Love Petal Falls

Love Petal Falls
Chapter 117 : Then Now


~Cafe Orleon


Akhirnya Sara tiba di kafe tempat dimana dirinya dan Erika sepakat untuk saling bertemu, Sara memasuki cafe dan berjalan menuju salah satu meja yang mana Erika sudah duduk disana menunggu kedatangannya.


"Apa kau sudah menunggu lama?" tanya Sara, yang kemudian menarik kursi dan duduk di hadapan Erika yang sepertinya sudah datang sejak tadi.


"Tidak juga," balas Erika sambil memasukan beberapa potong gula kotak ke dalam minumannya.


"Lalu, apa yang ingin Nona Erika bicarakan denganku?"


Erika mendengus singkat.


"Tidak kusangka, ternyata kau wanita yang sangat to the point sekali ya,"


"Aku hanya mencoba mempersingkat obrolan kita, terlebih kau adalah orang sibuk pasti banyak pekerjaan yang masih menunggumu bukan?" terang Sara.


"Oke..., begini, aku sudah mengetahui hubunganmu dengan Ryuzen."


Sara sontak merasa cukup kaget mendengar ucapan Erika barusan, namun ia mencoba tetap tenang dan tidak bereaksi berlebihan.


"Aku tahu Ryuzen bukan pria yang mudah, dan aku tahu kau juga pasti sulit menjalani hari-harimu dengan status pernikahanmu dengannya, jadi berapa banyak yang kau butuhkan?"


"Nona Erika, apa maksudmu bicara seperti itu?!" balas Sara dengan ekspresi tidak suka.


"Ayolah, kau tidak perlu pura-pura, kau pasti tahu maksudku.


"Ryuzen dan aku, kami pernah menjalin hubungan hampir lima tahun lamanya dan dia sudah pernah melamarku waktu itu, hanya saja...."


Sara pun seketika bereaksi setelah mendengar ucapan-ucapan Erika barusan.


"Nona Erika, apa kau ingin membayarku dengan sejumlah uang supaya aku bercerai dengan Ryuzen, begitukah?"


"Heh, memang apa lagi yang dibutuhkan wanita seperti dirimu, selain harta dari orang lain untuk menunjang gaya hidup?" ucapan Erika jelas terdengar mengejek.


Mendengar Erika yang menghinanya begitu, membuat Sara merasa tidak bisa diam saja,


"Iya, aku memang suka harta oleh sebab itu aku tidak akan bercerai dari suamiku!"


"Kau, apa maksudmu?!" Erika terlihat marah.


"Nona Erika lupa, tadi kau menawarkan aku sejumlah uang supaya aku bercerai dari Ryuzen. Kalau dipikir-pikir kenapa aku harus menerima uangmu saat aku tahu bisa dapat jauh lebih banyak dari suamiku? Maaf ya Nona Erika, tapi aku bukan orang bodoh!"


"Sara Chen, kau benar-benar wanita yang tidak tahu malu!"


Sara tersenyum kecil lalu berujar,


"Aku, tidak tahu malu? bukannya yang tidak tahu malu itu Nona Erika, jelas-jelas dimata Hukum yang istrinya Tuan Han itu aku bukan kau!"


Erika benar-benar terlihat naik pitam mendengar ucapan-ucapan Sara barusan yang seolah menghinanya.


"Benar-benar tak kusangka di balik wajah polosmu kau bisa bicara seperti jalang begini, cih menjijikan!" Ejek Erika,


"Kau pikir wanita sepertimu pantas untuk pria seperti Ryuzen huh?!" lanjut Erika sinis.


"Kenapa aku harus merasa tidak pantas? Aku cantik, badanku bagus, dan... aku jauh lebih muda darimu," tutur Sara dengan santainya, terlebih ucapannya barusan berhasil membuat Erika benar-benar marah.


"Sara Chen, kau benar-benar wanita yang tidak tahu diri!"


"Terserah! kau mau bilang apa, asal suamiku suka, bahkan jadi wanita murahan dihadapanmu juga aku tidak peduli!" terang Sara tanpa ekspresi,


"Oh iya, Nona Erika Zhang yang luar biasa kuberi tahu, marah-marah di tempat umum bisa membuat reputasi pencitraanmu itu luntur loh...," imbuh Sara pada Erika yang wajahnya benar-benar terlihat merah padam.


