
Bibi Rachel dan para pelayan tengah menyiapkan makan malam. Arvin sendiri sibuk bermain dengan Kenzo dan para pelayan lainnya. Sedangkan Sara kini tengah mandi dan bersih-bersih. Ryuzen sendiri malah sibuk berdiam diri di taman belakang, sambil menikmati sebatang rokok di mulutnya. Dirinya mengingat masa kecil yang ia habiskan di rumah ini.
Bagi Ryuzen, rumah besar nan megah ini bukanlah tempat berlindung tapi lebih seperti penjara bernuansa kelam. Sejak kecil Ryuzen sudah di takdirkan untuk menjadi satu-satunya penerus Emerald oleh Yerumi sang kakek. Yerumi sendiri sangat keras mendidik Ryuzen. Setiap hari Ryuzen dipaksa harus belajar berbagai macam buku tentang bisnis. Meski Ryuzen sangat cerdas dan kemampuan berpikirnya diatas rata-rata anak seusianya namun, sejatinya ia tak pernah suka sama sekali membaca buku bisnis. Hingga suatu hari, Biyan Dao sang paman mengunjunginya.
Flashback 27 tahun silam
Saat itu Ryuzen berusia lima tahun. Di taman belakang dirinya sedang fokus membaca buku-buku bisnis.Hal itu terlihat dari tumpukan buku super tebal dihadapannya, yang mengantri untuk di baca Ryuzen. Saat tengah membaca buku, tiba-tiba seorang pria mendekatinya dengan senyum yang tidak bisa di artikan.
"Kau Ryuzen?"
Ryuzen kecil mengangguk tanpa menatap Biyan.
"Aku Biyan Dao pamanmu," ucapnya
"Hai Paman," balas Ryuzen datar lalu meneruskannya lagi membaca.
"Kau suka mempelajari buku-buku itu?" ucap Biyan menoleh ke tumpukan buku-buku tebal itu.
"Tidak!"
"Lalu, kenapa kau terus membacanya?"
"Memang aku punya pilihan lain, tidak penting suka atau tidak asal kau dapat memahaminya sudah cukup!"
"Kau mirip sekali dengan ayahmu...!"
Ryuzen menghentikan membacanya dan menjawab, "Ayah itu apa? Sejak lahir aku tidak tahu apa itu ayah!"
"Dan kau paman, jika kau hanya mau basa-basi lebih baik tinggalkan aku!" ujar Ryuzen dengan tatapan dinginnya.
"Anak ini...! Karena ayahnya aku tidak bisa menguasai Emerald. Sekarang karena dia, aku juga harus batal menjadi pewaris Emerald untuk kedua kalinya. Bocah sialan, kau harus aku singkirkan!"
"Hei, kau tahu soal AK-47?"
Ryuzen tertarik dengan ucapan Biyan?
"Iya, kenapa?"
"Mau mencobanya? Kau tahu sebagai pewaris Emerald nanti akan banyak musuh yang mungkin menyerangmu, aku rasa belajar mempertahankan diri adalah penting!"
"Kau mau mengajariku menembak?"
"Tentu saja," balas Biyan.
Sejak saat itu, Biyan Dao mulai sering mengajak Ryuzen ke tempat latihan menembak diam-diam. Ditambah Biyan juga sering memberikan buku-buku martial art, dan banyak buku-buku lain yang tidak berhubungan dengan bisnis kepada Ryuzen
#Flashback ended
Ryuzen masih tenggelam dengan ingatan masa lalunya, dan tanpa sadar putung rokoknya sudah habis terbakar oleh hisapannya.
Berharap setelah di hukum Ryuzen akan jera, hal itu justru membuatnya semakin menjadi pemberontak. Bagi Ryuzen, dirinya sudah tak peduli lagi aturan dan sejenisnya itu. Baginya dunia ini tak pernah ramah dan adil padanya. Ryuzen kabur dari gudang dengan segala tipu dayanya. Arogan, Licik, manipulatif dan tanpa ampun adalah sifat yang bagi Ryuzen adalah senjata yang harus ia miliki untuk bertahan hidup.
