Love Petal Falls

Love Petal Falls
Love petals bloom 20


Setelah pulang kerja, seperti biasanya Sara akan menyempatkan diri untuk berbelanja ke supermarket guna membeli bahan-bahan kebutuan rumah tangga, dan juga beberapa bahan masakan yang ingin dimasak untuk makan malamnya. Dan kini dirinya tengah membaca ulang catatan belanjanya untuk memastikan jika semua yang ia perlu beli sudah terbeli.


"Sepertinya sudah semuanya terbeli," ucap Sara. Namun saat ia mengecek lagi, ternyata ia belum membeli buah apel kesukaan Ryuzen.


"Duh! Hampir saja lupa!" ucap Sara. Ia pun segera medorong troli belanjanya dan menuju ke area buah-buahan, untuk mengambil dua kilogram apel. Saat hendak mengambil apel itu, tak sengaja tangan Sara bersentuhan dengan tangan seorang pria yang juga ingin mengambil kantung yang sudah berisi 2 kilogram apel itu.


"Oh maaf!" ujar Pria itu.


"Aku juga minta maaf!" balas Sara yang menaruh kembali kantung yang berisi apel itu.


"Nona, kau ambil saja apel itu, biar aku minta petugas pramuniaga mengambilkan apel yang lain," ucap pria itu dengan sangat ramah.


"Apa tidak apa-apa?" tanya Sara


"Tidak apa-apa, silakan kau ambil saja," jawab pria itu dengan ramah.


"Kalau begitu, terima kasih banyak!" Sara kemudian mengambil sekantung apel itu, kemudian dimasukannya ke dalam troli belanja miliknya dan beranjak pergi. Tapi saat hendak beranjak pergi untuk membayar belanjaannya, Sara tak sengaja mendengar obrolan pria yang tadi tak sengaja menyenggol tangannya itu dengan seorang pramuniaga.


"Maaf sekali, tapi apel jenis itu stoknya sudah habis! Akhir-akhir ini buah-buahan lokal memang lebih banyak di incar pembeli," jelas nona pramuniaga itu pada pria yang tadi mengalah pada Sara.


"Tuan, jika kau ingin sekali apel ini kita bisa membaginya jadi dua, kau satu kilo, aku satu kilo, bagaimana?" usul Sara yang entah sejak kapan telah berada di dekat pria itu.


"Bolehkah?" ujar pria itu menoleh ke wajah Sara.


"Tentu saja!" Sara tersenyum.


"Kalau begitu baiklah! Nona pramuniaga, tolong kau bagi dua apel-apel ini di kantung yang berbeda ya." Pramuniaga itu pun langsung mengindahkan permintaan pria tersebut untuk membagi apel itu jadi dalam dua kantung.


"Oh iya nona kau-"


"Ah maaf, ponselku berbunyi. Aku angkat telepon dulu ya!" Sara pun segera mengambil langkah agak menjauh dari pria itu, kemudian mengangkat panggilan dari Ryuzen.


*


Sara : Halo sayang


Ryuzen : Sudah selesai belanja?


Sara : Ini sudah mau selesai, kau jemput aku ya.


Ryuzen : Maaf sayang, aku tidak bisa ada yang harus dikerjakan. Tapi Kenzo akan menjemputmu nanti !


Sara : Sibuk sekali akhir-akhir ini, jaga kesehatanmu ya. Jangan terlalu banyak merokok dan minum.


Ryuzen : Baik istriku!


Sara : Baiklah sampai ketemu, I love you!


Ryuzen : I love you more


*Suara mengakhiri panggilan


Sara menoleh kembali guna menghampiri pria tadi, tapi sayangnya pria itu sudah pergi. "Mungkin aku terlalu lama angkat telepon jadi dia keburu pergi," ucap Sara.


"Nona, ini apel milik anda!" kata seorang pramuniaga sambil memberikan satu kantung apel yang di bagi dua dengan pria tadi.


"Terima kasih!"


Setelah mendapatkan sekantung apel yang diinginkannya. Sara pun langsung bergegas ke tempat kasir, untuk membayar semua barang-barang belanjaan yang sudah ia belinya tadi.


~~


Emerald Tower


Seorang pria paruh baya berperawakan tinggi dan masih cukup gagah, untuk usianya yang kini memasuki separuh abad berjalan ke arah ruangan Ryuzen. Pria berpakaian rapi dan mahal itu melangkahkan kakinya ke ruangan Ryuzen.


"Jadi, kau sudah tidak sabar bertemu denganku kah?" ujar Ryuzen yang menolehkan kepalanya ke belakang diikuti seringai di bibirnya.


"Aku sangat tidak sabar, oleh kerena itu aku datang dari budapest langsung ke tempatmu. Keponakanku!"


Ryuzen membalikan tubuhnya berjalan ke arah Biyan Dao, yang sudah duduk di salah satu sofa yang ada di ruangannya.


"Paman kau itu sudah tua, lebih baik kau persiapkan dirimu sebagai pengakuan dosamu di neraka nanti!" tukas Ryuzen dengan wajah datar.


"Sebenarnya aku hanya ingin menyapamu dan melihat kabarmu. Karena sudah hampir sepuluh tahun tak berjumpa, kini kau benar-benar sudah berubah menjadi pria dewasa ya!"


"Bicara basa-basi seperti itu bukan selera obrolanku!"


