Love Petal Falls

Love Petal Falls
Love petals bloom 150


Kenzo dan Jason jelas langsung tercengang dibuatnya, mendengar pengakuan Ryuzen yang tiba-tiba. Seolah belum sepenuhnya yakin dengan apa yang diucapkan sahabatnya itu, Jason pun kembali memastikannya. "Ryu... kau jangan bercanda, ini benar-benar tidak lucu, kau tahu!"


"Apa aku terlihat sedang bercanda Jason?"


Kenzo yang sejak tadi tampak diam, hanya bisa terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Sebagai asisten kepercayaan Ryu selama bertahun-tahun, Kenzo jelas masih tampak tidak yakin dan menerima pernyataan bosnya itu. Apa benar tuan muda benar-benar membunuh adiknya Renji? Tapi kenapa?


"Ryuzen... jelaskan padaku! Bertahun-tahun lamanya dan kau tiba-tiba berujar begitu. Pasti ada penjelasan lain kan?" Tanya Jason yang berharap Ryu segera menjelaskan, apa maksud ucapannya barusan. Karena Jason sendiri masih tidak yakin, bahwa Ryu melakukan hal itu pada Renji yang notabennya dulu adalah orang yang dekat dengannya. Ryuzen mungkin kejam tapi dia tidak akan melakukan hal macam itu pada orang yang dekat dengannya.


Bukan menjawab Jason, Ryu malah melihat jarum jam pada arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. "Maaf Jason, tapi sepertinya aku dan Kenzo harus segera pergi. Pesawat yang akan kami naiki sudah siap!"


"Tidak Ryu! Kau jangan pergi dulu, aku masih perlu mendegar pejelasan darimu!"


"Kenzo!" Ryuzen berujar menandakan agar Kenzo mengikuti apa yang ia maksudkan.


"Siap Tuan!"


"Oh ayolah... kalian kan naik pesawat pribadi, jadi tidak apa-apa kan jika terlambat sedikit!" Jason masih mencoba menghalangi Ryu agar tidak segera pergi, sebelum memberikannya penjelasan soal Alex secara detail.


Ryuzen tidak menggubris Jason dan tetap melangkah pergi. Jason mencoba menghalanginya dengan menarik pundak sahabatnya itu. "Ryu....!"


Ryuzen menoleh dan menatap Jason dengan tatapan tidak sukanya. "Jason, kau tahu bukan! Aku paling tidak suka didesam! Jadi singkirkan tangamu, atau aku buat tanganmu hancur!" Suara Ryuzen begitu berat, dan bahkan bernada mengancam.


"Sorry...!" Jason pun segera melepaskan tangannya dari pundak Ryu.


"Kenzo cepat!" Seru Ryuzen lagi pada sang asisten.


"Baik tuan!" Sahut Kenzo yang mengikuti langkah pergi Ryuzen.


Ryuzen pun pergi meninggalkan ruangan Jason dengan persaan kalut. Maaf Jason, belum saatnya kau tahu sepenuhnya soal kejadian itu.


Sementara di ruangannya, Jason yang sendirian hanya bisa duduk bersandar untuk merileksasi tubuhnya yang sempat tegang karena ucapan Ryu tadi. "Heh... pria itu... kenapa hidupnya selalu penuh teka teki! Aku hanya bisa berdoa, semoga masalahmu cepat selesai Ryuzen!" Ujar dokter Jason sambil memijat pelipisnya.


~~


Di kediaman sang kakek, Arvin tampak sedang menghabiskan sarapannya bersama Jordan. Melihat Arvin melahap makanannya, Jordan begitu senang dibuatnya. Tentu saja, ini pertama kalinya Jordan bisa menikmati sarapan bersama sang cucu tercinta bukan?


"Kakek, kenapa melihat ke arahku terus? Memang ada yang aneh dengan caraku makan?" Ujar Arvin yang sadar jika sejak terus dipandangi oleh sang kakek.


"Tidak ada yang salah, aku hanya sedang merasa senang bisa menghabiskan sarapan bersama cucu kesayangnku," ungkap Jordan diikuti senyum ramah penuh wibawa.


