
"Ja- jadi, selama ini kalian," kata Miya tebata-bata, seolah masih tidak menyangka jika ternyata hubungan diantara putranya dan Ryu begitu rumit, hanya karena seorang wanita yang tidak lain adalah iparnya sendiri.
"Iya ibu, dan oleh karena itu...," Rony menoleh ke arah Ryuzen dan menatapnya dengan tajam.
"Sudah sepantasnya dia bertanggung jawab atas semua yang terjadi sekarang ini. Begitupun dengan apa yang di alami Sara saat ini, semua itu tidak lain adalah karena kau Paman!" Rony sampai mengangkat telunjuknya dan menunjuk ke arah Ryuzen dengan ekspresi yang dipenuhi rasa amarah.
"Kau tahu Paman, aku sudah mengira sejak awal jika dirimu...." Rony sengaja menahan perkataannya. Ryuzen yang awalnya tidak menoleh pun jadi menoleh ke arah Rony, karena penasaran dengan apa selanjutnya yang ingin dikatakan oleh keponakannya itu.
"Diriku apa?" kata Ryu.
"Dirimu yang brengsek itu memang tidak pantas untuk Sara yang terlalu berharga Paman," imbuh Rony sambil menantap Ryuzen. Ryuzen pun pada akhirnya hanya terus bergeming dan tidak membalas ucapan Rony barusan. Ryuzen merasa, jika apa yang dikatakan oleh Rony tentang dirinya adalah sebuah kenyataan.
"Rony, jangan ucapanmu!" seru Henri dengan nada memperingatkan Rony agar menjaga perkataannya pada pamannya.
"Kenapa Ayah? Apa aku salah, mengatakan itu semua? Bukankah yang aku ucapkan barusan adalah benar adanya huh?!"
"Rony, dia pamanmu!" balas Miya.
"Ya, Ibu benar! Orang ini, dia memang adalah pamanku. Tapi apa diluar sana tahu jika dia, pria ini," Rony menunjuk ke arah Ryuzen yang kini berdiri dekat dengannya.
"Pria yang dianggap begitu hebat oleh para penduduk di negeri ini, dan pria yang selalu digilai wanita di luaran sana ini. Heh! nyatanya pria tersebut saat ini hanyalah, seorang pria arogan yang hanya bisa membuat istrinya sendiri jadi tumbal atas semua masalahnya!"
Ryuzen kini mulai merasa marah. Ia mmengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. batinnya panas mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Rony barusan. Tapi disisi lain, apa yang telah dikatakan oleh keponakannya itu adalah benar adanya. Nyatanya semua yang dialami Sara sekarang, tidak lain adalah karena masalah dirinya dan musuh-musuhnya.
"Kenapa diam!" ujar Rony dengan nada keras.
"Kenapa kau diam saja paman, huh?!" Rony menarik kerah kemeja yang dikenakan Ryuzen.
"Kalau saja Sara tidak menikah denganmu, pasti hal ini tidak akan pernah terjadi, kau paham!"
*brukk
"Rony apa-apaan dirimu!" Seru Miya melihat Rony meninju wajah pamannya.
Meski tidak terjatuh, namun jelas terlihat ada sedikit cairan darah yang muncul di tepi bibir Ryuzen yang diakibatkan oleh pukulan Rony tadi.
"Ayolah Paman Ryu, kenapa? Kenapa kau tidak membalasku!" Rony terus saja berteriak sambil menarik kerah baju Ryuzen. Ryuzen yang sejak tadi diam, akhirnya menyingkirkan kedua tangan Rony yang mencengkram kerah pakaiannya.
"Tuan muda!" seru Kenzo yang tiba-tiba datang dari arah pintu masuk, setelah tadi beberapa menit keluar untuk menerima panggilan.
Mendengar Kenzo memanggilnya dan terlihat panik, Ryu yang awalnya ingin menganggapi Rony pun, malah lebih dulu menanggapi Kenzo, "Ada apa Kenzo?"
"Tuan muda gawat!"
Kenzo memberitahukan kepada Ryuzen, jika baru saja ia menerima kabar jika harga saham Emerald di bursa saham anjlok.
"Bagaimana bisa secepat itu?" Ryuzen mengernyitkan dahi, pria itu nampak tidak percaya akan hal yang baru saja dikatakan oleh asistennya itu.
"Aku juga tidak terlalu paham, tapi aku yakin hal ini pasti adalah imbas dari berita kasus yang menimpa nona Sara saat ini," jelas Kenzo.
Ryuzen pun terlihat tengah berpikir serius, sebelum akhirnya ka memerintahkan Kenzo, "Kenzo sekarang juga, kau pantau dan hubungi seluruh orang media baik cetak maupun online. Blok semua isi berita mengenai kasus Sara yang masih simpang siur!"
"Baik.Tuan aku mengerti." Tanpa banyak bertanya Kenzo langsung menjalankan apa yang diperintahkan oleh Ryuzen.
Dalam hal ini, Ryuzen yakin jika anjloknya harga saham Emerald bukan hanya semata-mata karena kasus. Melainkan pasti ada campur tanga seseorang yang dengan sengaja memanfaatkan situasi ini untuk menghancurkannya, dengan cara memainkan isu berita yang tidak akurat, untuk memprovokasi masyarakat awam.
Sial! Aku harus bergerak cepat!
