
Saat Sara hendak ingin masuk mengikuti Erika ke dalam rumah sakit jiwa. Dirinya sadar jika tidak bisa masuk ke dalam sana, karena dirinya tidak punya izin masuk, dan tak punya kepentingan sama sekali.
"Aku sangat ingin tahu, kenapa Erika datang ke tempat itu. Tapi bagaimana caranya?" Sara memutar otaknya, mencari cara agar bisa masuk ke dalam sana.
Hum, sepertinya keberuntungan sedang bersamaku kali ini.
Sara tak sengaja melihat ada seseorang nyonya yang barangnya bawaannya tertinggal di kursi halte dekat rumah sakit jiwa. Ternyata pemilik barang itu dilihatnya tengah masuk ke dalam rumah sakit jiwa. Sara pun dengan sigap langsung memutuskan untuk memanfaatkan hal tersebut agar dirinya bisa masuk ke dalam sana. Ia segera mengambil barang milik nyonya yang tadi tertinggal itu, dan membawanya sebagai alasan agar bisa masuk ke dalamnya.
"Nona ada apa? Apa anda memiliki anggota keluarga yang di rawat di rumah sakit ini?" ucap seorang petugas yang berjaga di dekat gerbang, melihat Sara yang ingin masuk ke dalamnya.
"Hum, maaf Pak! Aku ingin memberikan barang yang tertinggal ini kepada bibiku yang baru saja masuk!"
"Apa Nona yakin bibi anda masuk kesini?" petugas itu seolah belum mempercayai kata-kata Sara. Dan mau tidak mau, agar si petugas percaya padanya. Sara pun harus memutar otaknya.
"Pak, aku harus segera memberikan benda ini kepada bibiku, karena dia sangat membutuhkan ini." ungkap Sara sambil menunjukan barang milik nyon tadi, yang ia akui sebagai bibinya. Sara dengan sabar terus menerus mencoba meyakinkan petugas itu, hingga akhirnya petugas itu percaya dan mengizinkan Sara masuk.
"Terima kasih Pak!" ucap Sara. Dirinya yang kini sudah memasuki area rumah sakit jiwa itu pun, langsung memainkan bola Matanya, dengan teruz celingak-celinguk mencari dimana kira-kira Erika berada saat ini.
Astaga! Aku harus cari dimana? Aku benar-benar penasaran kenapa Erika datang ke tempat ini.
Sara terus saja berjalan menyusuri area luar rumah sakit itu, terlihat banyak pasien yang tengah dirawat disini sedang di beri makan serta di terapi oleh para petugas rumah sakit. Namun sejauh mata memandang, tetap saja Sara masih juga tak bisa melihat dimana keberadaan Erika saat ini.
Akhirnya dirinya pun memutuskan tuk memasuki area dalam rumah sakit, dengan harapan akan melihat Erika di dalam.
Aku yakin Erika pasti masih di sini, tapi dimana?
Sara terus berjalan melewati beberapa ruangan pasien, yang di rawat di rumah sakit jiwa itu. Dan tentunya tak sedikit juga pasien yang di rawat disana, mengganggu dan mengajak bermain Erika. Beberapa menit menyusuri ruangan, Sara tidak juga kunjung menemukan Erika. Dirinya pun mulai lelah dan memutuskan untuk pergi saja dari tempat itu. Sara bergegas pulang saat itu juga, tapi saat hendak pulang ia justru malah melihat salah satu ruangan yang tidak ditutup. Dan dilihatnya, ternyata Erika ada di ruangan itu tengah menyuapi seorang wanita yang usianya sekitar separuh abad.
Sudah pasti untuk menghilangka rasa penasarannya, Sara pun berhenti dan mencoba mengintipnya dari balik tembok ruangan disebelah pintu.
Erika bersama siapa? Kenapa dia memberi makan wanita itu, apa jangan-jangan....?
Ocehan Sara di dalam hati pun sontak terputus, kala mendengar suara seperti piring yang terjatuh tepat dari arah ruangan dimana Erika berada saat ini.
"Ada apa?" Sara bertanya-tanya. Dirinya tak berani mengintip sercara langsung apa yang sedang terjadi di dalam ruangan dimana Erika berada saat ini. Malahan suara teriakan pun mulai terdengar oleh Sara, yang kini masih berada dibalik dinding luar ruangan itu.