"Oh... begitu...?"


"Kenapa nada bicaramu lesu begitu? Kau tidak suka ya sarapan hanya dengan kakek?" Tanya Jordan melihat cucunya seperti kurang bersemangat.


Arvin menggelengkan kepalanya pelan. "Bukan begitu...! Aku senang bisa sarapan bersama kakek disini, tapi... aku rasa akan lebih baik jika ada mami dan juga papi bersama kita disini...."


Jordan mengangguk paham, "Kau pasti rindu pada orang tuamu ya?"


Arvin mengangguk."Tapi papi sama mami sibuk, aku tidak mau mengganggu mereka dan terlihat manja," keluh Arvin sambil memaikan alat makannya.


Tidak ingin melihat cucu kesayangannya berlarut-larut sedih, dan jadi tidak bersemangat. Jordan pun segera mengeluarkan tabletnya, dan menghadapkan layar tablet itu di depan Arvin.


"Huh? Untuk apa?" Arvin tidak tahu apa yang ingin dilakukan sang kakek dengan tablet yang ada dihadapannya ini.


"Kau simak saja...!" Ujar kakek Jordan pada Arvin.


Tentu saja Arvin pun langsung mengindahkan pertkataan sang kakek, untuk menyimak layar tablet tersebut. "Ini...?" Arvin tiba-tiba dibuat terperangai senang, kala menatap layar tablet itu.


Ternyata sang kekek memutarkan rekaman Sara dan Ryu yang memang ditujukan untuk cucunya itu. Sudah pasti Arvin pun sangat antusias menyaksikan video kedua orang tuannya. Di dalam video tersebut, kedua orang tua Arvin yakni Sara dan Ryuzen, saling menyatakan permintaan maaf dan kerinduannya pada Arvin. Mereka meminta maaf karena pergi mendadak dan meninggalkan Arvin.


Setelah menyaksikan video kedua orang tuanya tadi, Arvin pun merasa lebih baik, setidaknya ia tahu jika mami dan papinya baik-baik saja disana. Meski dirinya tetap saja ada rasa kesal karena ditinggal, tapi Arvin sadar dirinya tidak boleh membuat sulit kedua orang tuanya itu, terlebih dirinya akan segera jadi kakak.


"Bagaimana? Sudah lebih baik setelah menonton video itu?" Tanya kakek Jordan


"Hem!" Angguk Arvin yang terlihat sudah lebih semangat dari sebelumnya.


"Baguslah...aku senang melihatnya. Sekarang habiskan sarapanmu, karena setelah sarapan kakek akan ajak bertemu Alfred (Si harimau benggala yang ada di Anglo)


"Benarkah? Asyik...!" Dijanjikan melihat Alfred si harimau milik sang kakek, Arvin pun langsung buru-buru menghabiskan sarapannya. Jordan pun spontan tersenyum menatap kembali Arvin yang tengah menghabiskan sarapannya. Nak... mungkin hanya ini yang bisa kakek lakukan untukmu dan demi membantu ayahmu.


~~


Di dalam jet pribadinya, Ryu tampak duduk di kursi mewah yang di desain elegan, sambil menikmati segelas wine sambil menatap ke arah luar jendela. Kenzo yang tengah menghadap laptop, serta duduk tak jauh dari tempat Ryuzen pun melirik ke arah bosnya tersebut. Ia yakin pasti bosnya itu tengah merasa tidak baik-baik saja saat ini.


Kalau ada nona mungkin tuan muda akan sedikit lebih tenang, tidak seperti sekarang ini. Meski seringkali di-bully oleh tuannya itu, tapi melihat Ryuzen yang diam dan tak bicara sama sekali membuat Kenzo sangat tidak nyaman dibuatnya. Huft! "Ehem! Tuan Ryu...! Apa yang sedang kau khawatirkan?"


Ryuzen tiba-tiba menegguk anggurnya sampai habis. "Kenzo! Menurutmu... siapa yang akan lebih di percaya Sara... ucapanku atau apa yang ia lihat?"


