Love Petal Falls

Love Petal Falls
Love petals bloom 59


Gina pun akhirnya pergi. Setelah selang beberapa menit memastikan jika bibinya itu sudah benar-benar pergi. Arvin pun langsung melancarkan aksinya.


"Fiuh... akhirnya bibi Gina pergi, saatnya melakukan aksi penyelidikan yang tertunda."


Disentuhnya tab miliknya tersebut oleh Arvin. Diamana dirinya berniat untuk melakukan video call dengan seseorang yang tidak asing baginya. Setelah beberapa detik menunggu, akhirnya panggilan video call tersebut itu pun tersambung dengan orang yang tidak lain adalah Kenzo. Obrolan lewat video call diantara kedua orang ini pun dimulai.


Arvin : Huh! Akhirnya paman angkat juga panggilanku! (Terlihat kesal)


Kenzo : Maaf tuan kecil, akhir-akhir ini aku memang sedang sibuk. Ada apa kau tiba-tiba menghubungiku? (Bertanya dengan nada polos)


Arvin : Tidak perlu pura-pura tidak tahu apa-apa begitu Paman, aku yakin, kau pasti sebenarnya sudah tau apa yang akan aku tanya, iya kan?


Kenzo : Tapi tuan kecil, aku... (terlihat gugup)


Arvin : Huh Paman! Kau tidak seru, bukankah dulu kau pernah bilang kalau kita ini partner? Bukannya yang namanya partner harus saling memberi informasi satu sama lain?


Kenzo : Iya sih, tapi ini masalahnya berbeda, tuan kecil...!


Arvin : Ternyata kau juga sama saja! (ngambek) Kenapa sih orang dewasa selalu saja begitu. Menyembunyikan sesuatu dari anak-anak mereka. Apa kalian pikir rasa penasaran bercampur cemas itu tidak sangat menyiksa batin kami para anak-anak dibawah umur? (Arvin menampakkan wajah muram)


Kenzo : Huft, tuan kecil aku mohon kau jangan membuatku jadi sulit begini.


Arvin diam saja ia tak menunjukkan ekspresi apapun. Kenzo yang melihat anak bosnya memunculkan ekspresi begitu dari layar, mendorong sanubarinya menjadi semakin tidak tega melihatnya.


Kenzo : Baiklah, baiklah... aku menyerah. Tapi tidak lewat video call aku mengatakannya.


Mendengar perkataan Kenzo itu, membuat putra Ryuzen Han itu tidak muram lagi dan terlihat puas.


Arvin : Baiklah kalau begitu kau datang kemari ya, mumpung bibi gina sedang pergi keluar.


Kenzo : Apa? Sekarang juga?


Arvin : Tentu saja.


Kenzo : Tap- tapi....


Arvin : Sudahlah jangan banyak protes, pokoknya kau datang kemari sekarang!


Tanpa memberi kesempatan Kenzo membalas, Arvin malah langsung saja mematikan sambungan video call-nya tersebut.


"Kalian orang dewasa lihat? Kalau kalian tidak mau jujur padaku, maka biar aku cari tahu saja sendiri apa yang sebenarnya terjadi. Aku kan juga berhak tau apa yang tengah di alami oleh keluargaku sendiri," gumam Arvin.


~~


Gina akhirnya tiba di kantor Ryuzen, ia memasuki ruangan Ryuzen.


"Maaf membuatmu menunggu tuan Han," ujar Gina sambil menghampiri Ryuzen yang ternyata sudah menunggunya sejak tadi.


"Tidak masalah, silakan duduk!"


Ryuzen mempersilakan Gina untuk duduk, diikuti dirinya yang juga ikut duduk di single sofa yang menghadap ke arah Gina yang sudah lebih dulu duduk itu.


"Baiklah kita langsung ke intinya saja," ucap Gina tak mau berlama-lama basa basi.


"Jadi..."


"Begini, saat aku mengunjungi Sara kemarin dia bercerita kepadaku, jika dirinya sempat bertemu dengan Erika beberapa menit sebelum kejadian itu."


Ryuzen mengangkat sebelah alisnya.


"Maksudmu, Erika...."


"Ya, aku yakin Erika bisa kita andalkan untuk membantu kita memenangkan persidangan yang akan di gelar lusa bagaimana menurutmu?"


Ryuzen memejamkan matanya singkat, "Tapi aku tidak yakin Erika mau membantu."


"Kau mungki benar! Tapi setidaknya, hal ini yang bisa kita lakukan untuk istrimu yang kini sedang menjalani hukuman yang seharusnya bukan untuknya."


Gina benar, aku harus melakukan apapun demi menyelamatkan Sara dari dalam jeratan hukum.


Gina mengangguk tanda setuju.


