
Renji mengerutkan alisnya, mendengar jawaban Sara yang menolak diantarnya pulang. "Kenapa tidak? Apa kau takut denganku?
"Tidak, bukan begitu, aku hanya... hanya tidak mau merepotkanmu saja," jawab Sara terdengar hanya mencari-cari alasan.
"Merepotkan ya?" Seketika Renji kembali menampakan wajah dinginnya. "Jadi seperti itu alasannya?" Padahal aku tahu, kau berkata begitu karena ada alasan lain. Sara... sebetulnya kau tak pandai menipuku. karena aku tau alasan sebenarnya adalah, kau takut kemungkinan Ryu akan murka jika tahu kau pulang bersamaku.
"Lalu bagaimana kau pulang jika tidak aku antar? Kau mau jalan kaki dengan kondisi seperti sekarang?" Renji melihat keadaan Sara yang pakaiannya banyak bekas sobekan.
"Um soal itu... aku boleh pinjam ponselmu?"
"Untuk apa?" Renji penasaran dengan apa yang akan dilakukan Sara dengan meminjam ponselnya.
"Aku mau menghubungi Gina, biar aku minta tolong pada Gina untuk menjemputku disini."
Gadis ini! "Ah, baiklah... ini!" Renji akhirnya meminjamkan ponselnya untuk Sara.
~~
Di jalan... saat dirinya dan Jesper masih terus mencari Sara, tiba-tiba ponsel Gina berbunyi. Reflek, Gina langsung mengambil ponselnya, dan melihat ke arah layar ponselnya. "Nomor siapa?" Ujar Gina bingung melihat ada nomor tak di kenal menghubunginya.
"Dari siapa?" Jesper yang sibuk menyetir, jadi ikut penasaran karenanya.
Gina mengangkat kedua bahunya. "Entahlah... tidak ada nama kontaknya."
"Kalau begitu, cepat angkat mungkin saja penting!" Seru Jesper.
Gina pun akhirnya mengangkat panggilan tersebut,
"Halo....!"
.........
"Sara? Ini benar dirimu kah?" Ujar Gina kaget mendengar suara orang yang meneleponnya.
"Huh? Apa maksudmu itu dari Sara?" Jesper dibuat makin penasaran dengan orang yang tengah berbicara dengan Gina di telepon. Apa benar it Sara?
Gina malanjutkan percakapannya di ponsel. "Tapi kau baik-baik saja kan...?" Tanya Gina yang terlihat khawatir.
.......
Gina terdengar menghela napas, " Syukurlah kalau kau baik-baik saja. Lalu kau dimana sekarang?"
"Oke-oke.... kalau begitu kau tunggu aku, aku akan segera menjemputmu disana. Oh iya Sara, tapi kau disana bersamaー"
*tut tut tut tiba-tiba panggilannya terputus.
"Oh sial, baterai ponselku habis!" Gerutu Gina yang ponselnya mati sebelum sempat bertanya banyak pada Sara.
"Jadi yang meneleponmu, benar Sara?" Tanya Jesper yang sudah tidak sabar ingin tahu, apa saja yang dibicarakan Gina di ponsel tadi.
"Yah... itu benar dia."
Jesper masih terlihat tidak menyangka mengetahuinya. "La- lalu apa dia baik-baik saja?"
"Sara bilang dirinya baik-baik saja, tapi... dari suaranya, aku rasa tidak! Ditambah lagi... dia kini berada di rumah sakit."
"Rumah sakit?" Jesper langsung terlihat panik, saat Gina mengatakan jika temannya itu kini berada di rumah sakit.
Gina tersenyum getir, "Kau khawatir sekali ya?"
"Tentu saja... sebagai teman bukankah kau juga merasa begitu?" Sahut Jesper pada Gina.
"Kau benar Jes!" Tidak ada waktu untukku cemburu buta saat ini. "Kalau begitu, sekarang kita segera menuju ke rumah sakit. Pasti dia tengah menunggu kita disana!"
"Kau benar Gina...!" Aku juga penasaran nomor siapa yang digunakan Sara untuk menelpon Gina. Akhirnya mereka berdua pun memutar balik arah, menuju ke rumah sakit tempat dimana Sara berada saat ini.
~~
"Ini, ponselmu. Terima kasih sudah mau meminjamkannya padaku," ucap Sara sambil mengembalikan ponsel milik Renji tersebut.
"Sama-sama," Renji memasukan kembali ponselnya ke saku celananya.
