Love Petal Falls

Love Petal Falls
Love petals bloom 18


Setelah berkuda mereka pun memutuskan untuk makan malam bersama di sebuah restoran keluarga. Restoran dengan nuansa tradisional khas kota Montegi menambah kesan hangat di makan malam kali ini.


"Wow hari ini Jason yang traktir, bebas makan apa saja!" seru Alin.


"Yang paling banyak uang kan Ryuzen tapi kenapa malah aku yang harus traktir!" gerutu Jason


"Karena kau itu bodoh!" sahut Yoshiki.


"Tepatnya dia tidak pernah beruntung!" tandas Ryuzen.


Sara hanya bisa tertawa melihat kelakuan mereka, tapi saat matanya melihat ke arah Rony yang hanya diam saja, ia seolah juga merasa iba. Namun apa daya dirinya juga tidak tahu harus bagaimana.


"Andai saja aku dan Rony bisa seperti dulu lagi. Pasti akan lebih menyenangkan."


Makanan pun mulai berdatangan, dengan anggur mewah yang di pesan oleh Yoshiki untuk menemani makan malam. Mereka semua mulai makan malam mereka.


"Ryu, makan ini!" Sara menaruh beberapa potongan paprika di mangkuk yang di pegang Ryuzen. Wajah tampannya pun seketika menampakkan reaksi tidak senang, saat Sara menaruh potongan-potongan paprika itu.


"Sara, kau itu istrinya Ryuzen tapi tidak tahu apa yang ia suka dan apa yang tidak ia suka. Benar-benar istri yang tidak perhatian!"


Sara menoleh ke arah dimana Erika duduk.


"Erika maaf, tapi sepertinya aku lebih tau soal suamiku dibanding siapapun."


"Oh ya?  Lalu kenapa kau berikan paprika itu untuk Ryuzen?" ujar Erika dengan nada sinis.


"Sepertinya perang akan di mulai deh!" bisik Jason pada Alin.


"Ini sih namanya, perang antara istri sah melawan mantan tunangan!"  balas Alin.


"Aku tahu Ryuzen tidak suka makan paprika, tapi meski aku tahu hal itu. Ada hal yang lebih penting yaitu, aku ingin melihat suamiku selalu sehat. Jadi karena itulah kenapa, aku selalu memaksanya memakan paprika-paprika itu meski pun hanya sedikit."


Erika tergelak mengejek "Omong kosong! Ryuzen bisa makan sayuran lain, toh dia juga rajin berolahraga kenapa harus repot-repot memaksanya. Kalau aku jadi kau, aku tidak akan memaksanya!"


Sara pun kali ini hanya bisa diam, dia tidak tahu harus berkata apa lagi, karena apa yang dikatakan oleh Erika barusan, memang benar adanya.


"Aku benci paprika, tapi aku akan suka melakukan apapun yang membuat istriku senang. Jika dia senang melihat aku makan sayuran ini, maka akan aku makan!" Ryuzen langsung memasukan sepotong paprika ke dalam mulutnya.


Sara yang melihat Ryuzen melakukan hal itu, benar-benar merasa senang. Karena secara tidak langsung, suaminya itu seolah tengah menunjukkan kepada semuanya jika dia tengah membela Sara.


Ryuzen menatap Sara sambil tersenyum simpul, diraihnya jari-jari istrinya itu, dan meminta Sara untuk memegang sumpit yang sudah ada paprika dicapitnya.


Sara terlihat bingung dengan maksud Ryuzen memberikannya sumpit yang ada paprikanya tersebut.


"Tapi aku lebih suka lagi, jika istriku yang menyuapku paprika itu. dengan tangannya sendiri!"


Sontak wajah Sara terlihat menjadi lebih merona akibat kelakuan Ryuzen di hadapan banyak orang. Tapi jika dengan hal itu ia bisa menyenangkan hat suaminya itu. Maka Sara pun akhirnya dengan senang hati menyuapinya di hadapan yang lainnya.


"Apa-apaan! Membuatku muak saja!" Rony tentu saja tidak suka akan hal itu. Batinnya seolah ingin meronta dan memaki setiap apa yang dilakukan oleh Ryuzen.


"Sekali lagi, kau sengaja mempermalukan aku Sara!"


Begitu penuh amarah di dalam diri Erika, namun ia menahannya, karena tidak ingin terlihat kalah dari Sara di hadapan Ryuzen.


"Cheers!" Semuanya pun mengangkat gelas masing-masing dan bersulang, tak terkecuali Rony dan Erika.


~~


Di perjalanan pulangnya bersama Sara menuju ke villa, tiba-tiba Ryuzen menerima panggilan dari Kenzo lewat earphone wireless-nya.


"Ada apa Kenzo?" tukas Ryuzen


.....


"Baiklah, besok pagi-pagi sekali di ruanganku langsung temui aku! Sekarang lebih baik, secepatnya kau coba kirimkan soft copy itu padaku lewat surel!"


*Memutus panggilan dengan ketukan jari ke earphone.


"Ada apa? Ada masalah kah?" Sara melihat ke arah Ryuzen dengan ekspresi yang terlihat seperti, berharap suaminya itu akan memceritakan apa yang barusan ia bicarakan dengan Kenzo.


Ryuzen menepuk-nepuk dengan lembut kepala Sara dengan satu tangannya, lalu tersenyum simpul.


"Tidak ada apa-apa, hanya urusan pekerjaan biasa, jadi kau tidak perlu khawatir."


"Oh, okey!" jawab Sara yang terlihat tidak puas mendengar jawaban Ryuzen barusan.


"Aku tahu Ryu menyembunyikan sesuatu dariku. Tapi jika aku memaksanya untuk menjawab rasa penasaranku, aku takut itu hanya akan malah membuatnya semakin tak ingin menceritakannya. Aku harus mencari cara supaya dia dengan senang hati menceritakan masalahnya kepadaku."


"Sara...! Sara sayang! Sara!" Ryuzen memanggil Sara berkali-kali, karena melihat Sara seperti sedang melamun.


"Ya! Ada apa?"


"Sara apa yang kau pikirkan?"


"Tidak, aku hanya...." Kata-katanya seolah terhenti tiba-tiba.


"Hem," Ryuzen mengangkat sebelah alisnya menunggu apa yang sebenarnya istrinya ingin katakan.


"Ryuzen aku hanya ingin, Aku ingin--"


"Sayang, katakan saja apa yang ingin kau katakan," tukas Ryuzen yang mulai tidak sabar, sambil tetap fokus menyetir.


"Aku ingin makan lagi, tiba-tiba mau makan yang berkuah!"


"Maaf Ryu, aku belum berani menanyakan soal dirimu dan masa lalumu. Karena yang aku tahu, setiap kali kau membicarakan soal keluargamu, aku dapat melihat dengan jelas, rasa kecewa dan marah yang mendalam seolah terpancar dari matamu."


"Kau mau makan lagi?" Ryuzen kaget, "Sara, nafsu makanmu jadi besar ya akhir-akhir ini!"


"Jadi, mau antar aku cari makanan berkuah atau tidak?"


"Tentu saja, karena keinginanmu adalah perintah bagiku sayang!" balas Ryuzen yang kemudian mempercepat laju mobilnya dan menuju ke tempat dimana ia bisa menemukan makanan berkuah malam-malam begini.


🌹🌹🌹🌹


LIKE, VOTE, COMMENT! THANK YOU 🙏