Love Petal Falls

Love Petal Falls
Love petals bloom 2


Setibanya di area sekolah, Sara langsung berjalan menuju tempat dimana Arvin biasa menunggu untuk di jemput. Dirinya pun dengan perasaan senang, langsung menghampiri Arvin yang saat itu sudah duduk di koridor sekolah menanti seseorang untuk menjemputnya.


"Arvin...!" pekik Sara.


Sara tak kuasa menahan rasa senangnya, kala melihat putranya yang sudah lama tak pulang itu.


Karena ada banyak kegiatan disekolah, dan lomba-lomba yang akan diikutinya untuk mewakili sekolah. Maka hal itu juga yang membuat Arvin terpaksa diharuskan menginap di asrama lebih lama dibanding teman sekolahnya yang lain.


Arvin yang mendengar suara sang mamin, langsung berlari menghampiri Sara yang sudah datang untuk menjemputnya.


"Mami...!"


"Aku merindukanmu sayang...!" ucap Sara sambil memeluk erat putranya tersebut.


"Hais... Mami mulai deh, memperlakukanku seperti bayi lagi," protes Arvin.


"Iya maaf... habisnya Mami terlalu senang."


"Aku juga rindu Mami."


Sepasang ibu dan anak itu pun berpelukan untuk beberapa saat, hingga akhirnya saling melepaskan.


"Kalau begitu sekarang ayo kita pulang...!" seru Arvin yang sudah tidak sabar untuk pulang.


"Baiklah ayo...."


Saat Sara dan Arvin membalikan tubuhnya untuk menuju ke arah pintu keluar sekolah, tiba-tiba munculah tiga orang wanita yang tidak lain adalah, ibu dari anak-anak yang dulu pernah memfitnah Arvin memukuli mereka. Sara yang melihatnya hanya mengabaikan mereka, karena dirinya tidak ingin bermasalah apa lagi bertengkar dengan mereka lagi.


"Tunggu!" ujar salah satu dari tiga wanita tersebut.


Sara tak menghiraukannya dan tetap berjalan melewati mereka. Tapi sayangnya malah dengan sengaja, salah satu dari mereka menghalangi langkah Sara. Merasa terganggu dengan ulah mereka Sara pun mau tak mau harus berujar pada ketiga wanita itu, "Nyonya-nyonya sekalian, kalian bisa kan tidak menghalangi langkahku!"


"Kenapa memangnya sudah berani? Oh... aku tahu, kali ini kau sudah merasa hebat jadi sekalian mau pamer karena pakaianmu, sepatu, dan tas yang kau kenakan saat ini sudah bagus dan bermerk! Cih dasar wanita kampung!" ejek salah satu dari ketiga wanita itu.


Sara pun menegur balik wanita itu. "Maaf, aku kira harusnya anda tahu ini sekolah, jadi tolong jaga ucapan anda ya Nyonya!"


"Heh sudah berani melawan dengan sombong ya wanita kampung ini!" cibir salah satu dari tiga wanita itu.


"Nyonya-nyonya yang terhormat, sejak awal aku kemari hanya untuk menjemput putraku, tapi kalian yang malah sengaja menggangguku. Dan aku tidak peduli soal yang kau bilang itu. Lagipula kalau semua yang aku kenakan ini mahal dan bermerk memangnya kenapa, toh aku beli bukan dengan uang kalian!" balas Sara


Arvin yang melihat sang mami diejek begitu pun merasa tidak bisa tinggal diam, Dirinya pun malah ikut angkat bicara.


"Bibi! Kenapa sih bibi bertiga ini suka mengganggu mamiku? Kalian itu sebenarnya cuma iri saja kan sama mamiku, yang kenyataannya jauh lebih cantik dan lebih muda dari kalian!" ujar Arvin.


"Dasar anak kurang ajar! Beraninya kau menghina kami. Kau pikir kau itu siapa huh?" bentak salah seorang ibu itu dengan nada marah dan kesal.


