Love Petal Falls

Love Petal Falls
Love petals bloom 103


Siang hari mulai menjelang, Sara baru saja selesai membantu Yoshiki menyiapakan makan siang untuk semuanya.


"Semua sudah siap kak!" Ujar Sara yang juga baru saja selesai menata meja makan, yang akan digunakan untuk makan siang nanti, sebelum akhirnya semuanya kembali dari liburan ini.


"Terima kasih ya Sara sudah mau repot-repot membantuku," terang Yoshiki sambil membawa piring hidangan terakhir ke atas meja makan.


"Sama-sama..., oh iya kalau begitu, aku mau memberitahu yang lain jika makan siang sudah siap. Sekalian aku juga ingin bilang pada Arvin jika kakeknya tadi telepon dan menanyakannya."


"Okey."


Sara pun kemudian meninggalkan ruang makan. Ia mulai mendatangi ke spot-spot yang ada di villa tersebut, untuk memberitahukan mereka-mereka (Suami, teman-teman, dan putranya) jika makan siang telah siap. Semuanya sudah ia beritahu kecuali, satu, Arvin putranya. Sara memang sejak di dapur belum lagimelihat ataupun mendengar suara Arvin sama sekali.


Apa mungkin anak itu bermain di dekat hulu sungai yang ada di dekat villa?


Tanpa banyak kata, Sara pun langsung bergegas kesana, guna mencari putranya tersebut. Namun sayangnya, setibanya di tempat itu ia tidak juga menemukan sosok Arvin ada disana.


"Arvin...!"


"Sayang... kau dimana nak?"


Sara terus saja berulang - ulang memanggil nama putranya tersebut. Sayangnya, meski sudah berkali-kali ia memanggil Arvin, tetap saja tak kunjung ada balasan dari Arvin atas seruan panggilannya itu. Detak jantung Sara bergerak menjadi lebih cepat, tubuhnya pun kini mulai merasakan hawa panas dingin yang semakin membuat perasaannya tidak nyaman. Belum lagi pikiran - pikiran buruk yang kini mulai berkecamuk di dalam benaknya.


"Arvin kau dimana nak?" Sara terus mencoba untuk tetap tenang dan berpikiran positif. Ia mencengkram pakainnya kuat-kuat, berpura-pura jika dirinya tidak panik sama sekali. Meski pada kenyataannya, mimik wajahnya berkata sebaliknya. Sara tampak panik dan mulai emosional.


Arvin kau baik-baik saja kan, tolong munculah sekarang!


Tidak! Aku harus yakin semuanya akan baik-baik saja. Perasaan ini..., ya pasti ini hanyalah karena rasa khawatirku yang terlalu berlebihan. Sara terus mengelak, seolah begitu naif mencoba menutupi kecemasannya yang padahal semakin terlihat.


Desah napas sara mulai tak beraturan adanya, ia seolah tidak tahu harus bagaimana. Karena saat ini, baginya yang terpenting adalah, dirinya bisa dapat segera melihat sosok putranya secepat mungkin. Bulir bening di matanya mulai menggumpal di pelupuk mata wanita cantik itu. Ia berlari dengan tergesa - gesa kembali ke villa, berharap akan bertemu putranya disana.


"Arvin sayang...!" Sara memanggil nama itu denga keras, setibanya langsung kembali ke villa. Ia menyusuri semua sudut ruangan sekali lagi dengan tergesa - gesa. "Arvin, kau dimana? Jangan bermain-main dengan mami, ini tidak lucu!" Sara terus menyuarakan nama putranya, berharap jika putranya sedang bermain petak umpet. Mendengar suara Sara yang terdengar ke seluruh ruangan, semua yang mendengarnya pun langsung datang untuk menghampirinya. Tidak terkecuali Ryuzen yang begitu mendengarnya, langsung mengambil langkah cepat dan segera mengahampiri istrinya yang kini terlihat kacau.


"Sara...?" Pekik Ryuzen, melihat ekspresi sang istri yang sudah tidak baik. Ryuzen pun langsung mendekati Sara yang langsung tiba-tiba menerjang dengan memeluknya sambil menangis.


"Sayang, kau kenapa?" Ryuzen benar - benar tidak tahu apa yang sebenarnya membuat istrinya jadi seperti ini.


"Ryu...." Sara memanggil Ryu di sela-sela isak tangisnya.


"Iya sayang, kau kenapa? Apa ada yang berani menyakitimu?" Sara hanya menggeleng, ia mencoba mengatur napasnya yang kini tidak beraturan karena tangisnya yang sejak tadi pecah.


"Ryuzen hiks..., Arvin hilang! Aku tidak bisa menemukannya. Aku- aku takut terjadi sesuatu padanya."