~
"Pergi sana! Penghianat brengsek!" teriak wanita paruh baya itu dihadapan Erika.
"Ibu..., Ibu tenang, Ibu!" ucap Erika.
Ibu?
Sara terperanjat kala mendengar Erika mengucapkan kata itu.
~~
Erika terlihat bingung, ia terus-menerus mencoba menenangkan ibunya yang makin tak terkendali saat itu.
"Aku benci! Pria itu jahat! Aku membencinya!"
"Ibu, aku mohon tenang ibu..." Isak tangis mulai terderngar dari desah napas Erika. Suara histeris ibu nya pun seolah makin tak terkendali, dan hal itu pun berhasil membuat Sara menjadi khawatir. Dirinya yang merasa takut terjadi apa-apa pada Erika, kini pada akhirnya memberanikan diri untuk masuk dan melihat Erika serta ibunya.
"Erika!" pekik Sara.
Erika terperanjat kaget dan bergeming, kala dirinya menolehkan wajah ke arah dimana Sara tengah berdiri dan melihatnya saat ini.
"Erika awas!" Sara mendorong Erika, kala melihat sang Ibu yang hampir saja akan melukainya akibat benda-benda yang di lemparkannya.
Bersyukur Erika terhindar dari luka, namun dirinya kini terjatuh di atas lantai. Sara yang bingung akhirnya memutuskan untuk memanggil tim dokter dan petugas agar segera datang. Hingga beberapa saat kemudian, petugas pun datang untuk menangani ibu Erika yang sedang tak terkontrol dengan memberikannya suntikan penenang.
Ibu Erika akhirnya mulai tenang karena sudah di beri suntikan penenang. Erika dibantu dokter, meletakkan ibunya kembali ke tempat tidurnya agar tertidur. Erika terlihat merapikan rambut sang Ibu dan membersikan wajah wanita yang melahirkan dirinya itu.
"Nona, Ibu anda akan segera tertidur jadi anda bisa meninggalkannya sekarang!" ucap dokter pada Erika.
"Aku mengerti dokter, tapi aku ingin disini sebentar saja tak apa kan dokter?" ungkap Erika dengan wajah sedihnya. Bahkan seolah ia sepertinya tak menganggap kehadiran Sara kala itu.
"Kalau begitu aku permisi!" tukas dokter yang kemudian pergi, Sara yang merasa harus meninggalkan Erika pun juga meninggalkannya dan memilih menunggu di luar ruangan.
Erika lalu mencium kening sang ibu.
"Ibu, aku pergi dulu ya...! Maaf selama ini aku pergi meninggalkanmu. Tapi aku sudah berhasil menjadi desainer hebat Bu! Seperti janjiku pada Ibu, aku akan teruskan mimpi Ibu untuk menjadi desainer yang hebat. Walau aku harus kehilangan pria yang aku cintai!"
~
Di balik dinding luar ruangan Sara seketika mematung, matanya seolah tak terbendung lagi untuk menahan butiran air mata yang akan segera terjatuh. Ia pun menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Jadi, Erika meninggalkan Ryuzen karena hal itu? Jadi, selama ini Erika masih mencintai Ryuzen? Apa Ryuzen sudah mengetahui alasan Erika meninggalkannya waktu itu?
Sara melangkah pergi, dari balik ruangan itu. Langkahnya tergesa-gesa, dirinya tercekat dan seolah tak bisa berkata apa-apa. Air matanya jatuh dan hatinya seolah juga seperti tertampar.
Erika tulus mencintai Ryuzen! Bagaimana jika Ryuzen tahu alasan Erika dan ingin kembali pada Erika?
Seribu pertanyaan dan rasa bersalah seolah berkecamuk di dalam pikiran Sara saat itu. Dirinya merasa takut Ryuzen akan meninggalkannya, jika tahu alasan Erika. Tapi dirinya juga merasa iba dengan Erika yang seperti itu. Sara pun memutuskan kembali tak kembali ke rumah sakit tempat Kenzo di rawat, ia memutuskan untuk menelepon Rina dan mengatakan, jika dirinya tak bisa kembali ke rumah sakit, karena ada urusan.
๐น๐น๐น
VOTE, LIKE, COMMENT! THANK YOU ALL ๐