"Oh iya Renji, blazermu...."
"Pakai saja, kau harus pakai itu agar menutupi pakaianmu yang tersobek-sobek."
Sara yang tadinya mau melepas blazer itu pun, mengurungkan niatnya dan tidak jadi melepas blazer yang ia kenakannya itu. "Terima kasih... Renji" Lirih Sara.
"Kenapa kau terus berkata terima kasih, padahal aku tidak merasa melakukan hal yang sangat berarti. Jadi berhentilah berterima kasih."
"Tapi kau sudah sangat berjasa padaku, kau pantas mendapakannya."
Renji tertawa kecil, "Aku tidak butuh ucapan terima kasih darimu Sara..." Karena yang aku butuhkan hanyalah dirimu meninggalkan Ryu, lalu jadilah milikku dan selalu berada disisiku!
"Kenapa disini agak panas ya...?" Sara mengibaskan pakaiannya, Renji yang berdiri disebelahnya tidak sengaja melihat belahan dada Sara yang tereskpos karena dikibaskan. Sontak hal itu membuat Renji menelan ludah. bagaimanapun, Renji adalah pria normal yang pasti memiliki hasrat seksual layaknya pria normal lainnya. Renji pun langsung memalingkan wajahnya, dan membelakangi Sara. Ia mengehela napas berkali-kali menenangkan dirinya, agar libidonya tidak semakin memuncak. Renji bahkan menyakiti dirinya agar tidak terbawa nafsunya semakin jauh. Aku harus menhan... aku tidak mungkin memaksakan kehendakku padanya, apalagi perlakuan Orizel tadi pasti masih membekas di pikiran Sara.
"Renji... kau kenapa?" Tanya Sara heran karena melihat Renji tiba-tiba membelakanginya.
"Tidak... aku hanya... aku hanya ingin cari udara segar! Sepertinya benar yang kau bilang, disini panas. Aku cari udara diluar dulu sebentar kau tunggu disini sendiri tidak apa kan?" Terang Renji yang masih membelakangi Sara.
"Iya, tidak masalah...."
Renji pun pergi keluar meninggalkan Sara.
~~
Di luar Renji terlihat meninju sebuah pohon. "Sial! Kenapa harus di situasi begini? Sara... kalau saja kau tidak sedang... Arg! Sudahlah aku bisa gila kalau begini!" Renji memukul dahinya. Bagaimanapun... cepat atau lambat, aku pasti akan mengambil Sara darimu Ryuzen!
~~
Di dalam pesawat, Ryuzen dengan ekspresi dinginnya tampak duduk tenang, menunggu kabar dari orang-orang yang diperintahkannya untuk mencari Sara. Sayangnya, tak kunjung mendapat kabar Ryuzen pun terlihat emosi dibuatnya. Ia pun sontak berdiri dari tempat duduknya dengan wajah serius. Kenzo yang ada di hadapannya pun seketika mendongak ke arahnya.
"Kenzo, kau hubungi Gina dan Jesper... cari info Sara dari mereka!"
"Baik tuan! Tapi kau mau apa?" Tanya Kenzo melihat Renji yang berjalan menuju ke kokpit.
"Kau tidak perlu tau, lakukan saja yang aku perintahkan!"
"Baik tuan!" Apa yang ingin dilakukan tuan? Eh jangan bilang dia mau..."
~~
Ryuzen masuk ke kokpit, menemui pilot dan co-pilot yang kini tengah mengemudikan pesawat pribadi yang ditumpanginya saat ini.
"Tuan muda ada apa?" Tanya seorang co-pilot tersebut.
"Berapa lama lagi kita menuju ke Montegi?" Tanya Ryuzen.
"Sekitar dua jam lewat jalur utara tuan," jawab sang pilot.
"Terlalu lama! Putar haluan lewat jalur barat daya!"
"Tu-tuan kau mau apa?" Ujar pilot yang kaget karena aviation headset-nya tiba-tiba diambil oleh Ryuzen .
"Biar aku yang kemudikan pesawatnya!"
"Tap- tapi tuan..."
"Aku dapat lisensi menerbangkan pesawat di usia dua puluh tahun, jam terbangku sudah hampir 700 jam!" Ujar Ryuzen yang kemudian mengambil alih kemudi pesawat.
"Tuan co-pilot kau keluar dan panggil Kenzo kemari! Tuan pilot kau jadi co-pilotku! Lakukan sekarang atau aku kemudikan pesawat ini tanpa instruksi!"
