
"Tuan, semuanya yang kau perintahkan, sudah berjalan seperti rencana. Tapi... aku jadi agak merasa tidak tega melihat, nona Sara yang sepertinya sangat khawatir padamu. Ia bahkan sampai meneleponku berkali-kali. Apa kau sedang ada masalah dengan nona?"
"Tidak! Biarkan saja." balas Ryuzen dengan mimik santai, namun terdengar serius.
"Tapi tuan..."
"Sudah jangan banyak tanya, kau kembali saja kerjakan apa yang aku minta."
"Baik, tuan!" Kenzo beranjak pergi dari ruangan Ryuzen.
Ryu menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya, menarik napas dan menghembuskannya. Ia meraih ponselnya yang barada diatas meja dan membuka galeri foto yang berisi foto-foto istri dan anaknya. Ryu membuka foto dirinya dan Sara saat berfoto bersama untuk pertama kali. Pria itu tersenyum kecil memandangi layar ponselnya. "Saat ini aku marah padamu Sara. Kenapa kau harus membuatku kesal tadi malam? Kenapa kau seperti ragu padaku? Yang lebih anehnya, kau itu bodoh, tapi aku tetap saja jatuh cinta pada wanita bodoh sepertimu!" Ryu memperbesar ukuran foto tersebut dan mengarahkan fokusnya pada wajah Sara yang nampak tanpa celah bagi Ryuzen. "Aku harap hubungan kita akan segera membaik, dan soal masa laluku dengan Renji... aku berharap kau lebih percaya padaku dibanding yang pria itu beritahukan padamu."
~~
Setibanya di salah satu butik ternama, Rina langsung bergegas mencari gaun yang ia butuhkan. Berbeda dengan Rina, Sara masih saja terlihat gelisah dan tidak tenang. Dirinya merasa ingin segera keluar dari butik tersebut, dan pergi ke kantor Ryuzen untuk menemui sang suami.
"Rina, apa kau sudah temukan gaun yang kau suka?" Sara berharap Rina sudah menemukan gaun favoritnya.
"Belum, oh ayolah kak... kita baru masuk tiga puluh menit yang lalu, bagaimana bisa aku langsung dapat yang aku mau. Lagipula... kenapa kakak tidak coba beli gaun juga, banyak gaun-gaun cantik disini! Lihatlah...!" Ujar Rina.
Biasanya, Sara selalu suka melihat koleksi gaun-gaun cantik. Tapi kali ini... moodnya tidak sebaik biasanya, Sara merasa masih belum tenang jika belum bertemu Ryuzen. Sara pun kembali melihat layar ponselnya, dan ternyata ada pesan dari Ryuzen, yang mengatakan jika hari ini dirinya ada urusan di luar kota.
Tentu saja Sara senang, karena akhirnya... Ryu pun menghubunginya. Tapi disisi lain dirinya juga sedih, karena harus berpisah lagi dengan Ryu, dan parahnya lagi, di hari ulang tahun pernikahaan mereka. Tapi apa mau dikata, Sara tak punya pilihan, ia pun hanya bisa membalas chat tersebut dengan ucapan, Hati-hati dijalan. I miss you.
Karena tidak ada lagi alasan untuknya ke Emerald, Sara pun memutuskan untuk membantu Rina memilih gaun di butik itu. Lucunya... saat ia memilih gaun, Sara baru menyadari sekelilinya, ternyata pengunjung di butik ini hanya ada dirinya dan Rina saja. Biasanya butik ini sangat ramai pengunjung, tapi kenapa tiba-tiba sepi Bagini? Apa mungkin Rina menggunakan fasilitas blackcard untuk berbelanja disini? Ah tapi siapa peduli... Sara pun kembali membantu Rina memilih gaun, dan saat masih sibuk memilih, tiba-tiba seorang pegawai butik dan beberapa orang yang telihat modis, meminta Sara untuk mengenakan gaun koleksi terbaru butik tersebut. "Tunggu, aku tidak bisa..." Sara mencoba menolak, tapi sialnya Rina malah ikut mendesaknya juga. "Sudahlah kak Sara ikuti saja mereka... biar aku disini, menunggumu sambil mencari gaun!" Karena terus didesak, Sara pun pada akhirnya mau ikut dengan pegawai butik tersebut, untuk mencoba gaun koleksi rancangan terbaru dari butik tersebut.
"Akhirnya... tugasku hampir beres! Tinggal menunggu perintah selanjutnya," tukas Rina tersenyum puas.
~~
Berpakaian tuxedo semi formal Arvin tampak begitu tampan sekaligus menggemaskan. Ia terlihat sudah tidak sabar ingin memberi kejutan kepada papi dan maminya. "Kakek! Ayo, kita harus segera pergi ke tempat papi dan mami. Aku sudah tidak sabar ingin memberikan selamat kepada kedua orang tuaku di hari jadi pernikahan mereka," ujar Arvin meminta kakeknya yang tengah bersiap-siap agar segera keluar dari kamar.
"Iya cucuku, aku datang!" Balas Jordan yang sudah rapi.