"Nyonya, anakku hanya membelaku dan aku rasa itu hal yang wajar, jika seorang anak membela ibunya yang diganggu. Jujur saja ya, aku tidak ingin terlibat masalah lagi dengan kalian, jadi aku harap kalian biarkan kami lewat," tutur Sara.


"Heh! Sombong sekali kau wanita kampung! Kau pikir kau siapa?" ujar salah seorang dari ketiga wanita itu dengan marah.


"Dia istriku!"


Tiba-tiba suara berat muncul dari ujung koridor. Semua orang yang ada menoleh ke arah suara berat itu berasal. Seorang pria tinggi dan gagah dengan balutan setelan jas yang menempel dengan sangat pas di tubuhnya, kini tengah berjalan ke arah dimana Sara dan Arvin berada.


Melihat sosok pria itu Arvin pun langsung terlihat senang tak terkira.


"Papi...!" seru Arvin melihat Ryuzen dengan segala kharisma miliknya berjalan menapaki koridor sekolahnya. Semua mata pun kini benar-benar tertuju padanya, tak terkecuali ketiga wanita itu yang tiba-tiba diam tanpa kata, dan hanya bisa melongo tak percaya.


Berbagai ujaran pun mulai bersahutan dari mulut orang tua murid lain, melihat kedatangan Ryuzen kala itu.


"Eh itu bukannnya CEO Emerald?


"Masa?"


"Sepertinya aku pernah lihat pria itu!"


"Itu kan Ryuzen Han pengusaha paling tersohor di negeri ini."


"Astaga tampannya dia!"


"Jadi dia punya anak di sekolah ini?"


Ryuzen pun langsung merangkul mesra Sara di hadapan semua orang yang ada di area sekolah saat itu. "Kalian bertiga yang siapa?" ujar Ryuzen dengan tatapan tidak suka pada ketiga wanita itu.


"Kenapa kau kemari?" bisik Sara.


"Kau lama, dan tiba-tiba instingku mengatakan aku harus segera menemuimu," balas Ryuzen.


"Papi... ketiga bibi ini mengganggu mami terus!" Arvin pun mengadukan hal tersebut pada papinya. Ryuzen kemudian langsung menatap tajam pada ketiga wanita itu.


"Kalian berani mengganggu istriku?"


"Ka... kami, kami hanya...."


"Cukup!" ujar Ryuzen yang tak ingin mendengar ada bantahan apapun.


"Aku hanya ingin kalian semua yang ada di sini paham, siapapun yang berani mengganggu atau mengusik istri dan anakku. Aku pastikan kalian akan menyesal seumur hidup, kalian mengerti?!"


"Dan untuk kalian bertiga!" Ryuzen menatap ketiga wanita itu


"Aku pastikan suami-suami kalian tidak akan bisa lagi bekerja di perusahaan manapun di negeri ini!" ucap Ryuzen dengan nada yang terdengar mengancam.


"Tuan, tolong jangan buat suami-suami kami kehilangan pekerjaan, kami punya anak yang harus kami nafkahi."


"Kami berjanji tidak akan berani lagi mengganggu ataupun melakukan hal ini lagi pada istri anda," ujar ketia wanita itu bergantian sambil menangis.


Melihat ketiga wanita itu memohon hingga bersimpuh. Jujur Sara tak tega melihatnya, mengingat mereka yang juga seorang ibu yang memiliki anak. Jika suaminya tak bekerja maka anak-anak mereka pasti yang akan menderita. Akhirnya Sara pun mencoba meminta pada Ryuzen agar mau memaafkan mereka. Ia pun berbisik pada Ryuzen.


"Ryuzen, tolong kau maafkan saja mereka, bagaimanapun mereka memiliki anak yang harus mereka besarakan! Aku tahu persis betapa sulitnya mencari pekerjaan, jadi tolong maafkan saja mereka ya....?" pinta Sara.


"Terkadang aku kesal melihatmu yang terlalu baik Sara, lagipula untuk apa aku memaafkan mereka!"


"Suamiku sayang, aku mohon...." bujuk Sara dengan lembut.


