
"Sara?"
"Nona Sara?"
Ternyata yang mengetuk pintu ruangan Ryu adalah Sara. Entah apa yang membuatnya masuk tiba-tiba.
"Ryu...! Aku mau ke toilet!"
"Toilet?"
"Nanti saja bicaranya, aku benar-benar mual sekali!" Sara pun segera berlari menuju ke toilet yang ada di ruangan kerja suaminya itu. Ryuzen terlihat cukup khawatir melihat istrinya yang tiba-tiba mual. Ia pun segera menyusul Sara ke toilet.
"Nona Sara kenapa ya? Heh! Kalau sudah begini, pasti tuan muda tidak akan meneruskan lagi ceritanya, dan malah fokus sama nona Sara." Kenzo seolah bisa menebaknya. "Yasudahlah, biar aku tunggu saja."
~~
Ryuzen menyusul istrinya itu ke toilet, memastikan jika Sara baik-baik saja. "Kau baik-baik saja?" Ungkap Ryuzen melihat Sara yang sepertinya habis muntah-muntah itu. "Ya aku baik-baik saja, hanya tadi di luar aku sempat mencium aroma yang tidak aku suka. Karena benar-benar sudah tidak tahan aku pun terpaksa masuk keruanganmu. Jadi maaf jika mengganggumu pembahasan seriusmu denganー"
Ryu menempelkan telunjuknya di bibir istrinya. "Tolong, berhentilah merasa tidak enak atau sungkan padaku. Bagiku tidak ada yang lebih penting dari dirimu, jadi berhentilah berpikir kalau kau akan merepotkanku atau menggangguku! Paham?"
Sara mengedipkan matanya menatap Ryuzen dengan polos. "Ryu... aku minta maaf, jangan marah lagi padaku... aku kesepian tidak ada dirimu disampingku! Huhu..." Ujar Sara yang kini memeluk erat suaminya itu. Ryuzen membalas pelukan istrinya tak kalah erat. "Aku sudah memaafkanmu sayang..." balas Ryuzen sambil mencium rambut Sara.
"Tapi Ryu, kau janji ya.. jangan begini lagi padaku..., aku benar-benar tidak suka jika harus berada jauh darimu!" Pungkas Sara. Ryuzen pun tiba-tiba menarik diri dan melepaskan pelukannya. Dirinya memegang kepala sang istri dan mendongakannya. "Aku pun sama, aku tidak tahan berjauhan darimu Sara..." Ryuzen langsung mengecup bibir merah merona Sara dengan begitu intens. Tak pelak Sara pun membalas kecupan itu dengan cukup agresif. Sejatinya mereka jelas saling merindukan satu sama lain sejak kemarin.
Beberapa saat saling melepas rindu lewat kecupan mesra keduanya. Mereka akhirnya melepaskan diri satu sama lain. Setelah napasnya kembali normal, Sara pun mengatakan maksud kedatangannya kemari selain minta maaf tentunya.
"Jadi kau kemari, mau minta maaf sekaligus mengantarkanku makan siang?"
"Iya, aku masak buatmu!" Ungkap Sara mengangkat kotak makan siang yang tadi terpaksa ia letakan dekat wastafel, karena tidak kuat menahan rasa mual.
Ryuzen diam saja menatap Sara. "Kenapa diam, kau sudah tidak mau makan masakanku ya?" Ryu mendekatkan bibirnya ke telinga sang istri. "Bagaimana mungkin aku tidak suka masakan istriku yang lezat!" Wajah Sara seketika dibuat tersipu dengan pujian sederhana Ryuzen itu.
Menyadari masih di dalam toilet Sara pun mengajak Ryu keluar dari toilet, agar bisa segera memakan bekal makan siang, yang sudah ia buatkan untuk suaminya itu.
~~
Di ruangan Ryu, ternyata Kenzo masih menunggu disana. Ia duduk di kursi tamu diruangan itu menunggu bosnya itu kembali dari toilet. "Kenapa mereka lama sekali? Jangan bilang mereka sedang...." Wajah Kenzo seketika berubah merah padam, otaknya langsung berpikir jika bosnya dan istrinya itu tengah melakukan hal dewasa di toilet.