Sampai suatu hari di ulang tahunnya yang ke -13 Ryuzen di culik dan dibawa ke Anglo. Sejak saat itu hati Ryuzen benar-benar membeku dan menghitam tanpa cahaya sama sekali, sisa-sisa senyumnya pun benar-benar hilang tanpa bekas. Baginya untuk berdiri di puncak teratas, segala yang menghalanginya adalah musuh yang harus dihancurkan, dan mereka yang mengusiknya adalah lawan yang harus ia musnahkan.
"Biyan kau harus bayar semuanya, kau dan pria tua bertopeng itu harus hancur!" Ryuzen mulai mengatupkan gigi-gigi gerahamnya, mata yang diselimuti oleh dendam dan penderitaan, kini menatap tajam bagai elang yang siap menerkam.
Hingga pada akhirnya, lamunan Ryuzen harus buyar saat sepasang tangan lembut menutup matanya dari belakang.
"Kau mau mengagetkanku?" ucap Ryuzen yang sudah tahu persis siapa yang mendatanginya itu. Aroma segar dengan harum yang menenangkan yang hanya dimiliki oleh satu-satunya wanita pujaaan hatinya saat ini.
"Tebak aku?" ucap Sara yang belum melepaskan tangannya dari mata Ryuzen.
"Istriku yang paling cantik," ucap Ryuzen.
Sara pun akhirnya melepaskan tangannya dari mata Ryuzen. Ryuzen langsung memutar tubuhnya dan menghadap Sara untuk menunduk menatapnya istrinya, yang baginya lebih mirip dewi kedamaian dalam hidupnya yang dikirimkan oleh Tuhan.
"Kenapa kau sendirian disini?" tanya Sara yang sejak tadi mencari Ryuzen.
"Kau sudah rindu padaku, padahal baru sekitar satu jam kita berpisah," goda Ryuzen.
Sara pun hanya tersenyum geli, saat Ryuzen berkata itu sambil memeluk melingkarkan tangannya di pinggang ramping miliknya.
"Sudah malam, bibi Rachel sudah siapkan makan malam untuk kita semua. Kau juga harus masuk untuk makan malam!" ucap Sara menatap lembut sang suami.
"Boleh tidak, kalau aku langsung makan makanan penutupnya," balas Ryuzen dengan tatapan nakalnya.
"Kau ini, bisa tidak sih kalau tidak mesum begitu?!" Sara protes.
"Mau bagaimana lagi, Arvin sudah minta seorang adik," bisik Ryuzen.
"Sudahlah, ayo kita masuk!" ujar Ryuzen yang kemudian dengan spontan langsung menggendong Sara.
"Ryuzen, apa-apaan? Di dalam sedang banyak orang kau jangan begini!" Sara meminta Ryuzen menurunkannya segera, tapi Ryuzen malah tidak mau dan terus saja berjalan sambil menggendong istrinya itu untuk masuk ke dalam rumah.
"Ryuzen, Turunkan aku! Aku malu pelayan lihat kita." Sara menyadari pelayan-pelayan di kediaman Han, kini tengah bergantian menatap dirinya yang digendong Ryuzen. Hal itu berhasil membuat Sara malu.
"Memang kenapa? Kau kan istriku, mereka juga tidak akan protes!" ujar Ryuzen yang terus saja berjalan tanpa menghiraukan para pelayannya.
"Tuan muda sungguh romantis!" ujar pelayan satu.
"Iya seperti pangeran di dalam drama-drama yang sering aku lihat di TV," balas pelayan satunya lagi.
"Beruntung sekali ya nona Sara! Kapan ya aku begitu?" sahut pelayan lainnya.
"Sudah-sudah kembali kerja," tegur pelayan lain.
🌹🌹🌹