"Baiklah, kau bosnya!" ucap Ryuzen yang tak bisa menolak permintaan istrinya tersebut.


Sara kemudian maju satu langkah dan berdiri tepat di hadapan ketiga wanita itu.


"Kalian bertiga, cepat minta maaf padaku!" seru Sara.


"Kalian dengar kan, apa kata istriku!"


Takut akan ancaman, akhirnya ketiga wanita itu pun langsung meminta maaf secara pribadi pada Sara satu persatu.


"Kalian ingat, jika kalian berani besikap tidak baik lagi dan menggangguku atau anakku. Aku tidak akan lagi berbaik hati pada kalian," tutur Sara.


"Baik kami paham, terima kasih nyonya...!" balas mereka serentak.


"Sekarang, lebih baik kalian pergi dari hadapanku, dan berjanjilah untuk menjadi ibu dan istri yang baik!" ucap Sara.


"Baik kami akan pergi nyonya,"


"Kami juga berjanji."


Setelah itu mereka bertiga pun akhirnya segera pergi dari hadapan Sara.


"Kau senang sekarang?" tanya Ryuzen.


"Terima kasih suamiku...." ucap Sara diikuti senyuman miliknya.


"Sama-sama, sayang! Apapun yang membuatmu senang. Maka kewajibanku adalah untuk memenuhinya," ucap Ryuzen yang hampir saja mau mencium Sara.


"Ehem!" Arvin berdeham


"Papi sebagai orang dewasa yang sedang jatuh cinta, ingat! Kalian masih di lingkungan sekolah lo...." terang Arvin.


Untungnya deham Arvin berhasil menghalau sang papi melakukan hal itu pada istrinya.


"Heh, aku benci peraturan!" gumam Ryuzen terlihat tidak senang. Sara sendiri hanya bisa tertawa kecil melihat Ryuzen yang kesal karena keinginannya itu harus terhalang oleh tempat.


"Kalau begitu, ayo kita pulang!" seru Arvin menggandeng kedua orang tuanya di kanan dan kirinya.


Melihat keluarga kecil Sara berjalan beriringan, para orang tua lain pun saling melontarkan kalimat-kalimat rasa iri sekaligus pujian untuk keluarga kecil bahagia itu.


"Mereka benar-benar serasi...!"


"Ternyata nona itu, istrinya orang terkaya nomor satu di negeri ini...! Cocok sih mereka, tapi apa benar?"


"Andai aku ada di posisi Sara chen."


"Jadi gosip yang beredar selama ini salah ya?"


"Bisa saja ini cuma sandiwara saja."


Melihat orang-orang memperhatikan mereka, Sara pun agak jadi tidak nyaman dibuatnya.


"Jangan pedulikan ucapan mereka! Kau tenang saja, aku pasti akan menjaga serta melindungimu dan Arvin," ujar Ryuzen dengan santai dan tenang. Mendengar itu Sara pun jadi lebih tenang.


~


Di sepanjang jalan menuju ke kediaman Han, Arvin terus terlihat bahagia. Bagaimana tidak, pasalnya ini kali pertama kedua orang tuanya langsung datang untuk menjemputnya dari sekolah.


"Mami... kita memangnya kita mau kemana? Kok sepertinya ini bukan jalan menuju ke villa ya?" ujar Arvin yang menyadari rute yang ia lewati tidak sama seperti yang biasanya di lewati jika pulang ke villa Constel.


"Hari ini kita akan pergi bertemu dengan nenek buyut," jelas Sara.


"Nenek buyut, maksudnya neneknya papi?"


"Nenekku itu orang yang sangat baik dan lembut, kau pasti akan suka padanya..." ujar Ryuzen yang duduk di sisi kiri Arvin.


"Benarkah?"


"Tentu saja," balas Sara tanda mengiyakan ucapan Ryuzen barusan.


Mendengar ucapan Ryuzen barusan membuat Arvin jadi makin tidak sabar ingin bertemu sang nenek buyutnya itu.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


LIKE, COMMENT, VOTENYA YA... TERIMA KASIH!๐Ÿ™