak ada waktu untuk hal itu! Lebih baik kau langsung beri tahu aku, bagaimana caramu akan membantu Sara di persidangan besok!"


Tentu Jordan sadar dirinya tidak ada hak meminta pada putranya itu untuk bersikap lebih ramah padanya. Tapi sebagai seorang ayah, tidak mungkin bisa dipungkiri jika dirinya ingin sekali merasakan rasanya bagaimana bersikap layaknya seorang ayah kepada putranya sendiri.


Tidak ingin menghilangkan kesempatan membantu Ryu, Jordan pun langsung saja berjalan menuju ke arah lemari kabinet kayu besar yang ada di ruangannya itu. Dibukanya lemari kabinet itu, yang mana berhasil membuat Ryuzen jadi dirundung rasa penasaran apa yang sebenarnya yang ada di dalam lemari itu, yang oleh Jordan dianggap bisa membantu istrinya. Tapi Ryuzen tetap mencoba nampak enang dan sabar. Jordan tiba-tiba membawa sebuah kotak berwarna coklat yang diambilnya dari lemari itu, dan membawanya kepada Ryuzen.


"Apa itu?"


Tanpa menjawab pertanyaan sang putra, Jordan langsung saja membuka isi kotak itu dan menunjukannya pada Ryu.


"Itu..." ujar Ryuzen.


Dan ternyata kotak itu berisi sebuah pistol lengkap dengan pelurunya.


Apa sebenarnya yang akan dilakukan oleh Jordan Han dengan pistol itu?


~~


Gina baru saja pulang, saat ingin membuka pintu tidak sengaja ia melihat Arvin yang menggunakan sweater dan topi tengah membuka pintu dari luar.


"Arvin?" Seru Gina.


"Bib!" Kaget dengan kehadiran sang bibi, Arvin pun hanya bisa senyum-senyum sambil berpikir alasan apa yang tepat, nantinya yang akan dijelaskan pada Gina, saat dirinya nanti ditanya habis darimana, terlebih Arvin tidak izin pada Gina untuk keluar hari ini.


"Kau sedang apa? Apa kau baru saja keluar?"


"Iya nih, aku..., aku tadi habis keluar melihat toko mainan yang baru saja dibuka di sekitar sini."


Merasa tidak puas dan janggal dengan jawaban Arvin, Gina tentu saja masih berusaha menginterogasinya lebih lanjut. Sayangnya hal itu harus ia urungkan, karena tiba-tiba saja ponselnya berdering, dan harus diangkat.


Dering ponsel penyelamat!


"Baiklah Arvin kau masuk duluan aku mau angkat telepon! Nanti kita lanjutkan lagi urusanku denganmu."


"Baik Bibi!" Ujar Arvin yang kemudian masuk duluan ke dalam.


"Fiuh, untung saja ponsel itu berbunyi. Kalau tidak bisa-bisa bibi Gina curiga dan menginterogasiku layaknya kriminal."


Tapi itu telepon dari siapa?


"Halo?" Jawab Gina mengangkat teleponnya.


"Benarkah? Kalau begitu kemungkinan besok kita bisa memenangkan perkara ini, kau kirimkan saja padaku agendanya, biar aku pelajari malam ini," ujar Gina yang tiba-tiba jadi sumringah karena kabar ini.


"Baiklah tuan Han, sampai jumpa di persidangan besok!" Gina pun menutup teleponnya tersebut dengan perasaan sedikit lega.


Aku akan berusaha semampuku di persidangan besok! Sara kau tenang saja, aku dan suamimu pasti bisa mengeluarkanmu dari jeratan hukum!


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Halo my beloved readers. Terima kasih banyak ya... untuk kalian semua yang sudah mau setia membaca ceritaku ini. Sekali lagi aku minta maaf karena tidak bisa update harian. Tapi aku harap kalian masih mau setia membaca ceritaku ini, dan jangan lupa untuk tinggalkan jejak berupa like, comment, vote.


Sekali lagi terima kasih banyak atas apresiasi kakak-kakak, dan teman-teman reader sekalian.


Happy reading fellas and i hope you like it.


For more info follow my ig account @chrysalisha98 thank you.๐Ÿ˜‰