Love Petal Falls

Love Petal Falls
Permainan awal pun usai!


~Villa constel


Setelah menonton presscon Ryuzen barusan di TV. Sara terasa lebih lega, Gina yang ada di sebelahnya pun seolah dapat merasakan hal itu.


"Hei suamimu keren ya?" goda Gina.


"Tentu saja...." balas Sara dengan bangga.


"Iya deh...." balas Gina sambil tertawa.


"Gina, aku bahagia sekali dia memiliki perasaan yang sama denganku," ujar Sara sambil tersenyum melihat cincin yang melingkar di jari manisnya.


"Tapi Sara, Ryuzen itu bukan pria biasa, kau tahu sendiri dirinya yang adalah pebisnis nomor satu di negeri ini. Pastinya kau juga sadar betul, tidak akan mudah untuk menjadi istri seseorang seperti dirinya, pasti ada banyak musuh yang kau tidak akan pernah tahu sama sekali, bagaimana liciknya mereka. Apa kau tidak takut akan hal itu?


"Ras takut pasti ada, dan itu manusiawi. Tapi aku lebih yakin cinta kami berdua adalah benar adanya, dan aku juga tidak pernah merasa seaman ini sebelum bersama Ryuzen. Aku sudah bertekad pada diriku sendiri, untuk menemaninya dan menghadapi kesulitan bersamanya. Aku ingin salalu ada disisinya memberi kekuatan."


"Sepertinya kau memang benar-benar mencintainya ya...! Sara aku hanya bisa ikut bahagia, melihatmu kini telah menemukan cinta sejatimu, aku harap kau dan Ryuzen akan bahagia selamanya."


"Gina... terima kasih," sahutnya kemudian memeluk Gina.


-Paviliun-


Sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan sebuah paviliun yang cukup besar, Kenzo keluar dari mobil itu dan berjalan di atas jalan setapak, yang membawanya ke depan pintu masuk paviliun tersebut. Dengan dua orang pengawal yang kini membawa Lizo yang tengah pingsan.


"Tuan Kenzo apa selanjutnya?" tanya salah satu dari dua pengawal.itu.


"Bawa dia masuk ke dalam sini! Dan kalian boleh pergi setelah itu." Kenzo menunjuk ke arah pintu masuk paviliun.


"Baik Tuan!" jawab dua pengawal itu menjalankan perintah Kenzo.


~


Di villa Sara masih di temani Gina, tapi sayangnya Gina sudah harus berpamitan saat ini juga, pasalnya besok pagi-pagi sekali Gina harus terbang ke Hokaido untuk urusan yang cukup penting.


"Sara aku benar-benar minta maaf tidak bisa menemanimu lebih lama lagi." Gina mengambil tasnya dan ponselnya lalu berniat pamit pulang pada Sara.


"Oh ayolah Gina, tidak masalah! Aku paham pekerjaanmu. Sekarang kau pulanglah ... lagipula aku sudah biasa sendirian di villa ini kok!"


"Coba ada Arvin pasti kau tidak akan kesepian," pungkas Gina.


"Arvin akan pulang lusa sepertinya...," ungkap Sara lalu tersenyum.


"Wah yang benar? Sayang sekali, saat dia kembali aku malah sedang tidak ada di kota ini. Kalau begitu aku titip salam sayangku saja pada Arvin."


"Pasti akan aku salamkan," angguk Sara yang kini sudah di depan pintu mengantar kepulangan Gina.


"Sampai jumpa Sara...!" Gina melambaikan tangannya


"Ya kau juga, hati-hati di perjalanan...!" balas Sara kemudian masuk lagi ke dalam dan menutup pintu.


~


Sementara itu di paviliun Lizo yang tadinya pingsan kini mulai tersadar, ia syok karena matanya ditutup, dan tangannya diikat dengan sangat kuat. Hanya kakinya saja yang masih dibiarkan tanpa belenggu.


"Ada apa ini? Kenapa mataku ditutup! Hei siapa kalian!" Lizo berteriak-teriak dengan keras.


"Brengsek! Lepaskan aku! Sudah bosan hidup kalian!"


"Heh..." Lizo seperti mendengar suara dengusan dari seseorang, yang jaraknya tidak jauh darinya saat ini.


"Siapa itu? Keluar kau!" ujar Lizo yang tubuhnya sudah mulai berkucuran keringat karena lelah.


Seketika kain penutup mata Lizo pun di buka oleh Kenzo dari belakang. Dan setelah dibuka, Lizo pun membuka matanya, kedua mata Lizo pun langsung mendongak disambut oleh sosok yang saat ini paling ia hindari yaitu Ryuzen Han. Ryuzen dengan tatapan ingin membunuh kini berdiri di hadapan Lizo, yang duduk seolah bersimpuh di hadapannya.


