Love Petal Falls

Love Petal Falls
Chap 65 : Aku setuju


Sara yang tidak tega melihatnya pun, tidak ingin lagi memaksa Arvin. Sara justru menyentuh kepala putranya dan membelainya lembut.


"Kalau begitu, malam ini kau tinggal disini dulu saja, besok mami akan datang jemput untuk mengantarmu kembali ke asrama," ucap Sara lembut


"Mami...," pekik Arvin melihat Sara yang beranjak meninggalkannya. Sara pun menoleh terseyum dan mengatakan,


"Mami tidak apa-apa sayang."


"Aku sayang mami, tapi aku juga ingin disini dengan Papi," ungkap Arvin yang terlihat muram. Sara meninggalkan Arvin dan berniat pergi pulang, Ryuzen yang melihatnya baru keluar dari kamar Arvin pun hanya, menatapnya dengan ekspresi dingin miliknya.


"Jadi, sudah kau putuskan?" tanya Ryuzen yang sudah siap menunggu jawaban dari Sara


"Ryuzen aku lelah... aku ingin pulang," balas Sara dengan kekecewaan terlihat di sorot matanya.


"Baiklah, kalau begitu kita bertemu di pengadilan lusa," ujar Ryuzen.


Sara tak kuasa lagi menahan emosinya, saat ini ia ingin sekali memaki Ryuzen dengan segala sumpah serapah yang tertahan di bibirnya.


"Ryuzen Han...! Kenapa kau selalu seperti ini padaku!" ujar Sara yang air matanya sepertinya sudah mulai mengintip dari pelupuk matanya.


"Tidak cukupkah kau menekanku setiap hari, kenapa selalu saja kau membuatku memilih hal yang tak bisa ku pilih, kenapa? Apa dosaku padamu, huh!" ujar Sara yang kini benar-benar merasa tak bisa melakukan apa-apa lagi selain marah dan kesal.


Ryuzen tidak berkata apapun, dan hanya bergeming.


Ia pun kembali menatap Sara, dan berucap,


"Aku hanya mau Arvin bahagia itu saja. Dan satu-satunya yang kau dan aku bisa lakukan untuk kebahagiaan Arvin, adalah dengan kita tinggal bersama layaknya keluarga," jelas Ryuzen yang kemudian beranjak pergi meninggalkan Sara yang kini terduduk di sofa.


~~


Kali ini giliran Ryuzen yang menemui Arvin di kamarnya.


*tok tok suara mengetuk pintu


Ryuzen masuk dan duduk menghampiri Arvin, yang duduk dan terlihat tidak senang diatas tempat tidurnya. "Paman Ryu... aku sangat senang karena kau yang jadi Papi kandungku, tapi saat ini aku juga kesal padamu," ujar Arvin pada Ryuzen.


Ryuzen tidak memperlihatkan berekspresi apapun.


"Kau itu papiku, dan semua tahu kau pria yang sangat hebat, tapi kenapa kau tidak bisa meluluhkan hati mamiku?" lanjut Arvin yang terlihat marah.


"Aku kan cuma ingin memiliki orang tua yang lengkap seperti anak-anak lain, tapi kenapa malah seperti ini..." lirih Arvin terlihat sedih.


Ryuzen menatap Arvin dan menyentuh pundaknya.


"Arvin, aku sudah berjanji pada diriku sendiri akan memberikanmu keluarga yang utuh, dan jika aku sudah berjanji maka aku pasti akan menepatinya bagaimana pun caranya. Jadi kau tenang saja," ucap Ryuzen dengan begitu yakin


"Kau percaya padaku kan?" tanya Ryuzen meyakinkan.


Arvin pun menganggukan kepalanya tanpa ragu.


"Sekarang kau tidur, dan percayakan semuanya padaku oke?"


"Papi, selamat malam."


Untuk pertama kalinya, Ryuzen kembali bisa tersenyum bahagia, dan itu semua karena Arvin.


"Selamat malam, anakku," balas Ryuzen dengan lembut.


"Kau tenang saja Arvin, aku sudah mengerti apa yang kau inginkan sejak awal. Aku janji akan memberikanmu keluarga yang utuh. Aku tidak akan membiarkan kau merasakan, apa yang dulu aku rasakan." ungkap Ryuzen dengan kesedihan yang tersembunyi di matanya.


~


Setelah keluar kamar Arvin, Ryuzen menelepon Kenzo untuk datang ke villanya dan membawa print out kontrak yang telah ia buat.


Di ruangan tadi, Sara masih terdiam dan memikirkan semua ucapan Ryuzen.


"Mungkinkah menikah dengannya adalah jalan terbaik untuk semuanya?" ucap Sara di pikirannya.


Sara menarik nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan. "Jika dengan menikahi pria itu membuat Arvin bahagia, maka akan aku lakukan! Terlebih..., sejak Arvin lahir, aku sudah berjanji pada diriku sendiri akan memberikan hidup yang bahagia untuknya, dan mungkin ini salah satu yang bisa aku lakukan untuk Arvin."


"Sudah diputuskan?" ujar Ryuzen yang tiba-tiba muncul tanpa terdengar langkahnya.


"Ryuzen, sudah kuputuskan! Aku setuju kita menikah, demi Arvin," ucap Sara dengan yakin, meski pun sebenarnya hati kecilnya belum yakin. Namun itu bukan hal penting bagi Sara saat ini, karena yang terpenting baginya sekarang adalah kebahagiaan putranya.


"Baiklah, kalau begitu malam ini juga kita pergi ke Kantor Pencatatan Sipil untuk mendaftarkan pernikahan kita," ujar Ryuzen diikuti senyum penuh kemenangannya.


Beberapa saat kemudian Kenzo datang, dengan membawa semua print out yang diminta oleh Ryuzen tadi lewat telepon.


"Bos, ini yang kau minta." Kenzo menyerahkan beberapa lembar surat kontrak pada Ryuzen.


"Terima kasih, sekarang aku mu kau tunggu disini, dan jaga Arvin yang kini sedang tidur dikamar."


"Baik Tuan, tapi kau dan Nona Sara mau kemana memangnya?" tanya Kenzo.


"Sudah jangan banyak tanya, lakukan saja apa yang aku perintahkan saat ini," ucap Ryuzen datar.


"Baik Tuan," sahut Kenzo menuruti perintah Ryuzen tanpa protes lagi.


"Sara, kau ikut aku. Kita ke kantor pencatatan sipil sekarang juga!"


Tanpa bicara sepatah kata apapun, Sara langsung mengindahkan apa yang di katakan Ryuzen, dan mengikutinya.


Kenzo bertanya-tanya melihat Sara dan Ryuzen yang kini telah beranjak pergi.


"Aku penasaran, untuk apa mereka pergi kesana malam-malam begini ya?" gumam Kenzo yang belum mengetahui, rencana pernikahan antara Ryuzen dan Sara.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Like, comment, vote. Thank you ๐ŸŒท