"Huh?" Kenzo bingung harus mengatakan apa, karena jika ditelisik dari sisi penyedilidikan polisi, hasil sidik jari dan juga jenis peluru yang tertancap di tubuh Alex jelas menunjukan Ryuzenlah yang memang membunuh Alex. "Um... tuan, aku...."


"Sudahlah! Kau tidak perlu memikirkannya. Kerjakan saja apa yang aku minta!"


"Baik tuan!" Huft! Perasaanku jadi tidak enak memikirkan bagaimana jika nona Sara tau soal kematian Alex Haoran. Jujur... akupun masih bertanya-tanya soal yang diceritakan tuan muda. Tapi aku berharap tuanku tetaplah tuanku yang tidak selicik kelihatannya.


~~


Sore hari di kediaman Han, Sara yang ditemani bibi Rachel, terlihat sibuk menyirami tanaman dan bunga-bunga yang berada di halaman belakang kediamannya. Sara tampak begitu menawan tanpa polesan make up, dengan balutan casual dress sabrina berwarna kuning, diatas lutut. Dirinya tampak memesona berdiri di antara pancarona bunga-bunga yang mekar.


"Aku tidak capek kok bibi, justru kalau hamil itu tidak boleh hanya diam saja. Melakukan kegiatan-kegiatan kecil seperti ini justru bagus kata dokter," ungkap Sara yang masih terus menyirami bunga-bunga tersebut.


"Baiklah... jika nona mau anda begitu."


Ditengah-tengah aktivitasnya menyirami tanaman dan bunga-bunga, tiba-tiba saja ponsel Sara berdering. "Bibi Rachel bisa tolong ambilkan ponselku?"


"Tentu saja nona." Bibi Rachel pun mengambilkan ponsel Sara yang berada di atas meja taman. "Ini Nona ponsel anda."


"Terima kasih bi," balas Sara yang kemudian menukar alat penyiram tanamannya, dengan ponsel yang dibawakan bibi Rachel.


Sara langsung mengambil duduk di bangku taman, lalu mengangkat panggilan yang ternyata dari Thomas.


"Ya, Thomas ada apa?"


........


"Oh...begitu ya?"


........


"Hem, baiklah... aku akan segera kesana!" Ujar Sara yang kemudian mengakhiri panggilan tersebut.


"Sepertinya aku harus pergi! Tapi Ryu melarangku untuk pergi keluar saat ini." Aku rasa kalau sebentar saja sepertinya tidak apa-apa kan? Sara pun bangkit dari duduknya, dan berjalan menuju ke dalam rumah. Melihat Sara yang sepertinya agak terburu-buru, Bibi Rachel pun spontan bertanya, "Nona ada apa? Kenapa kau terlihat buru-buru begitu?"


"Bi, aku harus ke toko sekarang. Sepertinya ada beberapa urusan yang mengharuskanku pergi ke c lovely."


Bibi Rachel sontak langsung menahan Sara, "Tidak boleh Nona, kata tuan kau kan tidak boleh meninggalkan kediaman sampai dia kembali. Jadi aku mohon jangan lakukan itu ya...!"


Sara jadi bingung, tapi bagaimanapun sebagai owner dirinya harus pergi ke tokonya untuk urusan ini. "Bibi... aku hanya pergi sebentar... saja, paling lama satu jam. Dan kalau bibi masih tetap khawatir, aku akan minta paman supir untuk menungguku sampai selesai. Bagaimana?" Sara mencoba bernegosiasi dengan bibi Rachel. "Please Bibi, sebentar... saja! Ya ya ya....!" Sara memohon.


Bagaimana ini? Di satu sisi aku diminta tuan muda menjaga nona. Tapi disisi lain, nona yang sampai memohon seperti ini pasti ada hal penting? "Baiklah... kalau begitu, tapi nona harus ditemani sopir akan menemani anda sampai selesai, dan jangan lupa jika sudah selesai, nona haru segera langsung!"


"Baik bi, terima kasih atas kerja samanya. Sekarang aku mau ke dalam dulu mengambil tas, lalu berangkat." Sara pun akhirnya bersiap untuk ke c-lovely.