Bagai tersambar petir, Ryuzen dibuat tersentak kaget dengan apa yang dikatakan oleh istrinya soal Arvin. Tapi bagaimana pun, Ryu tetap dipaksa untuk tenang, mengingat Sara yang kini sedang hamil, dan tidak boleh sampai stress karena sesuatu. Ia memeluk Sara dengan lembut, mencoba menenangkan sang istri dengan kata-katanya, "Kau tenang ya sayang, aku pastikan Arvin akan baik-baik saja." Diusapnya dengan lembut punggung wanitanya itu sambil terus membisikan kata-kata yang bisa membuatnya tenang.


"Kau harus temukan anak kita," ucap Sara yang mulai tenang.


Ryu menatap mata Sara dalam-dalam, "Aku berjanji, aku pasti akan temukan anak kita dan membawanya kembali ke hadapanmu, itu janjiku! Kau percaya padaku kan?"


Kata-kata Ryuzen, seolah seperti mantra yang bisa membuat Sara tenang. Ia pun mengangguk tanda percaya dan kembali memeluk Ryuzen dengan perasaan yang sudah lebih baik. "Aku percaya padamu Ryuzen... aku percaya."


"Alin kau jaga Sara disini, bawa tolong dia ke kamar!"


"Baik Ryu." Alin pun membawa Sara ke kamar untuk menenangkan dirinya sambil menunggu, Ryu dan yang lainnya mencari Arvin


"Jason, kau hubungi Kenzo! Suruh dia segera kembali ke villa ini secepat mungkin!" Titah Ryuzen, pada Jason.


"Aku mengerti."


Ryuzen pun mengambil mantelnya. Tanpa banyak kata ia langsung berjalan dengan diikuti Jason dan Yoshiki, pergi untuk mencari Arvin.


Arvin aku tahu kau anak yang cerdas, aku yakin kau pasti akan baik-baik saja.


~~


Setelah menyurusuri beberapa tempat di area villa. Akhirnya, Ryuzen dan kedua sahabatnya itu pun kini berada di dekat hulu sungai, tempat dimana Ryuzen yakin jika anaknya itu pergi kemari.


"Kau yakin putramu pergi ke sini?" Tanya Yoshiki.


"Aku yakin!"


Mereka macari tanda-tanda Arvin, sayangnya tidak ada pentunjuk. Tapi Ryuzen nampak yakin sekali jika putranya itu, pasti ke tempat ini.


Sial!


Ryuzen terus berpikir, ia masih bertahan dengan intuisinya yang mengatakan jika putrannya itu tadi memang ke tempat ini. Ryuzen sekali lagi mengamati sekitar hulu sungai. Dan tepat seperti dugaannya, Arvin memang tadi kemari. Ryu ternyata menemukan kancing jaket yang telepas, yang diyakininya sama persis seperti kacing jaket yang dikenakan oleh Arvin hari ini. Ia pun memungut kancing yang tergeletak di di dekat hulu sungai tersebut.


"Kancingnya terjatuh dekat hulu, apa jangan-jangan Arvin?"


Jika memang Arvin tenggelam dan terseret aliran sungai di hulu, seharusnya Arvin tidak akan sampai tenggelam, mengingat putranya itu cukup mahir berenang. Setidaknya menahan aliran di hulu tak sebesar di muara sungai.


Saat tengah sibuk beranalisa, Ryuzen dan kedua sahabatnya itu malah harus diganggu oleh kedatangan, sebuah makhluk yang tiba-tiba saja muncul.


"Oh! Ternyata hanya seekor berang-berang biasa," pungkas Jason.


"Tunggu dulu, apa mungkin?" Pikiran Ryuzen tiba-tiba terbesit sesuatu hal yang membuatnya mengingat kejadian tadi pagi. Ia ingat, tadi pagi setelah mengantar kepulangan Rina dan Thomas, Arvin sempat berintaraksi cukup banyak padanya.


***Flashback on***


Setelah mengantar Rina dan Thomas yang berpamitan. Ryuzen dan Arvin menyempatkan waktu untuk bermain-main bersama sebentar. Ryuzen yang menggedong Arvin di pundaknya itu pun saling melempar pertanyaan.


"Papi, paus bernapas dengan paru-paru sama seperti manusia bukan?"


"Ya!"


"Tapi kenapa paus bisa begitu lama bernapas di dalam air? Sedangkan kita manusia yang juga bernapas dengan paru-paru tidak bisa. Sekalipun ada manusia yang bisa, itu pun harus berlatih dahulu jika mau menyelam dan menahan napas di dalam air dalam waktu yang lama. Aku jadi heran akan hal itu!" Arvin kecil dengan segala kepolosannya, bertanya dengan penuh rasa penasaran.


Ryuzen pun langsung tersenyum kecil dibuatnya. "Memang gurumu di sekolah tidak memberi tahumu soal hal seperti itu?"


Arvin menggeleng. "Belum, sejauh ini kami belum membahas soal itu. Mencari di internet soal hal seperti ini, seolah kurang menyenangkan, ditambah sumber yang belum tentu valid."