"Ka... kau! Ryu- zen!" ucap Lizo terbata-bata, matanya terbelalak, wajahnya mengisyaratkan ketakutan di dalam dirinya, Lizo sang penghianat kini terlihat seperti kelinci kecil yang sedang ketakutan akan dimangsa oleh serigala lapar.


"Kenapa, Kau takut melihatku?" Ryuzen menyeringai.


"Kau pikir kau bisa membunuhku hanya dengan, segerombolan tikus bersenjata yang kau kirim itu? (Ryuzen tertawa mengejek) seharusnya kau berpikir seribu kali siapa yang kau hadapi!"


Ryuzen menginjakkan kakinya diatas kepala Lizo, Lizo pun tak bisa berbuat apa-apa tangannya diikat, dan kakinya tak kuat berdiri karena kepalanya ditahan oleh kaki Ryuzen.


"Sialan kau Ryuzen!" maki Lizo.


Bagaimana Ryuzen bisa sebugar ini setelah di keroyok dua puluh lebih bodyguard-ku itu?


Lizo heran, dan bertanya-tanya di sela-sela kepanikannya.


"Kenapa? Apa kau sedang keheranan bagaimana bisa aku tetap selamat?" Ryuzen tertawa mengejek.


"Biar aku jelaskan padamu ya Tuan Lizo yang malang..." ujar Kenzo.


flashback kejadian di kilang anggur beberapa hari yang lalu.


Ryuzen yang di paksa duduk diatas kursi , oleh salah seorang bodyguard Lizo itu pun, memberikan penawaran uang, tapi malah ditolak oleh mereka. Bodyguard Lizo justru malah langsung melayangkan bogem mentahnya ke wajah Ryuzen.


"Tuan!" teriak Kenzo yang melihat Ryuzen di hantam pukulan oleh pria bodyguard tersebut.


Ryuzen yang habis di pukul pun tidak bergerak, dia hanya menundukkan kepalanya dibalik rambut legamnya, yang menjuntai hampir menutupi wajahnya.


"Hahaha... CEO Emerald ternyata memang selemah ini!" ejek bodyguard Lizo sambil tertawa.


Bodyguard itu menjambak rambut Ryuzen dan menengadahkan wajahnya ke arah wajah si bodyguard itu.


"Kau tampan dan kaya raya, sayangnya kau lemah tanpa pengawal-pengawalmu," ujar bodyguard itu.


Ryuzen seketika malah tertawa kecil, yang kemudian diikuti tersenyum kecil pada bodyguard itu. Si bodyguard yang merasa sedang diejek oleh Ryuzen pun, menjambak rambut Ryuzen dengan lebih kuat lalu berteriak,


"Arghh... sakit! Tanganku! Tanganku patah! Arghhh..."


bodyguard itu meringis kesakitan saat Ryuzen dengan satu tangannya menghalau pukulan itu dan menekuk pergelangan tangan pria yang mau meninjunya itu kebelakang hingga patah persendiannhya. Dengan tatapan tanpa ekspresi Ryuzen bangun dari duduknya, dan langsung menedang bagian tulang kering si bodyguard itu dengan keras hingga melumpuhkan satu kakinya. Dengan cekatan Ryuzen pun merebut pistol dari si bodyguard yang memukulnya tadi, dan menodongkannya langsung di depan wajah si bodyguard.


"Kau.. kau...," ucap si bodyguard ketakutan sambil merasakan sakit yang luar biasa di pergelangan tangannya.


"Cerewet!" Ujar Ryuzen tanpa ekspresi.


#bang!


Ryuzen menembak mati langsung pria itu tepat di kepalanya.


"Kenzo!" Ryuzen memberi aba pada Kenzo.


Kenzo yang sudah paham maksud Ryuzen pun, langsung melepaskan diri dengan mudah dari salah satu bodyguard, yang sejak tadi membelenggu tangannya lalu merebut pistolnya. Melihat perlawanan Ryuzen dan Kenzo para bodyguard lain kini bersamaan menodongkan pistolnya ke arah Ryuzen dan Kenzo.


"Tuan apa yang harus kita lakukan?" bisik Kenzo yang sudah dalam mode bersiaga disebelah Ryuzen.


"Sepertinya kita memang harus bermain bersama mereka sebenatar," jawab Ryuzen dengan santainya.


Ryuzen kemudian melihat sekeliling sambil menghitung jumlah bodyguard Lizo yang tersisa, jumlahnya ada 22 ditambah yang sudah mati satu tadi ditembaknya.


"Dua puluh satu lawan dua, sepertinya tidak adil! Harusnya dua lawan dua ratus baru seru!" ungkap Ryuzen dengan senyum miringnya.


