Love Petal Falls

Love Petal Falls
Love petals bloom 120


Setibanya di rumah sakit, Ryuzen langsung mengantar Sara bertemu dokter Karen, dokter kandungan yang biasa menangani Sara.


Setelah Sara selesai melakukan sesi medical check up. Kini Sara tengah melakukan USG, dimana dokter Karen menjelaskan perkembangan janin Sara lewat layar USG. Diketahui usia kandungannya sudah mulai memasuki trimester kedua. Sara dan Ryu senang sekali mendengarkan penjelasan dokter Karen, tentang tumbuh kembang buah hati mereka di dalam perut Sara yang semakin baik terus berkembang. Setelah selesai melakukan USG pada calon bayi mereka. Dokter Karen kini tinggal menjelaskan terkait kondisi kesehatan Sara dan bayinya.


"Jadi bagaimana dokter, apa calon anakku sehat?"


"Ya menurut hasil pemeriksaan semuanya sehat, ibunya pun sehat. Tapi walau begitu, kau tetap harus menjaga asupan gizi yang masuk setiap harinya. Dan yang tidak kalah penting, kau tidak boleh banyak pikiran apalagi stres karena itu sangat mempengaruhi kehamilanmu Nyonya."


"Baik dokter."


Semenit kemudian, Ryuzen yang baru saja kembali dari toilet, langsung bergabung dalam obrolan Sara dan dokter Karen.


"Intinya, istri dan anakku sehat kan?"


"Ya! Dan sepertinya, kau suami yang sangat menjaga istrimu ya tuan Han," imbuh dokter Karen.


Ryuzen hanya bisa tersenyum sombong, menganggap ucapan dokter Karen adalah pujian baginya.


~~


Di tempat kerja Rina terlihat agak bosan di jam istirahatnya, ia sejak tadi hanya terus saja memainkan tangkai bunga sambil termenung karena merasa bosan, tidak ada teman mengobrol.


"Huft! Bosan juga seperti ini, tidak ada teman mengobrol... andai saja dia..."


"Permisi...!" Rina mendengar suara seseorang dari arah depan toko.


"Apa-apaan, aku memang butuh teman ngobrol tapi bukan pelanggan. Huh! Padahal aku baru saja mau santai, dan tidak mau di ganggu, ini malah sudah datang lagi saja, pelanggan," gerutu Rina. Namun meski kesal, Rina tetap harus menemui customer tersebut, karena itu memang sudah tugasnya. Dengan tubuh yang terlihat tidak semangat berjalan, Rina pun keluar untuk menemui customer itu, karena kebetulan juga, hari ini memang jadwal Rina untuk tetap menjaga toko di saat jam makan siang.


"Iya ada yang bi-sa ak-u ban-tu?" Jawab Rina sedikit terbata-bata, karena gugup. Ia tidak menyangka ternyata pelanggan yang datang tidak lain dan tidak bukan adalah Kenzo.


Di-dia kemari? Bagaimana ini, aku belum mempersiapkan hatiku. Rina berjalan menghampiri Kenzo dengan langkah kecil, sebenarnya ia melakukan itu karena dirinya agak grogi sebab tiba-tiba harus bertemu dengan laki-laki yang membuat jantungnya sering kali berdegup kencang.


"Hey" Sapa Kenzo pada Rina sambil mengangkat sebelah tangannya.


"Hai juga," balas Rina yang kini sudah berada di hadapan Kenzo.


"Apa kabar?" Tanya Kenzo lagi.


Perasaan apa ini? Perasaan ini terasa aneh untuk Rina, tapi gadis itu mencoba untuk tetap bersikap profesional layaknya pada pelanggan lain. "Ngg- aku baik, kau sendiri?"


"Aku juga baik," balas Kenzo yang sebenarnya sejak tadi juga merasa gugup. Ada apa? Entah kenapa seketika dalam beberapa saat suasana tiba-tiba hening. Kedua orang itu malah saling membisu.


"Sebenarnya aku...," ujar mereka berdua secara bersamaan.


"Baiklah kau duluan," kata Kenzo mempersilakan.


"Tidak usah kau duluan saja," pinta Rina.


Baiklah, karena tidak ada yang mau duluan terpaksa mereka memutuskannya dengan suit gunting batu kertas. "Kau menang! Kau yang duluan!" Ujar Rina.


Rina terperangah, Eh apa barusan dia mengajakku pergi kencan?


Dia mau apa tidak ya menerima ajakkanku ini. Astaga aku baru pertama kali mengajak kencan seorang gadis. Bagaima jika aku di tolaknya? Kenzo seolah tidak percaya diri atas ajakannya itu. Tapi dirinya tiba-tiba ingat pesan bosnya yang mengatakan 'Jangan berhenti mengejar wanita yang kau sukai, sebelum kau tahu batas dimana kau harus mundur' yang dikatakan tuan muda benar, jadi aku harus maju, semangat!


Rina sendiri belum memberikan jawabannya. Ia masih belum percaya jika Kenzo mengajaknya berkencan.


