
Sara berlari sejauh mungkin, sampai ia tahu siapa yang bisa ia mintai tolong saat ini.
"Dia, dia pasti bisa membantuku, ya aku yakin!" yakin Sara di dalam hati.
Sara pun terus berdoa dan berharap di dalam hatinya. "Arvin bertahanlah... ya Tuhan, tolong beri aku kesempatan menyelamatkan anakku."
~Gedung Emerald.
Sara memohon pada petugas resepsionis agar dirinya bisa bertemu dengan Ryuzen.
"Nona, aku mohon, aku ingin bertemu Tuan Han!" pinta Sara memohon dengan suaranya yang serak karena menangis sejak tadi.
"Maaf nona, tapi aku juga tidak bisa membantumu, karena aku tidak punya kuasa apa-apa disini," ucap resepsionis itu dengan rasa menyesal karena tidak bisa membantu Sara.
"Aku harus bagaimana, hanya dia satu-satunya orang berkuasa yang kemungkinan besar bisa aku mintai tolong untuk mencarikan darah untuk Arvin." ucap Sara yang hampir putus asa.
"Tidak! Aku tidak bisa pasrah disini, bagaimana pun caranya aku harus bertemu dengan Ryuzen!" Sara puan akhirnya nekad menerobos batasan dan pergi menuju lift yang akan terbuka.
"Hei, nona tunggu! Kau tidak boleh masuk tanpa izin!" ujar resepsionis yang kemudian disusul oleh penjaga yang akan menghentikan Sara.
*bruk!
Sara menabrak seseorang yang keluar dari lift, dan orang itu ternyata adalah Ryuzen yang ditemani oleh Kenzo. Sara pun mendongakkan kepalanya.
"Tuan Ryuzen...!" ujar Sara menitikan air mata.
"Dia kenapa datang kemari dengan menangis?" pikir Ryuzen melihat mata Sara menangis dan tergesa-gesa begitu.
"Aku mohon bantu aku." Sara memohon langsung pada Ryuzen saat itu juga. Melihat Sara begitu, Ryuzen semakin penasaran apa yang membuat Sara menemuinya sambil menangis seperti ini.
"Ke ruanganku!" perintah Ryuzen pada Sara untuk ikut ke ruangannya.
"Tuan Muda, tapi...."
"Kenzo kau diam saja, dan tunggu instruksi dariku selanjutnya."
"Baik Tuan...!" ucap Kenzo menuruti perintah Ryuzen.
"Tunggu, gadis itu bukannya penjual bunga yang waktu itu, apa hubungan dia dengan Tuan Han?" ungkap Kenzo yang baru menyadari hal tersebut.
~ di Ruangan Ryuzen.
"Ada apa kau datang menemuiku tiba-tiba?" tanya Ryuzen yang duduk di hadapan Sara.
"Langsung saja, aku datang menemuimu untuk minta bantuan darimu," jawab Sara to the point.
"Bantuan? Bantuan apa?"
"Aku mau kau carikan orang bergolongan darah A rhesus negatif, yang mau mendonorkan darahnya," jelas Sara. Ryuzen mengerenyitkan dahinya tidak paham maksud ucapan Sara barusan.
"Aku tahu kau orang yang sangat berpengaruh di negeri ini, pastinya bukan hal sulitkan buatmu mendapatkan donor darah itu. Aku mohon Tuan Han, tolong bantu aku!" Sara memohon dengan sungguh-sungguh di hadapan Ryuzen.
Ryuzen menyeringai melihat Sara memohon di hadapannya, seolah ada permainan baru yang menarik mengajaknya untuk bermain.
"Nona Sara, apa yang membuatmu yakin kalau aku akan membantumu?"
"Aku tidak tahu, yang ada dibenakku sekarang hanyalah, kau pasti bisa menolongku," jawab Sara jujur.
Ryuzen tidak menjawab apa-apa, yang ia lakukan hanya memutar pulpen di tangannya, sambil mendengarkan Sara dengan ekspresi dingin.
"Tuan Ryuzen Han yang terhormat, aku mohon padamu bantu aku! Kalau perlu aku akan sujud di kakimu, asal kau mau membantuku," pinta Sara memohon, air mata Sara yang tadi sudah mulai surut pun kini seperti akan keluar kembali karena tak kuat menahan sedihnya.
"Nona Sara aku beri tahu satu hal, aku bukan pria dermawan yang baik hati. Jadi, jika seseorang menginginkan sesuatu dariku maka ada harga yang harus kau bayar. Sedangkan aku tahu, kau tidak akan pernah mampu membayarku dengan uangmu. Lalu, apa yang akan kau berikan padaku sebagai imbalannya."
"Aku... aku...." Sara bingung harus bagaimana, sedangkan waktu terus berjalan dan Arvin harus segera mendapatkan donor darah.
"Tuan Han, sebagai imbalannya aku berjanji akan melakukan apapun yang kau inginkan. Asal kau mau menolongku."
"Kau yakin bicara begitu?"
"Ya aku yakin," balas Sara tanpa ragu sedikitpun.
"Baiklah... kau sendiri yang telah membuat janji itu.
Karena aku hanya ingin memperingatkan satu hal. Seseorang yang sudah membuat kesepakatan denganku, maka dia tidak bisa lari sampai kapanpun kecuali aku yang melepaskannya. Kau ingat itu!"
Bagi Sara saat ini yang terpenting adalah Arvin. Dirinya sudah tidak peduli apa yang akan terjadi padanya nanti.
"Aku tidak peduli hal apapun saat ini, yang aku inginkan saat ini hanyalah Arvin bisa segera sembuh," ucap Sara di dalam hatinya.
Jangan lupa buat yang suka di like, comment dan vote. Thank You ππ·