Sementara itu, di kediaman Gina. Akhirnya Kenzo buka Suara soal semuanya. Arvin nampak begitu terpukul dan masih tidak percaya akan hal yang baru saja diceritakan oleh Kenzo.


"Nenek buyut meninggal, dan..., dan mamiku, mamiku ditahan sebagai penjahat? itu tidak mungkin! Mami orang yang sangat baik, mana mungkin dia-"


"Tuan kecil, aku-"


"Paman Kenzo, aku mau bertemu mami...," ucap Arvin dengan mata berkaca-kaca.


"Tidak bisa tuan kecil, karena...."


"Karena apa? Kenapa paman Kenzo! Kenapa aku tidak boleh bertemu dengan mamiku sendiri?" Arvin menarik-narik pakaian Kenzo sambil terus merengek memintanya agar mau membawanya ke tempat dimana sang mami kini ditahan.


Melihat anak kecil yang sudah dianggap sebagai keponakannya sendiri itu terlihat begitu syok dan emosional, membuat Kenzo merasa bersalah karena tidak tahu harus berbuat apa saat ini.


"Tuan kecil, tuan, tuan kecil! Dengarkan aku!" Ujar Kenzo sambil mencoba menenangkan Arvin yang tengah menangis tesedu-sedu. Arvin pun terpaksa mendengarkan Kenzo yang kini tengah berlutut di hadapannya sambil memegangi kedua pundaknya.


"Tuan Arvin, kau kenal siapa papimu kan?"


Arvin mengangguk.


"Kau tahu, selama hidupku ini. Belum pernah aku melihat laki-laki lain yang sehebat papimu itu dalam melakukan sesuatu. Jadi, kau harus yakin kalau papimu pasti bisa mengeluarkan mamimu dari penjara. Kau yakin itu bukan?"


Arvin sejenak terdiam, ia tidak tahu harus bagaiamana.


Paman Kenzo benar! Papi sudah berjanji akan selalu melindungi mamiku. Apa aku harus percaya semua ini?


"Tuan kecil?" tukas Kenzo meminta perhatian Arvin.


Arvin akhirnya menghapus air matanya, lalu ia mengangkat kepalanya.


"Ya kau benar Paman! Aku yakin, aku yakin papi pasti bisa menolong mami dan kemuadian keluarga kami bisa kembali berkumpul lagi."


"Itu baru anaknya tuan muda Han, " tukas Kenzo sambil menepuk pundak Arvin pelan.


~~


Secara khusus Ryuzen dan Gina puan akhirnya menemui Erika di salah satu kantor butik miliknya.


Erika menghampiri Ryuzen dan Gina yang sudah sejak tadi menunggunya, "Wow aku terkejut! Ada apa gerangan yang membuat tuan muda Han dan pengacara Gina menemuiku?"


Ryuzen yang sejak awal tidak duduk tanpa basa-basi menanggapi Erika, malah langsung buka suara, "Erika, ada yang ingin aku bicarakan denganmu."


Apa yang ingin mereka bicarakan denganku? Kenapa kelihatannya sangat penting dan serius?


"Pembicaraan apa? Bukankah, kau sudah tidak mau berurusan denganku lagi Ryuzen Han?"


Mendengar Erika berucap seperti itu, Gina pun ikut buka suara, "Nona Erika, ada hal penting yang harus kami bicarakan denganmu."


Erika menatap Gina dengan tatapan sinis, tentu saja demikian, karena Gina adalah sahabat Sara yang notabennya wanita yang sangat ia tidak sukai. Erika malas sekali sebenarnya berbicara dengan Gina, tapi karena ada Ryuzen yang datang kemari, seolah dirinya tidak mungkin untuk menolaknya.


Ryuzen menantap Erika dengan ekspresi datar, namun sorot matanya seolah mengatakan jika ia begitu berharap saat ini pada Erika. Tentunya momen tersebut adalah kesempatan bagi Erika untuk kembali dekat dengan Ryu.


"Baiklah, aku lihat jadwalku sebentar." Erika memanggil asistennya untuk melihat jadwal acaranya hari ini, dan beruntung hari ini jadwal Erika kosong sampai nanti sore.


"Oke, sebentar lagi kan masuk jam makan siang, kita bicarakan hal ini saat makan siang," balas Erika.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Terima kasih banyak untuk yang sudah mau setia membaca ceritaku, sekali lagi maaf tidak bisa update harian. Tapi aku harap kalian masih mau setia membaca ceritaku ini, dan jangan lupa untuk tinggalkan jejak berupa like, comment, vote.


Sekali lagi terima kasih banyak atas apresiasi kakak-kakak, dan teman-teman reader sekalian.


Happy reading fellas and i hope you like it.


For more info follow my ig account @chrysalisha98๐Ÿ˜ฌ thank you.