"Baiklah-baiklah! Aku hanya ingin bilang padamu Ryu, mobilmu yang ada di parkir lorong tadi itu bagus sekali."


Ryuzen mengangkat satu alisnya dan bergeming.


"Dan aku punya hadiah untukmu yang aku taruh mobil itu. Aku harap kau suka hadiah dariku!"


Ryuzen hanya mendengus dengan senyum miring terurai di bibirnya.


"Hanya itu saja?"


"Ya, aku memang kemari hanya mau menyapamu sambil memberikan hadiah salam perjumpaan. Baiklah! Kalau begitu aku pergi dulu tuan muda Han, anggap saja hari ini pertemuan kita sebelum kau dan aku benar-benar memulai permainan! Ciao!" Biyan Dao pun melenggang pergi meninggalkan ruangan milik Ryuzen tersebut.


~


"Semoga aku tidak terlambat!"


*Chat via telpon.


Kenzo : Ya tuan ada apa?


Ryuzen : Kau dimana sekarang?


Kenzo : Di jalan menuju supermarket tempat nona Sara berbelanja!


Ryuzen : Kenzo, cepat periksa mobil yang kau kendarai itu apa ada yang aneh?


Kenzo : A... apa maksudmu?


Ryuzen : Jangan banyak tanya periksa saja! Apa ada yang aneh di sana, dan jangan lepas earphone-mu sebelum aku perintahkan!


Kenzo : Baik tuan!


---


Kenzo pun segera mengecek mobil yang ia kendarai itu dengan seksama mulai dari kaca, dashboard hingga kursi dan lain-lainnya. Merasa kerepotan Kenzo pun berencana menepi sebentar tapi....


"Oh sial!"


Kenzo mengepalkan tangannya dan memukul stir kemudinya.


Ryuzen : Ada apa?


Kenzo : Tuan, rem di mobilnya sama sekali tidak berfungsi!


Ryuzen : Biyan tua sialan! (umpat Ryuzen)


Kenzo : Apa maksudmu tuan, apa kerusakan rem ini karena pamanmu itu?


Ryuzen : Iya!


Kenzo : Tapi tuan, seandainya aku tak selamat karena kecelakaan ini, aku tak masalah! Setidaknya nona Sara tidak--


Ryuzen : Cerewet! Kau jangan banyak bicara! Lebih baik sekarang kau tenang dan ikuti aba-aba dariku! Paham?


Kenzo : B... Baik tuan!


Ryuzen : Setelah ini, kau cari lintasan lurus panjang dan sepi, dan pastikan lajumu jauh dari pemukiman ataupun area publik lainnya.


Kenzo : Jadi aku harus berputar -putar disana hingga bahan bakarnya habis.


Ryuzen : No! Kau harus cari cara keluar segera dari mobil itu. Aku yakin Biyan Dao memasang denonator atau alat peledak lain di mobil itu. (Menghela napas) Kenzo kau percaya aku?


Kenzo : Iya tuan apapun yang terjadi aku percaya padamu.


Ryuzen : Kenzo kau tenang saja! Aku tidak akan membiarkanmu celaka! Jadi...


Kenzo : Aku sudah mengerti tuan!


Ryuzen : Bagus


Kenzo : Tuan aku matikan panggilan ini ya?


Ryuzen : Oke lakukan! Semoga berhasil Kenzo!


*panggilan diputus


Kenzo pun segera mencari lintasan lurus dan sepi seperti yang dikatakan oleh Ryuzen, ia melajukan mobilnya sekencang mungkin guna membuat bahan bakarnya habis.


"Argh! Sepertinya aku harus segera keluar dari mobil ini!"


Kenzo melihat ada sebuah pohon besar di dekat hulu sungai algia. Dirinya dengan segera melepaskan sabuk pengamannya, kemudian menarik tuas pintu mobil dan melempakarkan dirinya keluar dari mobil yang tengah dalam kecepatan sedang itu. Kenzo pun jatuh terguling ke atas jalan yang belum di aspal. Ia berguling beberapa meter hingga terhenti karena sebuah pohon besar, yang kini ia jadikan sebagai sandaran tubuhnya yang tengah tidak dalam kondisi baik. Bahu sebelah kanan Kenzo mengalami cedera yang cukup parah, akibat berbenturan dengan aspal yang cukup kuat. belum lagi tulang keringnya yang sempat menghantam batu besar saat terguling, menambah rasa sakitnya.


*Duar!


Terdengar suara ledakan yang asalnya dari arah mobil yang di kendarai oleh Kenzo tadi.


"Tenyata memang dipasangi alat peledak!"


Kenzo memegangi bahunya yang tengah cidera, dirinya meringis merasakan sakit pada bahu dan kakinya. Kenzo tidak tahu harus berbuat apa saat ini, pasalnya ponsel miliknya yang ada di dalam mobil tadi, sudah ikut melebur bersama ledakan mobil tadi.


"Kalau begini, aku jadi seperti diingatkan lagi dengan kejadian dua belas tahun yang lalu. Hari dimana untuk pertama kalinya, aku merasa hidupku dan nyawaku ada harganya di mata orang lain!"


Kenzo seolah dibawa kembali ke ingatan 12 tahun yang lalu, Hari dimana dirinya bertemu dengan Ryuzen.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


LIKE, COMMENT, VOTE! THANK YOU๐Ÿ™