"Sara, kau pikir Ryuzen benar-benar jatuh cinta padamu?!" Erika tersenyum sombong


Sara yang ternyata sudah berdiri dari duduknya pun hanya tersenyum getir namun seolah tak peduli mendengar perkataan Erika, iya hanya menjawab;


"Siapa peduli! cinta atau tidak, yang jelas aku sekarang istrinya, dan kau hanya masa lalunya!"


"Dan... soal Ryuzen, kalau Nona Erika merasa yakin bisa memiliki dan mendapatakn Tuan Han kembali, silakan saja kau coba merebutnya sendiri dariku," ucap Sara tersenyum kecut, dan kemudian benar-benar pergi meninggalkan kafe Oracle.


Erika yang emosi dibuatnya hanya bisa mencengkram serbet didepannya dengan kuat-kuat, sambil menatap Sara yang kini telah pergi dari hadapannya.


"Sara, kau pikir Ryuzen mencintaimu huh?! Lihat saja nanti, siapa akhirnya yang akan tertawa di akhir, kau pikir kau yang cuma penjual bunga rendahan pantas untuk Ryuzen? Tidak akan pernah!" ujar Sara yang kini benar-benar merasa geram dan marah.


~~


Diperjalanan kembali ke C-lovely Florist Sara mengingat kejadian tadi, dan mengehela nafasnya cukup panjang.


"Aku tidak menyangka pada akhirnya aku bisa bicara seperti tadi pada Erika. Astaga! betapa liarnya aku tadi. Tapi kalau di pikir-pikir aku ini memang tidak tahu malu ya, jelas-jelas memang tidak dicintai oleh suami sendiri malah berani bilang seperti itu!"


Sara terus saja bergumam di sepanjang jalan.


"Mungkin terlihat tidak tahu malu, tapi dia kan memang suamiku, setidaknya aku hanya mencoba mempertahankan apa yang memang jadi milikku saat ini. Dan jika pada akhirnya nanti Ryuzen yang menginginkanku pergi dan kembali pada Erika, maka aku harus siap menerima hal itu."


Sara terlihat pasrah akan hal itu, ia tidak bisa memaksakan hati siapapun saat ini. Baginya ini adalah konsekuensi yang harus ia terima ketika memilih untuk mencintai Ryuzen.


~


Setibanya kembali ke C-lovely, Sara justru tiba-tiba di rundung banyak pertanyaan oleh Rina dan Orin.


"Kak Sara bagaimana?"


"Apa wanita pencitraan itu bicara macam-macam padamu?"


"Kau tidak berkelahi dengannya kan?"


"Kau baik-baik saja kan?"


Rina dan orin secara bergantian bertanya tanpa jeda pada Sara, Melihat itu Sara jadi bingung sendiri.


"Iya aku baik-baik saja, memangnya aku habis melakukan apa?" ucap Sara agak bingung lihat mereka merundunginya banyak pertanyaan.


"Kak Sara, tenang kami ada di pihakmu!" ucap Orin.


"Ya, kami akan selalu jadi pendukung setiamu dan Tuan Han," sahut Rina.


Sara kaget dengan ucapan Rina barusan,


"Rina kau bilang apa barusan?" tanya Sara memastikan jika ia tidak salah dengar.


"Aku bilang akan jadi pendukung setia hubunganmu dan Tuan Han, aku ada dipihakmu kak!" balas Rina.


"Ka ... kalian, bagaimana kalian bisa...?" Sara tadi terlihat kikuk.


"Aku yang tidak sengaja keceplosan Sara, maafkan aku ya...!" ujar Thomas tiba-tiba datang dan meminta maaf,


"Sara, tolong jangan adukan aku pada tuan Han, aku benar-benar keceplosan tadi, maafkan aku!" ucap Thomas seraya memohon.


Sara menghela nafasnya.


"Sudahlah Thomas, mau bagaimana lagi, toh disembunyikan lama-lama juga akhirnya akan ketahuan, kau disini tidak bersalah apa-apa.


"Tapi, aku mohon! Biarkan saat ini hanya kalian saja yang tahu soal ini ya," pinta Sara.


"Oke!" ucap mereka bersamaan.


"Kalau begitu kita lanjut kerja!" seru Sara.


"Siap!" jawab yang lainnya.


"Dan semuanya akan nampak pada akhirnya, tinggal menunggu waktu kapan semuanya menjadi jelas. Aku yang disini akan tetap bersamanya atau pergi dan menerima segala rasa pahit yang memang harus dirasakan."


Like, comment, dan vote ya gais...