"Jadi kau mau atau tidak?" Tanya Kenzo memastikan.


Aku harus tetap tenang dan jawab saja sejujurnya. Rina menghela napas guna mempersiapkan hatinya, "Ya, aku mau." Seketika mimik wajah tegang Kenzo hilang, berganti dengan senyum sumringah cerah bak pelangi, di dalam hatinya pun kini seolah tengah bersorak gembira. Yippy! Dia menerima ajakanku. Ternyata aku bisa juga mengajak kencan seorang wanita! Tuan muda aku akan segera punya pacar!


"Ehem, kalau begitu. Aku jemput kau nanti malam jam enam sore, bagaimana?" Kata Kenzo, yang kemudian dibalas anggukan oleh Rina tanda setuju.


Setelahnya, Kenzo jadi agak bingung mau berkata apalagi, dirinya malah terlihat menggaruk-garuk kecil kepalanya dengan telunjuk. "Oh iya, bukankah ada yang juga kau ingin katakan padaku tadi, Rina?"


Ditanya begitu, Rina malah jadi gelagapan sendiri, pasalnya yang ingin dirinya katakan adalah sama halnya seperti yang barusan katakan Kenzo, yakni, mengajaknya pergi ke suatu tempat. "Umm... kalau itu lupakan saja, soalnya... apa yang ingin aku katakan, tidak jauh berbeda dengan apa yang baru saja kau utarakan," balas Rina malu-malu.


"Oh, begitu ya...?" Imbuh Kenzo yang juga sudah kehabisan kata-kata untuk membalas obrolannya dengan Rina yang jadi agak terasa canggung ini.


~~


Setelah selesai melakukan cek kandungan, Ryuzen minta izin pada Sara, jika dirinya ingin menemui Jason sebentar, karena ada hal yang ingin ia tanyakan pada dokter itu. Sara yang agak malas jika harus ke ruang praktek Jason, yang berada di lantai 5 memutuskan untuk tidak ikut kesana, dan lebih memilih menunggu Ryuzen di lantai dua saja.


Selang sekitar lima belas menit menunggu Ryuzen, tiba-tiba tenggorokan Sara terasa haus, ia ingin minum air putih. Untungnya, di ujung koridor lantai dua ada mesin penjual minum yang bisa ia gunakan untuk membeli air mineral, sehingga Sara tidak perlu repot-repot untuk turun kebawah hanya untuk membeli air minum di kantin rumah sakit.


Tanpa berlama-lama Sara pun langsung saja, berjalan ke arah dimana mesin minuman itu berada. Sesampainya di depan mesin penjual minuman, Sara langsung merogoh tasnya guna mengambil kartu pembayaran digital miliknya.


"Astaga! Aku lupa, semua kartu pembayaranku kan masih ada di dompet satunya, dan kini aku tidak membawanya. Ck! Ceroboh sekali aku ini!" Sara Kesal pada diri sendiri yang sampai bisa ceroboh begini. Sara yang masih menunduk bingung itu, segera menepi ke sebelah mesih penjual minuman, agar dirinya tidak menghalangi orang lain yang ingin membeli minum.


Kalau sudah begini, terpaksa harus telepon dia. Sara berniat menghubungi Ryuzen.


"Nona ini untukumu!" Seseorang dari arah belakang, tiba-tiba menyodorkan sebotol air mineral tepat di sebelah wajah Sara. Sara yang agak sedikit terkejut dibuatnya, langsung menolehkan wajahnya ke belakang, guna mengetahui siapa yang menyodorkan sebotol air mineral tersebuf.


"Kau?" Ucap Sara tidak menyangka, saat mengetahui siapa pria yang dengan baik hati menyodorkan sebotol air mineral padanya itu.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Halo my beloved readers. Semoga kalian sehat selalu ya...


Author secara personal ingin berterima kasih pada kalian, yang masih setia dan selalu sabar menunggu update-an kisah Sara dan Ryuzen. Sekali lagi author minta maaf tidak bisa update harian dikarenakan author punya prioritas yang harus dikerjakan duluan. Jadi mohon dimaklumi ya kakak-kakak dan teman-teman sekalian๐Ÿ™


Oh iya, meski sering novelnya suka slow update, tapi kalian jangan khawatir, karena aku pasti akan selesaikan cerita ini sampai ending kok. Jadi mohon bersabar ya... kakak-kakak yang cantik dan tampan sekalian. Dan buat yang udah baca, agar jangan lupa untuk tinggalkan jejak berupa LIKE, COMMENT, serta VOTE dan jangan lupa untuk bantu di SHARE, karena yang kalian lakukan itu sangat berarti buat aku.


Oh iya temen-temen, jangan lupa juga ya buat follow instagram aku @chrysalisha98, karena aku bakal info karya baruku mungkin disana ๐Ÿ˜Š


FYI : Bulan ini aku mau keluarin novel baru, semoga kalian juga suka ya... dan doakan biar lancar semuanya, aamiin..๐Ÿ™