
“Hei, kenapa kau menangis? “ tanya Arvin menghampiri gadis kecil yang sedang menangis itu.
“Hua.. hiks..., balonku tersangkut diatas pohon hiks!" jawab gadis kecil itu sambil menangis tersedu-sedu.
Arvin pun langsung mendongakan kepalanya ke atas pohon tempat balon itu tersangkut, Arvin yang tidak tega melihat gadis kecil itu menangis pun berniat mengambilkan balon yang tersangkut itu.
“Biar aku ambilkan ya," ucap Arvin yang kemudian memanjat pohon tersebut.
“Aku sudah sering memanjat pohon di sebelah rumah kakek Huang, jadi hal seperti ini pasti tidak terlalu sulit buatku**," ucap Arvin di dalam hati.
“Kakak kecil hati-hati!” seru gadis kecil itu memperingatkan Arvin dari bawah.
Sialnya ternyata ranting pohon yang dipijak Arvin sudah rapuh dan...
#krekk (suara kayu patah)
“Aaaa...!” teriak Arvin.
“Dapat!" seru seseorang menangkap Arvin dari bawah.
Arvin kini masih memejamkan matanya sambil meringkukan tubuhnya. “Eh, kok tidak sakit sih? Jangan-jangan aku sudah berada di surga,” pikir Arvin yang kemudian perlahan membuka matanya.
“Kau tidak apa-apa bocah?!" tanya seorang pria dewasa yang menggendong Arvin di lengannya.
“Iya aku baik-baik saja," ucap Arvin pada sang paman yang menyelamatkan dirinya itu.
*Pria yang menyelamatkan Arvin ternyata dalah Ryuzen. Jadi saat Ryuzen sedang bediri sambil menghisap rokoknya. Ryuzen dari jauh menyadari jika ranting pohon yang akan dinaiki oleh Arvin sudah rapuh dan akan patah, oleh karena itu dirinya langsung berlari kilat dan menangkap Arvin.
Setelah menurunkan Arvin dari gendongannya, Ryuzen menatap ke atas pohon ke arah balon biru yang menyangkut itu. Lalu dirinya pun melompat dengan gesit, dan dengan mudah mengambil balon tersebut kemudian memberikannya pada Arvin.
“Ini...!" ucap Ryuzen dengan nada datar dan menyodorkan balon tersebut ke Arvin.
Arvin pun mengambil balon itu dari tangan Ryuzen dan memberikannya pada gadis kecil yang menangis tadi.
“ini..., lain kali jangan kau lepaskan lagi balonnya ya.”
Arvin sambil menyerahkan balon itu pada si gadis kecil.
“Iya, aku tidak akan melepaskannya lagi," ucap gadis kecil itu yang sudah sejak tadi berhenti menangis.
“Terimakasih Kakak kecil, terimakasih juga Paman ganteng," ucap si gadis kecil itu yang kemudian pergi.
Suasananya tiba-tiba jadi sunyi, Arvin dan Ryuzen sama-sama tidak bicara apa-apa, hingga Arvin akhirnya mengeluarkan kata-kata dari mulutnya,
“Terimakasih Paman!" ungkap Arvin.
“Tidak masalah!" jawab Ryuzen dengan ekspresi datar, kemudian Ryuzen mengambil sebatang rokok dari sakunya untuk ia nyalakan, akan tetapi....
“.…” Ryuzen yang baru akan menyalakan korek apinya tiba-tiba berhenti dan melirik ke arah Arvin.
“Kata mamiku, pria dewasa tidak boleh sembarangan merokok di depan anak kecil!" ucap Arvin dengan polosnya pada Ryuzen.
Mendengar ucapan Arvin, Ryuzen mengangkat sebelah alisnya dan kemudian tidak jadi menyalakan rokoknya.
“Aku tidak suka dengan anak kecil yang sok tahu sepertimu, tapi yang kau bilang itu memang benar adanya,” balas Ryuzen
“Tentu saja, lagi pula kalau aku salah memang Paman mau apa? Memukulku? Memarahiku? kata Bibi Gina, Anak kecil itu dilindungi oleh undang-undang Negara, jadi kalau kau berani pukul aku nanti kau bisa masuk penjara!” ucap Arvin dengan gayanya yang bak orang dewasa.
Ryuzen kembali melirik ke arah Arvin danmenyeringai kecil. “Kau bicara begitu, memangnya kau paham tentang apa yang kau bicarakan?“ tanya Ryuzen
“Oh tentu saja, walau usiaku baru empat tahun tapi kecerdasanku itu diatas rata-rata anak seusiaku," jelas Arvin dengan bangga.
Ryuzen kembali mengangkat sebelah alisnya dan berbicara dalam pikirannya,
“Anak ini menyebalkan, tapi aku suka cara bicaranya yang penuh keyakinan tanpa rasa takut sedikitpun, meski berhadapan denganku yang notabennya adalah orang asing baginya."
“Hei bocah! Aku suka cara bicaramu yang percaya diri itu. Lanjutkan sifatmu yang seperti itu ya,” ucap Ryuzen yang megusap kepala Arvin dengan telapak tangannya yang lebih besar dari diameter kepala Arvin.
Ryuzen yang sudah melangkahkan kakinya untuk pergi, tiba-tiba dipanggil oleh Arvin,
“Paman!"
Ryuzen menengok dan berbalik badan.
“Bisakah kau merendahkan tubuhmu sebentar?" pinta Arvin pada Ryuzen
“Apa yang anak ini mau lakukan?" pikir Ryuzen namun tidak merasa curiga.Dan entah mengapa Ryuzen seperti tidak bisa menolak permintaannya, Ryuzen pun langsung merendah seraya berlutut dengan satu kakinya.
Setelah Ryuzen merendahkan tubuhnya, tiba-tiba Arvin memeluk Ryuzen erat. Ryuzen agak tersentak karena baginya ini pertama kalinya ia dipeluk oleh anak kecil seusia Arvin.
Dan tanpa ragu Ryuzen pun membalas pelukan Arvin. Setelah saling berpelukan kemudian Arvin pun melepaskan pelukan eratnya pada Ryuzen dan mengatakan ;
“Paman, aku tidak pernah melihat pria dewasa sepertimu. Aku menyukaimu, aku ingin sekali bermain denganmu, sekarang aku harus pergi dulu karena bibi Gina pasti sedang mencariku, semoga kita bisa bertemu lagi ya Paman! bye bye....” ujar Arvin yang kemudian pergi meninggalkan Ryuzen.
Dari tempatnya Ryuzen terus memandangi kepergian Arvin. Dan anehnya bagi Ryuzen yang tidak terlalu menyukai anak kecil, kenapa dirinya bisa semudah itu akrab dengan Arvin.
“Perasaan ini aneh!" gumam Ryuzen dengan ekspresi dingin dan datar.
⚘⚘⚘
Bersambung...
Like, comment, vote jangan lupa