Ryuzen pun akhirnya memutuskan untuk pergi kembali ke kantor pusat, "Kenzo, kita ke kantor sekarang! Kakak, maafkan aku yang tidak bisa datang ke pemakaman nenek." Dengan wajah penuh penyesalan Ryuzen.mengatakan hal itu di hadapan semuanya.
"Mau kemana kau?" Rony menghadang langkah Ryuzen.
"Jadi kau mau pergi, dan-" Rony langsung tersentak diam kala Ryuzen menepuk pundaknya tiba-tiba dan menatapnya dengan serius.
"Kau tidak perlu takut, Sara istriku yang paling berharga di dunia ini. Jadi aku pastikan dia akan selamat dan keluar dari masalah ini," ucap Ryuzen di hadapan keponakannya itu.
Rony menepis tangan Ryu yang ada di pundaknnya dan berkata, "Begitu ya? Kalau begitu aku anggap ucapanmu tadi adalah sumpahmu Paman. Karena jika kau tidak bisa menyelamatkan Sara, jangan menyesal jika aku akan mengambilnya paksa darimu."
Ryuzen mengusap darah yang ada di dekat bibirnya dengan tangannya, "Aku pastikan kau tidak akan pernah bisa merebut istriku dariku! Dan, pukulanmu kali ini lebih bagus dari yang waktu itu!" Ryuzen pun meneruskan langkahnya dan berjalan pergi menuju kantornya diikuti oleh Kenzo yang ada di belakangnnya.
"Terima kasih pujiannya Paman!" gumam Rony.
Sebelum keluar meninggalkan kediaman, Ryuzen tak lupa menitipkan kediaman ini pada Miya dan Henri, "Kak Miya dan Kak Henri aku menyerahkan kediaman ini pada kalian, tolong jaga rumah ini."
Henri dan Miya mengangguk tanda paham.
"Pergilah Ryu, kami yang akan mengurus semua yang ada di kediaman ini," tukas Miya.
Rony pun hanya bisa menatap ke arah Ryuzen yang berjalan membelakanginya untuk beranjak pergi, sambil berharap apa yang Ryu ucapkan tadi padanya benar-benar tepati.
Paman, saat aku mulai melangkahkan kakiku untuk mundur perlahan dan mencoba merelakan dirinya untukmu. Saat itu juga aku berpikir jika kau tidak bisa menjaganya, maka aku sendiri yang akan mengambilnya darimu tanpa ragu lagi. Jadi, jangan halangi aku menolongnya, jika kau tidak bisa menyelamatkan Sara kali ini.
~~
Ryuzen masih berjibaku di ruangannya sejak semalam, tanpa makan. Ryuzen hanya mengisi perutnya dengan menenggak berbotol-botol anggur, dan sesekali menghisap rokoknya berharap bisa menghilangkan beban pikirannya.
*tok tok
Morin sekretaris Ryuzen masuk ke dalam ruangan.
"Ada apa Morin?" tanya Ryuzen, tanpa menoleh dan tetap fokus pada layar laptopnya.
"Tuan Han, anda belum makan dan tidur sejak semalam bukan? Aku rasa anda sebaiknya sarapan dan beristirahat sejenak. Karena jika-"
"Pergilah Morin! Biarkan aku bekerja, lebih baik kau kerjakan apa yang aku suruh saja!" ujar Ryuzen.
"Tapi Tuan, anda...."
"Aku bilang pergi!" ujar Ryuzen sekali lagi dengan pelan namun bernada membentak. Morin yang sudah tahu jika Ryuzen mengatakan hal lebih dari sekali, itu tandanya dirinya benar-benar tidak bisa diganggu, akhirnya ia menyerah dan pergi.
"Baiklah, aku permisi Tuan." Morin pun meninggalkan ruangan Ryuzen. Morin pun tak sengaja berpapasan dengan Kenzo yang juga sepertinya ingin masuk ke dalam ruangan Ryuzen
"Kenzo?" tukas Morin saat hampir saja menabrak Kenzo yang berjalan berlawanan arah dengan dirinya.
"Hey ada apa? Sepertinya kau habis dimarahi," ucap Kenzo melihat tampang Morin yang sepertinya tidak baik-baik saja, setelah keluar dari ruangan tuan Han.
"Kenzo, aku tadi habis menawarkan tuan Han untuk istirahat sebentar, tapi dia malah marah dan menyuruhku pergi. Kau tahu, aku hanya khawatir saja dengan kesehatan tuan Han, ditambah nona Sara yang biasa membawakan makanan untuknya sedang, ya kau tahu kan," jelas Morin.
Kenzo pun menepuk pundak sekretari Morin dan berkata, "Soal itu kau serahkan saja padaku asisten pribadi tuan muda Han. Karena di kantor ini, tidak ada yang lebih mengerti tuan Han selain aku. Jadi, biar aku yang urus soal itu, kau kerjakan saja apa yang harus kau kerjakan! Okey?"
Morin pun mengangguk dan mempercayakan semuanya pada Kenzo selaku asisten pribadi Ryuzen.
๐น๐น๐น
Terima kasih banyak untuk yang sudah mau setia membaca ceritaku, sekali lagi maaf tidak bisa update harian. Tapi aku harap kalian masih mau setia membaca ceritaku ini, dan jangan lupa untuk tinggalkan jejak berupa like, comment, vote.
Sekali lagi terima kasih banyak atas apresiasi kakak-kakak, dan teman-teman reader sekalian.
Happy reading fellas and i hope you like it.