"Kenzo kau masih disini?" Ujar Sara yang baru saja kaluar dari toilet.
"Kenapa kau masih disini?" Tanya Ryuzen yang berada dibelakang Sara.
Dia tanya kenapa aku masih disini, jelas-jelas obrolan tadi kan belum selesai! Huh dasar suami istri yang tidak paham perasaan orang lain. Pekiknya dalam hati
"Um, itu... aku pikir obrolan kita tadi belumー"
Eh? Kenapa tuan melihat ke arahku begitu? Dari belakang Sara, Ryu menatap Kenzo dengan tatapan mengintimidasi. Seolah memberikan isyarat kepada Kenzo agar tidak bicara lagi tentang hal tadi.
"Oh itu... aku kira tuan muda masih ada perlu denganku, makanya aku menunggu disini. Tapi... sepertinya sudah tidak ada lagi yang ingin dibicarakan. Kalau begitu aku permisi saja ya Tuan dan Nona...."
"Kenzo tunggu dulu!" Sara menghentikan langkah Kenzo, dan berjalan mendekatinya "Ada apa nona memanggilku?"
"Ini!" Sara menyodorkan kotak makan siang pada Kenzo.
"Ini kotak makan siang....?"
"Iya! Ini untukmu makan siang, tadi aku masak lumayan banyak. Jadi aku pikir aku sisihkan saja untukmu. Ini ambilah..."
"Sudah kau ambil saja!" Ujar Ryuzen melihat Kenzo yang agak sungkan menerimanya.
Mendengar Ryu menyuruhnya ambil, Kenzo pun menerima bekal itu dengan wajah sumringah. "Nona terima kasih, kau memang yang terbaik!" Ungkapnya yang kebetulan memang sudah lapar.
"Lain kali, akan aku bilang pada Rina untuk buatkanmu makan siang ya...." Goda Sara, yang berhasil membuat Kenzo malu-malu.
"Ah sudahlah aku pergi duluan... permisi!"
Sara hanya dibuat tersenyum geli, melihat Kenzo malu dan langsung pergi.
Tiba-tiba Ryuzen memeluk istrinya dari belakang, lalu berbisik. "Di ruangan ini hanya ada kita berdua sekarang. Jadiー"
"Ayo kau segera makan bekal makan siangmu!" Ujar Sara yang mengabaikan Ryu, dan malah berjalan ke meja kerja Ryu untuk menyiapkan makan siangnya.
Ryuzen pun tak ada pilihan, ia pun langsung duduk di kursinya itu untuk menyantap makan siangnya. Sontak Ryuzen agak dibuat tak percaya, kala istrinya yang tanpa diminta, tiba-tiba langsung duduk di atas pangkuannya.
"Sara..."
"Ssstt...." telunjuk Sara menempel di bibir Ryu. "Kau tidak boleh banyak bicara, karena hari ini aku bosnya," pungkas Sara.
Ryuzen pun menurut, ia mengambil tangan Sara dan menciumnya. "Setiap hari kau adalah bosnya nyonya Ryuzen Han, jadi perintahlah aku setiap hari."
"Good boy!" Sara menundukan kepala Ryu dan mencium keningnya. "Perintahku hari ini, kau harus habiskan siangmu paham?"
"Laksanakan!" Ryuzen pun mulai memakan makanannya. Bukan makan seperti biasa, kali ini Ryu makan dari suapan tangan istrinya sendiri. Di atas pangkuan Ryu Sara menyuapi suaminya itu. Sungguh pemandangan yang lucu bahkan mungkin aneh bagi Sara, Tapi disisi lain dirinya senang melihat Ryuzen yang sudah tak lagi marah padanya.
"Enak?" Tanya Sara.
"Luar biasa, apapun yang dibuatmu itu bagiku terasa enak."
"Dasar perayu!"
"Sayang..."
