Love Petal Falls

Love Petal Falls
Love petals bloom 8


*Tok tok! seseorang mengetuk pintu kamar Sara dan Ryuzen dari arah luar kamar mereka.


Sara pun meminta Ryuzen untuk behenti dulu. Tentu saja hal itu berhasil membuat CEO Emerald yang senang, berubah wajahnya menjadi tidak senang.


"Siapa orang yang berani mengganggu aktifitasku malam-malam begini!" tukas Ryuzen kesal.


"Aku buka pintunya dulu ya," ucap Sara merapikan gaun tidurnya sambil berjalan untuk membukakan pintu.


"Arvin?" ucap Sara saat melihat siapa yang mengetuk pintunya barusan.


"Mau apa anak itu kemari?!" tanya Ryuzen yang kemudian bangkit dari sofa sambil mengenakan kaus tidurnya.


"Mami... aku ingin tidur sama mami!" ucap Arvin yang sudah mengenakan piyama sambil membawa bantal tidurnya.


"Tidak boleh!" sahut Ryuzen dengan spontan.


"Kenapa?! Papi setiap hari sudah tidur sama mami, sekarang aku juga mau tidur sama mamiku masa tidak boleh!"


"Kalau kau tidur disini, aku tidur dimana?" Ryuzen cari-cari alasan supaya Arvin tidak minta tidur dengan Sara.


"Papi tidur saja di sofa, lagian ranjang kalian kan besar pasti muat untuk tiga orang!" ujar Arvin lalu menerobos Sara yang ada di depannya dan langsung naik ke atas tempat tidur.


"Pokoknya aku mau tidur disini!" ucap Arvin yang sudah berada di atas tempat tidur kedua orang tuanya.


"Arvin, kenapa tiba-tiba sekali?" tanya Sara.


"Tidak tahu, pokoknya malam ini aku mau tidur disamping mami titik!"


"Lihat kelakuan anakmu yang mau menang sendiri itu," ucap Ryuzen pada Sara.


"Heh, kau pikir sifatnya yang mau menang sendiri itu  turunan siapa?" cibir Sara.


"Aku tidak mau tidur di sofa, dan lagi kalau kau tidur di sini, pasti kau akan banyak gerak dan kesempitan nantinya." Ryuzen menatap ke arah anaknya yang berada di atas ranjang itu.


"Papi tenang saja, aku itu tidurnya menawan seperti pangeran kok! Jadi tidak akan banyak begerak," balas Arvin.


Melihat anak dan suaminya saling berdebat, Sara sepertinya yang pada akhirnya harus memutuskan.


"Baiklah, aku putuskan hari ini kau boleh tidur disini."


"Yeiy! Thank you Mami!"


"Aku menang! Satu kosong buatku!" lirik Arvin ke arah Ryuzen dengan lirikan licik yang mirip seperti miliknya.


"Jadi kau mau bermain licik ya anakku?" bisik Ryuzen membalas tatapan licik putranya itu dengan senyum liciknya.


"Baiklah kita tidur sekarang!" seru Sara.


"Aku yang tidur disampingnya!" ucap Ryuzen dan Arvin secara bersamaan yang ingin tidur di sebelah Sara. Kini mereka kembali saling menatap, seolah mirip seperti dua serigala, dimana serigala kecil yang tengah berebut makanan dengan serigala besar.


"Istri itu harus tidur disamping suaminya," ucap Ryuzen.


"Anak juga harus selalu dekat dengan Ibunya," balas Arvin.


"Arvin, jangan menguji kesabaranku!"


"Papi, sebagai yang lebih tua harus mengalah padaku!"


"Pokoknya harus!"


"Tidak mau!"


Sara yang sejak tadi menyaksikan perseteruan mereka pun, mau tak mau harus melakukan sesuatu untuk menghentikan perseteruan antar ayah dan anak tersebut.


"Papi sebelah sini!"


"Tidak, kau yang harus disini!"


"Stop!" Seru Sara menatap kedua pria yang paling berharga di hidupnya itu, secara bergantian.


"Kalau kalian masih ribut, aku saja yang pergi dari kamar ini!"


"Jangan!" ucap Ryuzen dan Arvin bersamaan.


"Kalau begitu dengar kataku, dan berhenti ribut!"


"Kalian paham?" Sara menunggu jawaban mereka


"Ya kami paham!"


Dan akhirnya mereka bertiga pun tidur dengan posisi Sara yang ada ditengah-tengah mereka berdua. Ryuzen yang melihat Arvin memeluk ibunya pun menggeser tangan Arvin dari Sara. Menyadari hal itu Arvin pun melakukan hal yang sama pada Ryuzen.


Pada akhirnya karena sama-sama tidak bisa tidur, Ryuzen dan Arvin justru malah terbangun dan duduk di sofa yang ada di kamar itu tanpa melakukan apa-apa.


"Kenapa kau tidak tidur?" tanya Ryuzen pada putranya yang duduk di sebelahny.


"Papi sendiri kenapa juga tidak tidur?"


Mereka berdua pun kompak menjawab, "Tidak bisa tidur!" Mereka lalu saling menoleh satu sama lain.


Ryuzen tersenyum kecil, lalu menyentuh kepala Arvin "Kau itu, kenapa keras kepala dan tidak mau kalah sama sekali sih!"


"Karena aku putramu makanya aku begitu!" balas Arvin.


"Baiklah... kau benar!" Ryuzen mengusap kepala Arvin.


"Papi, bagaimana kalau kita adu panco yang kalah tidur dibawah!"


"Aku yakin kau menantangku begitu, karena kau punya rencana licik ya rubah kecil!" tebak Ryuzen.


"Hehehe... ketahuan ya!"


Tadinya Arvin mau menantang Ryuzen adu panco, karena sudah pasti tidak akan menang melawan Ryuzen, sehingga dirinya akan menangis dan mengadu pada Sara kalau tangannya sakit. Dengan begitu maminya akan mengabaikan Ryuzen dan lebih memperhatikan dirinya.


"Kita main permainan yang mengasah otak saja, bagaimana?"


"Siapa takut!" ujar Arvin menjawab tantangan Ryuzen.


Akhirnya mereka pun terjaga sepanjang malam memainkan beberapa permainan yang mengasah otak dan pikiran, hingga mereka berdua pun akhirnya mengantuk dan tumbang dengan sendirinya teregeletak tidur.


🌹🌹🌹🌹


VOTE, LIKE, COMMENT YA GUYS THANK YOU!