Love Petal Falls

Love Petal Falls
Love petals bloom 61


Ryuzen menghentikan laju mobilnya di persimpangan dekat apartemen dimana Gina tinggal.


"Maaf sebagai kuasa hukumnya, aku tidak bisa membantu Sara banyak," Gina terlihat murung karena merasa gagal mencari bukti untuk persidangan besok lusa.


"Kau tidak perlu merasa bersalah, kau melakukan hal yang benar. Jika pun harus ada yang disalahkan maka akulah orangnya." Sudah pasti Ryuzen merasa amat bersalah, terutama dirinya yang tidak mungkin menuruti syarat yang diminta oleh Erika tadi.


"Lalu bagaimana?" Gina terlihat masih khawatir dengan putusan sidang besok lusa, pasalnya pihak Sara belum memiliki bukti kuat untuk dijadikan bahan pertimbangan di depan hakim besok.


"Aku juga tengah memikirkan hal itu...."


"Tuan Han, Sara...."


"Aku sudah tahu kondisinya yang kini tengah mengandung."


"Begitu ya." Gina merasa lega.


"Oh iya, bagaimana dengan Arvin, apa dia baik-baik saja?"


"Hem, dia baik-baik saja," jawab Gina.


"Maafkan aku merepotkanmu."


"Tidak apa-apa, aku menyayangi Arvin. Hanya saja, aku tidak tahu sampai kapan aku bisa menyembunyikan ini semua dari Arvin. Kau tahu sendiri bukan, bagaimana putramu itu."


Ryuzen hanya tersenyum getir.


"Baiklah kalau begitu kita berpisah disini, aku masih perlu menganalisa berkas untuk persiapan pengadilan. Jika begini caranya, aku rasa satu-satunya cara adalah meminta permohonan penundaan jadwal sidang. Dan jika itu dikabulkan, setidaknya kita masih memiliki tambahan waktu untuk mencari bukti."


"Kau benar!"


Gina yang ternyata udah melepas sabuk pengamannya sejak tadi, akhirnya keluar dari mobil Ryuzen.


"Sampai jumpa di pengadilan tuan Han, terima kasih karena sudah mengantarku, aku duluan."


"Ya!" Balas Ryuzen singkat.


*brak


Ryuzen yang menggebrak setir mobil dengan kepalanya sendiri.


"Sial!"


"Andai aku bisa menggunakan cara kotor, pasti menyelesaikan semua ini lebih mudah, tapi konsekuensinya nanti pasti akan ikut ditanggung oleh anak dan istriku."


Bagi Ryuzen untuk melakukan suap apalagi membunuh orang-orang yang mengganggu dirinya dan keluarganya adalah perkara mudah. Tapi akibatnya pasti akan fatal. Mengingat kasus ini sudah diketahui oleh hampir seluruh masyarakat negeri ini. Jika Sara keluar dari jeratan hukum ini dengan mudah dan tanpa sidang, bisa-bisa risiko yang harus ditanggung adalah, anak dan istrinya pasti akan dijadikan public enemy oleh masyarakat. Karena keluarganya akan dinilai otoriter dan menggunakan cara kotor oleh masyarakat. Belum lagi, jika Sara tahu Ryuzen menggunakan cara macam itu, dia pasti akan sangat membenci Ryuzen.


"Aku mungkin mampu menanggung segala serangan apapun.Tapi tidak dengan Sara dan Arvin. Mereka adalah nyawaku tidak akan aku biarkan hidup mereka terusik. Bagaimanapun caranya di sidang nanti, aku harus menang!"


Ryu menyentuh pelipisnya guna menenangkan pikirannya sejenak.


"Apa yang harus aku lakukan, kenapa di saat seperti ini aku seperti tidak beguna!" Ryuzen jelas terlihat frustasi dan tertekan. Dirinya bagai serangga kecil yang bahkan tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri.


Beberapa saat kemudian, tiba-tiba telepon berdering, Ryuzen dengan segala keputusasaan yang di rasakannya saat ini,meraih ponsel yang berdering itu. Tanpa melihat siapa nama orang yang menghubunginya, Ryuzen langsung saja menyambar ponsel itu dan mengangkat panggilan tersebut


"Halo!"


Wajah Ryu tidak teralalu menunjukkan ekspresi yang mencolok saat mendengarkan orang yang kini meneleponnya, dirinya hanya sesekali mengangkat sebelah alisnya dan kemudian berkata, "Baiklah, aku akan kesana menemuimu!"