"Apa?" Sara yang jarak wajahnya hanya dua inci dari wajah Ryuzen, memandangi suaminya itu.
"Perutku sudah kenyang, tapi bagian bawah perutku sepertinya belum kenyang!" Bisik sang suami.
"Huh?" Wajah Sara pun seketika langsung merah padam dibuatnya, saat ia memahami kalimat Ryuzen barusan. "Kenapa sih otakmu selalu kepikiran ke arah itu? Lagipula ini kan di kantor?"
"Ehem!" Deham wanita itu.
"Oh iya kau bosnya."
"Ryu kita pulang saja boleh tidak, aku... Eh apa-apan kau ini Ryuzen!" Ryu sudah bangkit dari kursinya, sambil menggendong Sara.
"Kau minta kita pulang kan?"
"Tap- tapi apa boleh kau pulang jam segini?" Tanya Sara ragu-ragu.
"Kau lupa ya, aku bosnya disini. Dan kau bosku itu artinya semua terserah aku atas permintanmu."
"Kalau begitu, turunkan aku!"
"Tidak mau!"
"Tapi aku malu...!"
"Biar saja! Kau tadi yang minta." Tanpa memperdulikan Sara Ryuzen pun keluar ruangan sambil terus menggendongnya.
"Nanti kau lelah, kau kan sudah tu- a. Eh?"
Ryuzen memicingkan matanya. "Biar aku tunjukan betapa kuatnya orang tua ini pada ibu bos!" Ryuzen akhirnya memutuskan untuk menggedong Sara dari ruangannya sampai ke lobby lantai dasar. "Aku bercanda kau tidak tua, kau muda, gagah, aku yang tua! Ryuzen!" Tanpa peduli Ryu langsung masuk ke dalam lift menuju lantai dasar.
~~
Setibanya dilantai dasar semua memperhatikan mereka. Banyak dari merkea memuji Ryuzen sangat romantis pada istrinya, tapi di lain pihak benar-benar malu saat ini. Oh Tuhan aku malu sekali... Sara berusaha agar wajahnya tak terlihat, dengan menenggelamkan kepalanya itu ke tubuh Ryu.
"Bagaimana, menggendongmu dari lantai tiga puluh tujuh sampai ke lantai dasar tanpa istirahat, masih mau bilang aku tua?"
"Iya! Iya kau tidak tua, tapi aku mohon cepat turunkan aku!"
"Sudah terlanjur sampai sini, nanti saja di mobil," balasnya dengan entengnya.
"Ryu...!" Sara menggigit bahu Ryuzen, karena menahan malu dicampur kesal.
"Gigit saja sampai puas!" Tantangnya yang tetap menggendong Sara sampai ke parkiran.
Kau hanya milikku Sara, aku lakukan ini biar semua orang tahu kau cuma milikku seorang!
~~
Di ruangannya Kenzo baru saja selesai makan siang. "Ah kenyang juga akhirnya....!" Ujar Kenzo setelah melahap habis makan siang yang tadi diberikan oleh Sara untuknya.
Tiba-tiba Kenzo mengingat kata-kata Sara, yang ingin bilang pada Rina untuk membuatkan makan siang untuknya. "Tapi apa dia mau ya?" Kenzo mengusap-usap dagunya. "Beruntung ya tuan muda, punya istri seperti nona Sara, sudah cantik, penyayang, masakannya juga enak. Kira-kira Rina kalau jadi istri seperti itu tidak ya? "
Seketika Kenzo malah membayangkan jika dirinya sudah menikah dengan Rina. Ia membayangkan Rina akan jadi istri yang semena-mena dan galak padanya. "Hiyyy.... tidak-tidak! Aku tidak boleh membayangkan hal itu. Aku yakin Rina akan jadi istri yang baik nantinya, Aku yakin sekali...!"
Suara ponsel Kenzo tiba-tiba berdering. "Huh, siapa tumben sekali jam segini!"
"Halo!" Ujarnya Kenzo.