"Banyak bicara kau!" ujar salah satu dari dua puluh satu bodyguard itu, yang kemudian melesatkan tembakan dari pistolnya.


"Kenzo! Selesaikan kurang dari satu menit," ujar Ryuzen yang kini tengah melawan para bodyguard itu. Suara pistol pun saling bersahutan di kilang anggur itu.


*Bang! Bang! Bang!


"Tiga, empat, tujuh, delapan, sebelas, tiga belas..," Ryuzen selesai menghitung.


"Tiga belas orang! Lumayan setelah lama tidak pernah seperti ini," tukas Ryuzen mengokang pistol ditangannya.


"Tujuh orang! Lumayan juga," ucap Kenzo yang telah berhasil menghabisi tujuh orang bodyguard Lizo.


Dua puluh bodyguard-pun mati di tangan Ryuzem dan Kenzo, kini tinggal satu tersisa yang mana, dia adalah yang pistolnya di rebut oleh Kenzo.


"Hai tuan! Sepertinya giliranmu nih!" celoteh Kenzo menatap bodyguard yang kini lebih terlihat seperti anak ayam yang terpisah dari induknya.


"Tunggu!" ucap Ryuzen pada Kenzo, Ryuzen pun berjalan mendekati bodyguard yang kini terlihat pucat dan ketakutan itu.


"Ampun! Ampun! Kau... bukan sekedar CEO kau...?"


Ryuzen tersenyum pada bodyguard itu, "Hai, salam kenal kau dari black serpents juga kan? Perkenalkan aku Ryuzen Han atau jika kau pernah dengar Death Shadow panggil saja aku begitu!"


"Ja... jadi kau.... adalah... dia yang...?"


Bodyguard itu ketakutan bukan kepalang, mengetahui siapa Ryuzen sebenarnya.


"Kau baru kaget sekarang? Untung saja tuanku sedang baik dan mau melayani permainan kalian, kalau tidak, aku yakin kalian sudah jadi mayat sejak tadi!" ujar Kenzo.


"Tuan, kita bunuh saja dia atau bagaimana?" tanya Kenzo.


"Tunggu sepertinya aku punya ide," ucap Ryuzen diikuti seringai licik di bibirnya. Ryuzen tiba-tiba punya ide bagus, hal itu terlihat dari senyum liciknya yang tergambar jelas di wajahnya saat itu. Ia pun menatap bodyguard itu.


"Hei, kau bekerja untuk black serpents bukan? Kau pasti sudah tahu persis peraturan seorang yang bekerja untuk black serpents. Hanya ada dua pilihan saat kau kembali kesana. Pulang ke anglo dengan keberhasilan atau gagal lalu jadi mayat. Daripada kau kembali ke Anglo dan hanya jadi santapan alfred, lebih baik kau ikuti dan turuti perintahku!


"Se...setelah itu kau bisa bantu aku kabur dari kota ini Tuan?" balas bodyguard itu pada Ryuzen.


"Hem, semua itu tergantung suasana hatiku nanti, yang jelas saat ini kau hanya punya dua pilihan mau hidup atau mati, itu semua tergantung pilihanmu."


"Ba... baik! Aku akan menuruti perintah anda Tuan!" jawab pria itu dengan cepat.


"Bagus!"


Ryuzen pun memberikan pistol ditangannya pada pria bodyguard itu, dan menyuruhnya menembak lengan kirinya.


"Tapi... aku..." ucap si bodyguard gemetar ketakutan.


"Lakukan atau aku cabut nyawamu saat ini juga!" Ryuzen menatap serius.


"Baik!"


#Bang!


"Uh, cara menembakmu jelek sekali!" ejek Ryuzen yang kini sudah berdarah.


"Tuan kau baik-baik saja kan?" tanya Kenzo agak khawatir.


"Kenzo bantu aku balut luka ini!" Ryuzen menunjuk pada luka tertembak di lengan kirinya.


"Aku akan panggil dokter Jason!"


"Menunggu Jason akan terlambat, lebih baik sekarang bantu aku menghentikan pendarahannya dulu!"


"Oke!" Kenzo pun menurutnya.


Ryuzen membuka kemejanya yang sudah berlumuran darah dan memberikannya pada bodyguard tadi.


"Kau berikan kemejaku ini pada Lizo besok pagi, dan katakan padanya jika kalian sudah berhasil membunuhku! Paham!"


"Ba... baik Tuan! aku paham," ucap si bodyguard yang belum juga beranjak pergi. Ryuzen pun menatap bodyguard itu dengan tatapan elang miliknya agar si bodyguard lekas pergi dari sini. Bodyguard itu pun akhirnya bergegas pergi setelah di tatap oleh Ryuzen.


*flashback selesai.