Setelah mengakhiri panggilan Ryuzen itu, Ryuzen langsung tancap gas menuju suatu tempat yang telah disepakatinya dengan seseorang yang barusan menelepon.


~~


"Aku pulang...!"


"Selamat datang bibi Gina," sambut Arvin yang baru saja selesai mandi dan bersih-bersih.


"Bibi lelah ya? Biar aku ambilkan minum ya."


"Terima kasih Arvin sayang."


Arvin dengan sergap langsung menuju ke dapur untuk mengambilkan segela air untuk Gina.


"Ini Bi," terang Arvin sambil menyodorkan segelas air putih itu untuk sang bibi.


"Jadi..., Bibi tadi habis kemana?"tanya Arvin yang tiba-tiba ikut duduk disebelah Gina.


Aku sudah tahu kalau tadi bibi keluar adalah untuk bertemu dengan papi. Tapi aku penasaran sebenarnya apa yang mereka bicarakan ya? Apa soal mamiku?


"Um, aku hanya bertemu dengan teman."


"Benarkah?" Kata Arvin dengan mata yang memicing.


Arvin tidak boleh tahu hal ini, mana mungkin aku membiarkan Arvin tahu soal apa yang aku dan Ryuzen sedang hadapi saat ini. Bagaimanapun caranya. Aku harus bisa mencari alternatif cara untuk memenangkan kasus itu. Sara tidak bersalah, terlebih ada Arvin yang pasti akan lebih terluka jika aku tidak berhasil memenangkan kasus ini.


Gina tiba-tiba berdiri dan bermaksud untuk bersih-bersih dulu, hal itu ia lakukan agar sekaligus bisa menghindari cecaran pertanyaan Arvin "Uh, Arvin! Badanku lengket, sepertinya aku harus mandi. Kau bisa tolong pesankan makan malam untuk kita kan? "


"Tentu bibi," sahut Arvin dengan nada datar.


Bibi Gina, aku sudah tahu semuanya kok. Tapi aku yakin kau dan papi pasti bisa menolong mamiku.


~~


Setelah tiba ditampat tujuan, tanpa berlama-lama Ryuzen langsung saja kaluar dari mobilnya dan berjalan menemui Jiro. Pria tua yang usianya kira-kira sedikit lebih tua dari Jordan itu, tengah berdiri di sebuah jembatan gantung yang bagi Ryuzen jembatan itu tidaklah asing baginya. Setelah berjalan selama beberapa menit, akhirnya Ryu tiba dijembatan itu dan langsung menghampiri Jiro.


"Ada apa Jiro?" Tanya Ryuzen yang kini tengah merogoh kotak rokok dari saku jasnya.


"Ah, bukan menghalangi kesenanganmu nak! Tapi dua tahun belakangan ini aku sudah berhenti menjadi perokok jadi, bisakah kau-"


"Baiklah," dimasukannya kembali rokok itu ke dalam jas milik Ryu.


"Wah, kau jadi lebih peka ya sekarang?" Kata Jiro.


"Aku tidak punya waktu berlama-lama Jiro, tolong jangan buatku melakukan hal yang hanya akan membuang waktuku!" Balas Ryuzen serius.


"Oke, oke Baiklah...."


"Jadi apa maksudmu tadi di telepon, yang mengatakan jika, kau bisa membantuku menolong Sara di persidangan?"


"Sebenarnya bukan aku yang menolong, melainkan..."


Setelah Jiro mengatakan jika Jordanlah yang akan membantunya, ekspresi wajah sedingin es itu seolah berubah menjadi merah padam.


Ryu mendengkus, "Jadi kau sengaja memintaku datang kemari, pada dasarnya hanya ingin membuatku jadi berhutang budi padanyakah Jiro?"


"Ryuzen, dalam hal ini ayahmu juga tidak salah sepenuhnya! Dia... dia sama denganmu. Terjebak dalam permainan yang sengaja dibuat Biyan demi membalaskan rasa sakit hatinya pada Jordan di masa lalu!"


Permainan?


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Terima kasih banyak untuk yang sudah mau setia membaca ceritaku, sekali lagi maaf tidak bisa update harian. Tapi aku harap kalian masih mau setia membaca ceritaku ini, dan jangan lupa untuk tinggalkan jejak berupa like, comment, vote.


Sekali lagi terima kasih banyak atas apresiasi kakak-kakak, dan teman-teman reader sekalian.


Happy reading fellas and i hope you like it.


For more info follow my ig account @chrysalisha98 thank you.