~~
Di perjalanan pulang Sara masih terlihat malu mengingat kejadian tadi. Bagaimana bisa dirinya digendong begitu dan dilihat oleh pegawai lain. Rasanya malu sekali dibuatnya. Ryuzen meraih tangan Sara lalu mengecupnya sambil fokus menyetir.
"Kenapa? Ibu bos masih merasa malu?" Ledek Ryu.
"Ryu...! Bagaimana ini? Bagaimana kalau sampai pegawaimu berpikir aku ini istri yang tidak tahu diri, karena sudah memanfaatkan jabatanmu. Aku takutー"
"Stop! Kau tidak usah bepikir aneh-aneh! Lagipula siapa yang berani mengahakimi nyonya Ryuzen, jadi kau tenang saja oke....?" Ryu mengusap pipi lembut istrinya, seraya menenangkannya. Sara pun balas menyentuh tangan suaminya itu, dan tersenyum.
Terima kasih karena selalu ada untukku Ryu...!
"Oh iya Ryu... boleh aku bertanya?"
"Soal Renji?" Tebak Ryuzen yang seolah bisa menebak pikiran Sara.
"Bagaimana kau bisa tahu, aku ingin tanya soal itu?"
Ryuzen hanya menyeringai kecil. "Apa yang tidak aku tahu tentangmu."
"Jadi antara kau dan..."
"Aku dan Renji, kami adalah kenalan lama, dan... terakhir kali kami bertemu, hubungan kami memang tidak baik-baik saja. Jadi kami memang sudah tidak berhubungan baik lagi sekarang."
"Um... hanya itukah?" Sara yakin, pasti ada hal lain yang membuat Renji tidak suka dengan suaminya itu.
"Aku hanya bisa menjelaskanmu itu. Yang jelas dia tidak suka padaku! Jadi Sara... aku mohon padamu, jangan berhubungan apalagi bersentuhan dengannya. Meski dia idolamu sekalipun!" Ryuzen tampak begitu mengkhawatirkan dirinya. Sebenarnya Sara pun masih sangat penasaran dengan apa yang terjadi diantara Ryu dan Renji. Tapi mengingat watak Ryu yang tempramen, dirinya tidak mungkin memaksanya menjelaskan, alih-alih malah akan jadi masalah. Lebih baik aku tidak memaksa Ryu untuk mengatakan apa yang ingin aku tahu. Aku tidak ingin semua yang sudah kembali baik-baik saja ini malah akan kembali memburuk.
Ryu menatap Sara dengan tatapan lembut, begitupun Sara padanya. Maafkan aku Sara... aku belum bisa cerita semua hal tentang Renji padamu.Terlalu rumit jika aku jelaskan untuk saat ini.
🌹🌹🌹
Halo my beloved readers. Semoga kalian sehat selalu ya...
Author secara personal ingin berterima kasih kepada kalian, yang masih setia dan selalu sabar menunggu update-an kisah Sara dan Ryuzen. Sekali lagi author mohon maaf, karena tidak bisa update harian dikarenakan author punya prioritas yang harus dikerjakan duluan. Jadi mohon dimaklumi ya kakak-kakak dan teman-teman sekalian🙏
Oh iya, meski sering kali novelnya slow update, tapi kalian jangan khawatir, karena aku pasti akan selesaikan cerita ini sampai ending kok. Jadi mohon bersabar ya... kakak-kakak yang cantik dan tampan sekalian.
Dan buat yang sudah baca novel ini, jangan lupa ya untuk selalu tinggalkan jejak berupa LIKE, COMMENT, serta VOTE dan jangan lupa juga untuk bantu di SHARE komik ini, karena yang kalian lakukan itu sangat berarti sekali buat aku.
Satu lagi temen-temen sekalian, jangan lupa juga ya... buat follow instagram aku @chrysalisha98, karena aku bakal info karya baruku mungkin disana 😊
FYI : Dalam waktu dekat ini aku mau keluarin novel baru, semoga kalian juga suka ya... dan doakan biar lancar semuanya, aamiin..🙏