Love Petal Falls

Love Petal Falls
Love petals bloom 161


Dokter Karen sudah selesai melakukan pengecekan kesehatan dan USG. Sara dan Ryuzen dengan mimik wajah suka cita, memandangi gambar hasil USG calon buah hati mereka.


"Aku rasa negeri ini akan punya tuan putri kecil sebentar lagi," celetuk dokter Karen.


"Jadi dokter, maksudmu anak kami yang kedua adalah perempuan?" Tanya Sara mencoba meyakinkan.


"Ya... berdasarkan hasil USG, kemungkinan besar anak kalian adalah perempuan," ujar dokter Karen, seraya tersenyum pada Sara dan Ryuzen, yang kini terlihat saling memandang satu sama lain.


"Ryuzen kau lihat! Anak kedua kita perempuan..." Sara menatap ke arah Ryuzen. Ryu pun membalas dengan membelai pipi sang istri dengan lembut, sambil menatapnya dengan penuh perhatian. "Aku tahu, dan aku yakin, pasti anak kita nanti akan jadi anak yang sangat cantik sepertimu, dan pintar sepertiku."


"Huh...!" Sara seketika malah bersungut-sungut dihadapan Ryu.


"Hei.... kenapa kau jadi cemberut begitu?" Ucap Ryu mencubit lembut dagu Sara.


"Tidak, aku hanya agak kesal saja. Kenapa harus pintar sepertimu, memangnya kalau sepertiku kenapa?"


Mendengar ucapan Sara itu, Ryuzen tak kuasa langsung merasa tergelitik. "Kalau itu... sepertinya dokter Karen juga tahu jawabannya, iyakan dokter?" Ryuzen melihat ke arah dokter Karen.


Eh kenapa aku ikut dibawa-bawa? "Um... itu... Sara..."


"Hehh... sudahlah, aku memang tidak pintar," tukas Sara pasrah.


Ryu medongakannya wajah Sara, dengan cara mencubit dagunya dengan lembut. "Kau tidak perlu jadi pintar, kau cukup jadi cantik dan penyayang saja. Lagipula... kalau kau pintar juga, nanti kau terlalu sempurna untukku."


Sara tersenyum kecil. Pria ini, kenapa hanya dengan beberapa kalimat saja, sudah bisa membuatku senang begini!


"Kau menyebalkan!" Ujar Sara sambil mencubit manja tubuh Ryu.


~~


Di kediamannya, Biyan menjelaskan rencananya kepada Renji. "Jadi maksudmu... kau akan mencoba membuat Ryuzen memilih dan..."


"Dan kau ikuti saja permainanku tuan Renji... kali ini aku yakin, kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan," pungkas Biyan dengan begitu yakin.


Kebalikannya, Renji justru tidak yakin sepenuhnya dengan rencana Biyan, mengingat pria itu bak ular berbisa yang sewaktu-waktu bisa saja malah balik menyerangnya. Bagaimanapun, Renji tidak boleh lengah. "Baiklah... kau atur saja tuan Biyan, yang jelas kau tidak boleh melakukan hal apapun yang membahayakan Sara. Karena jika sampai terjadi sesuatu padanya... maka aku pastikan, kau yang akan mati ditangaku!" Renji tampak serius kala memperintatkan Biyan soal Sara.


Biyan Dao tentu tidak bisa mengabaikan peringatan Renji barusan, mengingat Renji saat ini masih bisa menjadi ancaman baginya. "Kau tenang saja... aku paham keinginanmu Tuan." Seringai senyum yang terlukis diwajah itu, seperti pertanda buruk yang kapan saja bisa datang. Bagaimana? Apa semua ini akan benar-benar terjadi?


~~


"Selamat pagi Tuan, ada apa kau memanggilku pagi-pagi begini?" Tanya Kenzo yang baru saja masuk mengahadap Ryuzen di ruangannya. Ryuzen tiba-tiba memperlihatkan sebuah kalender ke hadapan Kenzo. Tentu saja asisten pribadinya itu jadi bingung dibuatnya, melihat apa yang dilakukan oleh Ryu. "Ma- maksudmu apa Tuan?"


"Kau lihat tanggal yang sudah kuberi tanda?"


"Iya, aku melihatnya tuan, lalu?"


Ryuzen pun mulai menjelaskan apa maksud dirinya memanggil Kenzo ke hadapannya. Ternyata Ryuzen meminta Kenzo menyiapkan sebuah acara spesial, untuk merayakan hari jadi pernikahannya dengan Sara yang ke dua tahun.


"Wah... iya aku baru ingat! Lusa kan Anniversary-mu dengan Nona, aku sampai lupa..." Kenzo menepuk dahinya.


"Oleh karena itu, aku minta kau persiapkan segalanya dengan baik!"


"Siap tuan! Aku pasti akan siapkan segala persiapannya, persis seperti yang kau minta."


"Oh iya, selain itu ada lagi... mengenai Biyan Dao, bagaimana pantauanmu hingga saat ini?" Ryuzen harus memastikan jika Biyan Dao tidak melakukan hal-hal yang mencurigakan.


"Soal Biyan Dao, akhir-akhir ini belum ada hal yang mencurigakan. Orang-orang suruhanku juga bilang, beberapa hari ini, tidak ada laporan apapun terkait pergerakam Biyan Dao."