~~


Setibanya di Swiss tepatnya di kota Zürich, Ryuzen dan Kenzo langsung menuju ke hotel tempa dimana ia bertemu dengan salah seorang kenalannya yang ia mintai tolong untuk menangani aset ilegal milik Biyan Dao. Saat berada di koridor hotel, Ryuzen langsung memeriksa ponselnya, menunggu kabar Sara dan Arvin yang kini berada di Montegi.


Syukurlah jika mereka baik-baik saja. Ryuzen pun langsung kembali memasukan ponsel miliknya ke saku celana.


"Tuan apa kita langsung pergi menemui kenalanmu?"


"Iya...!" Jawab Ryuzen yang kemudian langsung berjalan melewati Kenzo.


~~


Menjelang malam, akhirnya selesai juga urusan Sara di tokonya. "Semuanya... aku pamit duluan ya...!" Sara berpamitan pada rekan kerjanya untuk pulang duluan.


Hati-hati kak Sara.


Hati-hati ibu boss


~~


Setelah berpamitan pada seluruh pegawainya, Sara pun langsung bergegas pulang dengan diantar paman sopir yang memang bertugas menemaninya sejak awal. Tapi entah apa yang terjadi, tiba-tiba mobil yang ditumpangi Sara mengalami kendala hingga membuatnya terpaksa berhenti di dekat sebuah area taman kota.


"Paman ada apa?" Tanya Sara memastikan apa sebenarnya yang terjadi.


"Aku tidak tahu Nona, tapi sepertinya ada mesin yang terkena gangguan," jelas si paman Sopir.


"Kau bisa memperbaikinya?"


"Maaf nona, aku hanya sopir bukan ahli otomotif. Begini saja... biar aku panggil orang yang yang biasa membetulkan mobil keluarga Han. Sedangkan nona akan aku panggilkan orang untuk membawa nona pulang."


"Tidak ingin orang lain repot, Sara pun memutuskan untuk menunggu mobil itu diperbaiki. Sara pun amenunggu mobilnya diperbaiki. Merasa agak bosan, dirinya pun minta izin pada paman sopir untuk sekedar bejalan-jalan di sekitar sini sejenak.


"Baiklah nona,hati-hati...!"


~~


Sara pun memutuskan untuk menikmati pemandangan dan udara segar di sekitaran tempat itu. Namun saat ia sedang asyik berkeliling, tiba-tiba dirinya seperti melihat seseorang yang tengah berlari dan tidak sengaja menjatuhkan sapu tangannya. Sara yang melihatnya pun langsung memungutnya dan berniat mengembalikannya.


"Sepertinya wanita tadi belum teralalu jauh, biar aku coba susul saja untuk kembalikan ini!" Akhirnya Sara mengejar wanita itu, tapi entah gadis itu yang terlalu cepat atau Sara yang lamban. Wanita itu malah sudah tak terlihat lagi.


"Huh! Sudah capek-capek, malah sudah menghilang!" Karena hari sudah mulai gelap Sara pun bergegas kembali ke tempat tadi, sambil berharap mobilnya sudah jadi.


Namun saat Sara membalikan tubuhnya untuk kembali. Tiba-tiba ada seseorang menarik tubuhnya Sara yang terperanjat kaget pun mencoba untuk berteriak. Namun sialnya, mulut Sara malah langsung dibekap dengan sebuah sapu tangan oleh orang yang sepertinya ingin menculiknya itu. Sara pun menronta dan terus mecoba melawan agar bisa melepaskan dirinya. Tapi...


Ke- kenapa ini? Kenapa mataku seperti terasa berat sekali, ini obat tidur...? Siapa orang ini. Kenapa dia mau menculikku? Sara masih terus mencoba melawan, namun kesadarannya seolah semakin payah dan membuatnya semakin tak berdaya. Ryu... tolong aku...! Sara akhirnya tidak sadarkan diri, dan dibawa pergi oleh seseorang berpakaian hitam itu.


🌹🌹🌹


Hai fellas.... maaf ya kemarin tidak update. Aku ada urusan kemarin 😄. Jangan lupa Vote, like, dan commentnya ya... next chapter