Arvin terkesima dibuatnya melihat penampilan formal sang kakek, yang kini berada di hadapannya. "Woah... kakek kau sangat keren! Kau tidak kalah dengan papi, kalau berpakaian seperti ini!" Mengenakan tuxedo berwarna gelap, Jordan yang meski sudah berumur, sepertinya tidak kehilangan pesonanya. Ia masih tampak gagah, dan keren diusianya yang sudah hampir menginjak usia enam puluh tahun.
"Terima kasih, aku tersanjung dengan pujianmu cucuku!"
"Gen keluarga Han memang tak pernah mengecewakan, bukan begitu?" Seloroh Jiro yang tiba-tiba datang dengan pakaian yang juga cukup formal.
"Kau juga tidak kalah keren kakek Jiro!" Puji Arvin.
"Kau pun sangat tampan tuan kecil."
"Oh kalau itu, semua orang sudah mengakui," ujar Arvin dengan begitu percaya diri.
Sudah selesai bersiap-siap, kini ketiga pria itu siap untuk menuju ke lokasi yang sudah dikirimkan oleh Kenzo tadi. Dalam hal ini, Ryuzen maupun Sara tidak mengetahui sama sekali, perihal Arvin dan Jordan yang akan ikut datang ke tempat yang sudah ia persiapakan untuknya dan Sara. Memang hal itu sengaja dilakukan Arvin, karena dirinya telah sepakat bekerjasama dengan Kenzo, agar merahasiakan kedatanganya, demi bisa memberi kejutan pada kedua orang tuannya itu.
"Oke Kakek Let's go!" Ujar Arvin.
~~
Setelah sekitar satu jam lebih di dandani oleh para pekerja butik yang ternyata, adalah orang-orang suruhan Kenzo, Sara pun keluar.
Rina pun langsung takjub melihat penampilan Sara. "Ya Tuhan! Kak Sara kau benar-benar terlihat sangat cantik!" Rina begitu terkesima melihat Sara mengenakan gau tersebut. Gaun selutut yang didominasi warna biru tosca dengan manik berlian itu, sepertinya memang dirancang khusus untuk Sara, dirinya terlihat semakin cantik dengan rambut semi terurai memanjang, dan dibalut kakinya yang mengenakan flatshoes kaca.
"Oh ayolah... ini berlebihan aku rasa, aku... aku tidak bisa membeli gaun ini," ujar Sara yang merasa tidak bisa memakai gaun tersebut.
"Ap- apa maksudmu?" Tanya Sara pada salah satu pekerja butik barusan.
Rina melihat jam di ponselnya, ternyata sudah pukul enam sore. Oh no! Aku harus segera memberitahu Kenzo, jika kak Sara sudah siap. Beberapa saat kemudian Kenzo pun membalas pesan Rina, jika dirinya sudah menyuruh seorang sopir untuk membawa Sara ke tempat yang dimaksud.
Okey! Balas Rina pada Kenzo. Tidak mau menunda, Rina pun segera mengajak Sara agar meninggalkan butik tersebut. "Rina... kau mau ajak aku kemana?" Tanya Sara yang ditarik tangannya tiba-tiba oleh Rina.
"Sudah Kak Sara ikut saja, dan jangan banyak protes."
~~
Sesampainya diluar, Sara langsung diminta masuk ke sebuah mobil sedan mewah. "Paman sopir, tolong jaga kakakku ya!" Ujar Rina pada supir yang dikirim oleh Kenzo tersebut.
"Baik!"
"Rina... aku mau dibawa kemana?" Sara benar-benar bingung dan panik, dengan keanehan-keanehan ini. Mulai dari gaun yang diberikan cuma-cuma, dan sekarang dirinya malah mau dibawa entah kemana.
"Tugasku selesai kak Sara, sekarang kau ikut paman sopir saja. Kau tenang saja, semua akan baik-baik saja," pungkas Rina yang kemudian menutup pintu mobil itu dari luar. "Bye....kak, selamat menikmati kejutan...!" Rina melambaikan tangannya ke arah mobil yang membawa Sara. "Akhirnya... tugasku seleasi!" Tukas Rina sambil merenggangkan sendi-sendinya.
Di dalam mobil Sara terlihat gelisah, ia pun tak henti-hentinya terus bertanya pada paman sopir yang membawanya itu, kemana dirinya sebenarnya akan dibawa. "Paman aku tanya sekali lagi, kau mau bawa aku kemana?"
"Maaf nona, aku tidak bisa bilang padamu, karena itu pesan dari tuan muda."
Sara langsung terkesiap mendengar paman itu menyebut kata 'tuan muda'. "Tuan muda, maksudmu... Ryuzen Han suamiku?"
Paman sopir itu pun tersenyum mengiyakan, pertanyaan Sara.
*Huft.... apa yang ingin dia lakukan? Kenapa dia lakukan ini padaku! Tapi syukurlah jika semua keanehan ini ternyata dibawah kendalinya. Setidaknya aku aman, tapi apa sebenarnya yang ingin ia lakukan padaku*?
๐น๐น๐น
Hai.... you all my beloved readers.
Semoga masih setia dengan ceritaku, semoga kalian selalu sehat ya...
Jangan lupa **LIKE, VOTE, COMMENT** ๐น
Love -C