"Huft..." Ryuzen menghela napas.


"Kenapa? Jangan bilang, Papi tidak tahu jawaban atas pertanyaanku tadi?" Kata Arvin curiga jikasang papi tidak tahu.


"Hei anak muda, kau pikir kau sedang bicara dengan siapa?"


"Makanya ayo jelaskan padaku."


"Jadi bagini. Paus itu sendiri pada dasaranya memiliki protein yang disebut haemoglobin yang mana sangat efektif dalam penyimpanan oksigen. Bukan hanya itu saja, tetapi jenis mamalia air seperti paus itu pada dasarnya, hanya memiliki sedikit pemburuh darah, dibanding dengan manusia seperti kita yang memiliki pembuluh darah lebih banyak. Nah hal itulah yang memungkinka paus dan mamalia ari lain bisa bertahan lebih lama di dalam air, dibanding manusia. Ryuzen mejelasakan dengan sangat rinci juga sangat terstruktur dan rapi.


"Papi kau memang hebat!"


"Aku tahu itu."


"Tapi kenapa tiba-tiba tanya soal itu?" Telisik Ryuzen.


"Tidak apa, hanya bertanya saja. Oh iya satu lagi! Aku juga sangat penasaran, kenapa berang-berang itu membuat rumahnya seper..."


Suara ponsel Ryuzen yang tiba-tiba berdering membuat Arvin menghentikan ucapannya. Karena itu panggilan penting, Ryuzen pun meminta Arvin untuk menunda pertanyaannya karena harus mengangkat telepon.


***Flashback off ***


Kemungkinan besar pasti karena dia melihat berang-berang di sekitar sini.


"Hei Ryuzen kau mau kemana?" Pekik Yoshiki melihat Ryuzen yang tanpa bilang bergegas pergi ke arah menuju hilir sungai, yang mana arusnya semakin deras.


"Kenapa dia tiba-tiba pergi begitu?" Tanya Jason pada Yoshiki.


"Entahlah, tapi kita ikuti saja dia."


Ryuzen melihat ke sebelah kiri muara, dan betul adanya. Disana terdapat sarang berang-berang yang kemungkinan membuat Arvin berlari ke arah sini untuk melihatnya langsung. Ryuzen mengintai sekelilingnya, mencari sekiranya ada pentunjuk yang mungkin ia bisa dapatkan untuk membantunya menemukan Arvin.


Jason dan Yoshiki baru saja tiba menyusul Ryu yang jauh meninggalkannya lebih dulu. "Bagaimana? Apa ada petunjuk?" Tanya Yoshiki dan Jason yang tengah beristirahat di dekat batu besar di tepi sungai.


"Belum, tapi...." Mata Ryuzen tiba-tiba, terfokus pada batu besar yang digunakan Jason dan Yoshiki untuk bersandar. "Ada apa kau melihat ke arah kami begitu?" Kata Jason yang tidak nyaman melihat Ryuzen yang menatap ke arah dirinya dan Yoshiki seperti ingin menerkam mangsa.


"Ka- kau! Ada apa?" Ryuzen bukan bermaksud menghampiri Jason maupun Yoshiki. Ia justru penasaran dengan apa yang ada dibalik batu besar itu. "Kalian berdua, coba lihat apa yang ada dibalik batu tempat kalian bersandar!" Tidak paham apa maksudnya, Yoshiki pun hanya bisa mengikuti instruksi dari Ryuzen untuk melihat apa yang ada dibalik batu besar itu. Ditorekan mata Yoshiki dan Jason ke balik batu itu, untuk melihat seperti yang dikatakan Ryuzen. Dan ternyata dibalik batu itu adalah....


"Ryuzen! Cepat kau kemari!" Seru Jason yang kaget dengan apa yang dia lihat saat ini.


Ada apa sebeneranya, apa yang mereka temukan dibalik batu itu? Ryuzen pun langsung melangkah cepat mendekati batu itu.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Hai my beloved readers...


Terima kasih ya, buat kalian yang masih setia dan selalu sabar menunggu update-an kisah Sara dan Ryuzen. Sekali lagi author minta maaf tidak bisa update harian dikarenakan author punya prioritas yang harus dikerjakan duluan. Jadi mohon dimaklumi ya kakak-kakak dan teman-teman sekalian๐Ÿ™


Meski sering slow update, tapi kalian jangan khawatir, karena aku pasti akan selesaikan cerita ini sampai ending. Jadi mohon bersabar ya.... kakak-kakak yang cantik dan tampan.๐Ÿ˜˜ Oh iya jangan lupa untuk tinggalkan jejak berupa like, comment, vote dan jangan lupa untuk di share juga ya. Thank you.


Dan jangan lupa juga follow instagram aku @chrysalisha98, karena aku bakal info karya baruku mungkin disana ๐Ÿ˜Š


Happy reading and hopefully you like it ๐Ÿ˜Š