
"Ryuzen, kau mau apa kesini? Jangan macam-macam atau aku teriak!" gertak Sara yang mulai panik, dan tidak tahu apa yang akan dilakukan Ryuzen padanya saat ini.
"Aku tidak ingin macam-macam, aku cuma mau satu macam yaitu, kau berhenti mengabaikanku...!"
Ryuzen semakin mendekatkan tubuhnya pada tubuh Sara yang sudah tidak bisa kemana-mana, karena tertahan oleh meja dibelakangnya dan kedua tangan Ryuzen yang membatasi ruang geraknya.
"Ryuzen, kau... kau mau apa...?" tanya Sara gugup tidak berani menatap Ryuzen, yang kali ini sedang dalam keadaan marah.
"Aku hanya ingin memperingatkamu, berhenti memprovokasiku seperti tadi!" ucap Ryuzen ke telinga Sara dengan suara berat miliknya.
"Ak... Aku tidak memprovokasimu, aku juga tidak melakukan apa-apa," jelas Sara yang kini semakin terpojok.
"Berhenti memuji pria lain di hadapanku! Ingat Sara, kontrak yang kau tanda tangani waktu itu masih sah, dan jika kau melanggarnya kau tahu akibatnya kan," ucap Ryuzen dengan suara beratnya yang terdengar sangat mengancam.
Sara menundukan kepalanya, karena merasa takut melihat Ryuzen yang begitu mengintimidasinya saat ini.
"Kau masih mau apa lagi dariku? Bukankah... hidupku, tubuhku, semua sudah aku berikan padamu. Setidaknya untuk menebus dosamu di masa lalu, biarkanlah aku hidup tenang bersama Arvin, dan...."
"Dan apa?!" Ryuzen semakin marah.
"Dan berhenti mengganggu aku!" pekik Sara namun tertahan.
"Oh, aku paham sekarang. Kau mau aku membiarkanmu hidup tenang, lalu kau mencari pria lain untuk jadi ayahnya Arvin, begitukah? Jangan mimpi Sara Chen!"
"Kalaupun ada laki-laki yang menjadi papinya Arvin, orang itu hanya aku tidak ada yang lain! Jadi kau jangan pernah berpikir, untuk mencari ayah baru untuk Arvin. Karena jika itu terjadi, maka kau tidak akan pernah bisa membayangkan, hal apa yang akan aku lakukan padamu!"
Dengan penuh amarah Ryuzen mengatakan hal itu pada Sara. Ryuzen pun kemudian langsung pergi kembali ke ruang makan meninggalkan Sara yang kini merasa tidak berdaya, dan hanya bisa meratap untuk kesekian kalinya.
"Kenapa? Kenapa aku selalu kalah olehnya, egoku sekali pun tak bisa mengalahkan sifat dominan pada dirinya. Bahkan, menatap matanya saja aku tidak sanggup saat ini. Kenapa aku selemah ini...!"
~~
Makan malam pun usai. Sara mengantar Jesper ke depan rumah.
"Sara terima kasih atas makan malamnya, aku pulang dulu, titip salamku pada Arvin ya...," ucap Jesper.
"Tentu, akan kusampaikan nanti saat dia sudah bangun. Kau hati-hati di jalan," balas Sara pada Jesper yang kini tengah memanaskan mobil dan bersiap pergi meninggalkan rumah Sara.
Setelah beberapa saat kepergian Jesper, kini giliran Ryuzen yang akan pamit pulang.
"Sara... aku pulang dulu," kata Ryuzen berpamitan.
Namun, Sara malah entah sengaja atau tidak, tidak meresponnya. Ryuzen memejamkan singkat matanya, dan berkata,
"Sara... aku hanya ini kau tahu, aku tidak ingin menyakitimu. Bisakah kau percaya itu?"
"Kau mau aku jawab jujur atau bohong?"
"Kalau begitu, jawabannya tidak. Selamat malam!" ucap Sara yang kemudian, langsung masuk ke dalam rumahnya dan menutup pintu meninggalkan Ryuzen diluar sendirian.
~~
Ryuzen belum beranjak pergi jauh dari area tempat tinggal Sara. Dirinya kini justru tengah menikmati menghisap sebatang rokok yang ada mulutnya.
"Sedang menikmati udara malam yang dingin Tuan Ryuzen?" ujar Jesper yang ternyata juga belum pergi dari area sini. Ryuzen mengangkat sebelah alisnya, dan tersenyum kecut.
"Apa kau mengikutiku pengacara Lin?" tanya Ryuzen, yang kemudian kembali menghisap putung rokoknya.
"Aku tidak mengikutimu, aku hanya kebetulan juga sedang menikmati angin malam di sekitar sini," terang Jesper.
Ryuzen bergeming dan tetap terus menikmati menghisap rokoknya. Jesper pun mendekat ke tempat Ryuzen yang kini tengah berdiri disamping mobil porsche panamera miliknya.
"Kau tahu Tuan Ryuzen, aku sudah mengenal Sara sejak kami masih kecil. Dia wanita yang hebat, mandiri, dan tidak mau menyusahkan orang lain. Tapi adakalanya dia akan berubah menjadi begitu naif dan bodoh, hal itu demi melindungi dirinya dan orang-orang yang ia sayangi," ungkap Jesper tiba-tiba.
"Pengacara Lin, apa kau sedang mencoba memamerkan kedekatanmu dengan Sara di masa lalu, padaku?"
"Tidak juga, tapi kalau kau berpikir demikian, aku juga tidak masalah.., yang jelas aku hanya ingin kau tahu, meskipun aku bekerja untuk Emerald Grup di bawah naunganmu, tapi untuk urusan Sara.... Aku tidak akan pernah tunduk padamu."
Ryuzen membuat senyum mengejek di wajahnya, ia pun berujar membalas ucapan Jesper barusan.
"... Aku bukan pebisnis amatiran yang akan mencampur adukan urusan pribadi, dengan urusan perusahaan. Jadi kau tidak perlu risau akan hal itu."
"Dan satu lagi, meskipun kau Ayah dari anaknya Sara, aku tidak akan pernah mundur dengan mudah," terang Jesper.
"Sepertinya... kau benar-benar menganggap diriku ini sebagai rival terberatmu ya?"
"Kenyataannya aku tidak bisa memungkiri fakta yang ada saat ini kan!"
Ryuzen hanya menyeringai kecil mendegarnya.
Malam hari pun kian semakin larut, dan angin di awal musim dingin benar-benar terasa seperti menusuk sampai ke tulang.
"Ngomong-ngomong hari sudah semakin larut. Kalau begitu Tuan Ryuzen, aku pamit duluan. Selamat malam...," ucap Jesper lalu meninggalkan Ryuzen.
"Selamat malam!" balas Ryuzen dengan wajah datar
Jesper sudah pergi, tapi Ryuzen masih saja nampak bergeming di tempatnya berdiri saat ini, sambil memandangi langit malam yang tidak terlihat bintang sama sekali.
πΉπΉπΉ
Vote, comment dan likenya dong π Thank you π·