Ryu mengerutkan keningnya, entah mengapa dirinya yakin jika pamannya itu sedang menyusun rencana licik saat ini. Tapi aku jelas tidak boleh lengah, karena meski kekayaan Biyan di luar negeri sudah di sita, tapi koneksi Biyan bisa dibilang sangatlah luas, aku harus hati-hati. Dia pasti punya trik yang lebih licik dari sebelumnya, untuk mengahancurkanku. Ditambah lagi.... Ryuzen tak kuasa mengepalkan tangannya, ia merasa geram memikirkan rencana-rencana licik musuh-musuhnya.


"Ya Kenzo, kau boleh pergi sekarang."


Kenzo pun pamit dan pergi meninggalkan ruangan Ryuzen.


Ryu meletakan kedua sikunya diatas meja, menopang keningnya menunduk menenangkan pikirannya. Biyan Dao, Renji Haoran.... mereka sesungguhnya tidak akan melepaskan aku hingga tujuan mereka tercapai. Aku harap semuanya akan baik-baik saja.


~~


Di sebuah pusat perbelanjaan, Sara tampak tengah berada di toko furniture, untuk berbelanja beberapa kebutuhan rumah tangga. Sara pun terlihat asyik memilah-milah berbagai macam perlengkapan untuk rumah, mulai dari tirai dan beberapa perlengkapan seperti serbet, dan vas bunga. Sara sejatinya memang sanagt suka berbelanja kebutuhan rumah, baginya hal itu adalah sebuah hobi.


Hingga tanpa sadar, dirinya sudah berada dilorong yang memajang berbagai hiasan dinding. Sara melihat beberapa hiasanya yang cantik, ia berpikir untuk membelinya sebagai salah satu hiasan dikamar calon anak keduanya nanti. Dan tanpa butuh waktu lama, mata Sara langsung tertuju pada sebuah wallpaper berwarna peach yang membuatnya jatuh hati.


Sara pun segera beranjak untuk meraih wallpaper tersebut, namun letaknya yang agak tinggi, membuatnya Sara jadi kesulitan untuk menjangkaunya. Ditambah perutnya yang kini sudah semakin terlihat membesar, membuatnya tidak mungkin untuk berjinjit, dan meraihnya. Tapi beruntung, baru saja Sara ingin meminta tolong pada pelayan toko, tiba-tiba munculah seseorang dari arah belakangnya dengan tiba-tiba, dan mengambilkan barang yang diinginkannya itu dengan sukarela.


"Ini...!" Ujar seseorang yang suaranya seperti tidak asing di telinga Sara. Ia menyodorkan gulungan wallpaper tersebut dari belakang. Tentu saja, Sara pun langsung menoleh ke belakang, guna mengetahui siapa orang yang telah membantu mengambilkan barang yang ia perlukan itu. Sara sontak terkesiap dibuatnya, mengetahui jika orang yang tengah membantunya adalah Renji. Namun, kali ini Sara tidak seperti waktu itu, kali ini ia terlihat lebih tenang dan tidak takut dengan kehadiran Renji dihadapannya saat ini.


"Ini..." Renji kembali menyodorkan wallpaper yang diambilnya itu kepada Sara.


"Terima kasih," balas Sara menerimanya. Sara terlihat agak menghindari kontak mata dengan Renji, jujur saja meski tidak takut, tapi Sara merasa masih agak kikuk jika bertemu Renji tiba-tiba begini.


"Hai..." ujar pria tinggi dihadapan Sara dengan ramah.


"Hai," balas Sara dengan setenang mungkin.


"Kau...disini sendirian?" Tanya Renji.


"Ya, aku hanya diantar oleh supir."


Renji memicingkan matanya, Bagaimana bisa Ryuzen membiarkan Sara pergi sendirian! "Um, Sara tapi kenapa kau pergi sendiri, dimana Ryuzen? Jangan bilang diaใƒผ"


"No! Ryuzen tidak tahu kalau aku kemari sendirian, lagipula aku kemari hanya sekedar berbelanja saja. Jadi aku pikir... aku tidak perlu ditemani."


Renji hanya bisa tersenyum hambar mendengar alasan Sara. Wanita ini apa tidak takut hal buruk sama sekali... jelas-jelas suaminya memiliki banyak musuh!


"Kau terlalu defenseless Sara...!" Tukas Renji.


Huh? "Apa maksudmu Renji?"


"Oh... bu- bukan apa-apa. Sejujurnya aku hanya ingin bertanya... apa kau mau pergi ke kafe bersamaku? Um... maksudku, kita sekedar mengobrol sebentar, seperti, anggap saja memperbaiki hubungan kita. Tapi... itupun kalau kau bersedia."


Sara terdiam, wajahnya tampak bimbang memikirkan ajakan Renji barusan. Aku ingin menolaknya, tapi... bagaimanapun Renji telah menyelamatkan aku malam itu, aku tidak mungkin menolaknya mentah-mentah.


Sementara Renji, dirinya hanya bisa bersabar, menunggu jawaban dari wanita dihadapannya itu atas ajakannya.


"Um... Baiklah Renji, aku mau."


"Sungguh?" Seketika senyuman pria itu mekar menghiasi raut wajahnya yang tampak begitu senang.


Maaf Ryu... tapi sekali ini saja, aku ingin membalas sedikit jasa Renji.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Halo fellas... semoga kalian dalam keadaan sehat ya...


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novelku. Jangan lupa LIKE, COMMENT, dan VOTE-nya ya...


God bless us ๐Ÿ™