"Ba- baik Tuan Han!" Jawab pilot dan co-pilot yang akhirnya mereka berdua pun menuruti apa yang dikatakan oleh Ryuzen. Ryuzen pun akhirnya mengendalikan pesawat tersebut menuju Montegi.
Sara... aku akan segera menemuimu.
~~
Gina dan Jesper akhirnya tiba di rumah sakit tempat dimana Sara berada. Setelah memarkir mobil mereka pun segera masuk ke rumah sakit. Dan kebetulan sekali, saat Gina dan Jesper memasuki lobby rumah sakit, Gina melihat Sara yang tengah berada di atas kursi roda, ernyata juga ada di lobby.
"Jes! Itu Sara...." Ujar Gina menunjuk ke arah dimana Sara berada. Tanpa banyak kata, Gina dan Jesper langsung menghampiri Sara.
"Sara...!" Ujar Gina menghampiri Sara yang berada duduk di kursi roda, dan langsung memeluk sahabatnya itu dengan erat. "Kau baik-baik saja kan gadis bodoh!" Gina sejatinya merasa lega melihat sahabatnya itu.
Sara pun ikut tersenyum lega karena bisa melihat Gina berada di hadapannya saat ini. "Aku baik-baik saja Gina."
"Gadis bodoh kau itu...! Ah sudahlah..." Gina sebenarnya ingin sekali mengomeli Sara, tapi melihat keadaan sahabatnya yang lemah begini, sepertinya tidak mungkin. Gina pun melepaskan pelukannya.
"Syukurlah jika kau baik-baik saja," ujar Jesper yang baru saja membuka mulutnya.
"Terima kasih Jes...!" balas Sara senang, melihat Jesper juga dihadapannya.
"Sara... kau sebenarnya kenapa?" Tanya Gina lembut.
"Iya Sara, dan kenapa kau bisa berada disini? Lalu... ada apa dengan kakimu, kenapa kakimu diperban begitu?" Imbuh Jesper melihat ke arah kaki Sara yang dibalut perban.
Sara termenung bingung, ia tidak tahu harus cerita darimana. Sejujurnya dirinya masih trauma jika mengingat-ingat kejadian di kediaman Orizel tadi. "Sebenarnya Aku... aku..." Sara tampak gugup ketakutan.
"Sara kau kenapa...?" ujar Gina yang tampak khawatir.
Melihat Sara begitu, membuat Jesper menerka-nerka. Sepertinya telah terjadi hal yang buruk pada Sara, tapi apa? Kenapa dia seperti ketakutan dan enggan bercerita begitu? Apa yang sudah terjadi sebenarnya?
Gina memegang pundak Sara lembut."Sudahlah... kau tidak perlu cerita sekarang," tukas Gina yang mencoba memahami sahabatnya itu.
Seketika Jesper teringat soal nomor yang digunakan Sara untuk menghubungi Gina. "Oh iya Sara, kalau aku boleh tahu... siapa orang yang membawamu kemari?"
"Orang ituー"
"Aku yang membawa Sara kemari!" Sahut seorang pria yang tiba-tiba datangmenghampiri mereka. Spontan, mereka bertigapun menoleh ke arah datangnya suara itu.
"Renji Haoran?" Jesper terperangai melihat sosok Renji muncul tiba-tiba.
"Apa kau bilang?" Tidak kalah dengan Jesper, Gina pun dibuat terkesiap mendengar Jesper menyebut nama barusan. Gina melihat sosok Renji yang meski sama-sama tampan, namun harus diakui jika dibanding Jesper, Renji memang terlihat tampak lebih menarik.
Jadi.... pria ini yang bernama Renji Haoran, pria yang secara misterus memberikan Sara bunga-bunga pada Sara, Tapi kenapa Sara bisa bersamanya? Ada apa sebenarnya antara Sara dan pria ini? Gina benar-benar dibuat heran dengan situasi ini.
Jesper menatap ke arah Renji dengan tatapan tidak suka. Kenapa dia bisa bersama Sara? Apa jangan-jangan dugaanku benar, jika yang terjadi pada Sara sebenarnya memang ada hubungannya dengan dirinya?
🌹🌹🌹
Hai my beloved Readers... terima kasih ya buat kalian yang masih setia dengan kisah novel yang kubuat ini. Terutama yang sudah menyediakan waktu untuk LIKE, COMMENT, VOTE author sangat berterima kasih sekali.
Jangan lupa juga untuk follow my IG di @chrysalisha98🌹