
Di ruang kerjanya, Ryuzen nampak tidak biasa. Dirinya yang biasanya begitu dingin dan tenang, kali ini terlihat dari sorot matanya ada rasa gelisah yang tak menentu. Di dalam pikirkannya saat ini hanyalah bagaimana cara ia mengatakan pada Sara tentang semuanya. Tentang siapa dirinya dan tentang kejadian lima tahun lalu.
"Apa yang akan dia pikirkan, saat tahu jika pria yang merampas kehormataannya lima tahun lalu itu adalah aku. Pria yang saat ini justru mengikatnya dalam sebuah kesepakatan semu dan mungkin menyiksa batinnya."
Ryuzen menghela nafasnya menyandarkan tubuhnya di singgasana miliknya. Menggeretakkan gigi-gigi gerahamnya dan memukulkan kepalan tangannya di atas meja.
*bruakk
"Aku tidak bisa menjadi seorang pecundang seperti ini, aku harus jelaskan semuanya sejelas-jelasnya saat ini juga padanya," ujar Ryuzen dengan tegas dan begitu yakin. Seketika itu juga Kenzo memasuki ruangan Ryuzen, dengan membawa hasil tes DNA yang telah ia lakukan tadi.
"Tuan, ini hasilnya kau lihat saja."
Kenzo menyerahkan hasil tes DNA yang masih tersegel di dalam amplop di tangannya tersebut. Ryuzen pun mengambil dan membuka amplop tersebut lalu membacanya. Ryuzen tersenyum simpul setelah membaca hasil tes DNA tersebut.
"Sudah kuduga, jadi itu sebabnya kenapa aku bisa menyukai anak itu sejak awal bertemu," ungkap Ryuzen.
Kenzo yang dibuat penasaran pun akhirnya minta izin untuk mengetahui hasil tes tersebut, yang mana kesimpulan hasil tes DNA itu bertuliskan.
Berdasarakan analisis DNA, terduga Ayah yang bernama Ryuzen Han, adalah Ayah biologis dari Arvin Chen, karena kemiripan genetik mereka yang berdasarakan uji tes alel adalah mirip, dengan begitu dapat dinyatakan Jika Ryuzen Han adalah benar Ayah kandung Arvin Chen dengan kecocokan 99.99999%.
"Tuan muda Han... kau benar-benar ayahnya Tuan kecil!" ungkap Kenzo terlihat bahagia.
~~
Di tempat lain Sara menangis hebat dibawah derasnya hujan yang jatuh mengalir bersama air matanya. Sara melipat kedua kakinya dan meringkukan tubuhnya yang kini tengah bersandar di sebuah kursi taman.
"Sara...!"
"Jesper!" ujar Sara.
"Sara, kenapa kau hujan-hujanan disini?" tanya Jesper yang kini sedang memayungi Sara. Sara tak kuasa menahan sedihnya, hingga spontan dirinya memeluk Jesper.
"Sara kau kenapa?"
Sara tidak menghiraukan kata-kata Jesper, yang dia lakukan hanya terus menangis sambil memeluk Jesper. Jesper pun akhirnya berhenti bertanya dan membiarakan Sara tenang terlebih dulu.
~~
Sementara itu, suasana hati Ryuzen kini sedang tidak bagus. Ia terlihat emosi karena sejak tadi panggilannya tidak di jawab oleh Sara. Akhirnya Ryuzen pun menelepon Kenzo, memintanya menyiapkan mobil. Ryuzen menyetir sendiri mobil porchenya menuju ke villa constel.
"Kenapa kau tidak angkat teleponku Sara?!" Ryuzen geram dengan sorot mata tajamnya, ia menyetir dibawah derasnya guyuran hujan di kota Montegi dengan kecepatan di batas rata-rata.
Sesampainya di villa, Ryuzen mendapati villanya kosong dan ponsel Sara yang tergeletak di atas meja dapur.
"Ponselnya ada, tapi kemana dia?!" ujar Ryuzen yang kemudian memanggil-manggil nama Sara namun tidak ada respon apa-apa. Ryuzen memeriksa seluruh ruangan di villa constel, hingga dirinya menemukan Ruang kerjanya yang pintunya terbuka. Ryuzen masuk dan sedikit tersentak, karena melihat kotak usang yang ia simpan kini sudah terbuka dan jam tangan di dalamnya pun sudah berada dibawah mejanya.
"Ada apa ini? Apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa Sara tidak ada disini?" kepala Ryuzen dipenuhi banyak pertanyaan tentang Sara.
"Apa Sara pergi ada hubungannya dengan semua ini, atau jangan-jangan...."
**
Jangan lupa di like, comment dan vote ya temen-temen. Luv you🌷