
Erika terlihat kacau. Rambutnya yang biasanya tertata rapi, kini malah terlihat tidak beraturan. Pakaiannya pun tidak semodis biasanya. Di kairaku Erika seolah berupaya untuk menghilangkan rasa frustasinya dengan minum-minum.
"Ryuzen kau pria brengsek! Kenapa kau tidak mau mengiyakan syaratku? Harus berapa banyak harga diri lagi yang harus aku rendahkan agar kau mau kembali lagi padaku?"
Erika kembali menuangkan minuman itu ke dalam gelas yang dipegangnya. Ketika hendak ingin meminumnya tiba-tiba gelas tersebut dirampas dari genggamannya.
"Hei kembalikan!" Seru Erika.
"Mau minum berapa banyak lagi? Apa hidupmu hanya seharga minuman yang memabukan ini?"
"Kak Yoshiki?" Ujar Erika yang baru mengetahui jika orang yang telah merebut gelasnya itu adalah Yoshiki sang pemilik tempat tersebut. Yoshiki lalu menghampiri Erika dan mengajaknya mengobrol.
"Erika berhentilah mengejar Ryu, dia sudah bukan milikmu dan sampai kapanpun tidak akan pernah menjadi milikmu lagi. Jadi menyerahlah sebelum kau semakin sakit nantinya."
Erika tertawa geli, dirinya seperti sudah mulai terpengaruh alkohol karena minuman yang ia minum sejak tadi. "Kau tahu kak!" Erika cegukan.
"Aku heran dengan Ryuzen, apa yang dia cari dari wanita sial itu? Apa karena dia secantik itu? Atau apa karena dia sangat pintar, sehingga membuat Ryuzen yang dingin dan kejam jadi tergila-gila setengah mati padanya."
"Erika, sudahlah...."
Dengan mata sendunya Erika menoleh menatap Yoshiki, "Kak katakan padaku! Apa aku sudah semakin tua? Atau karena aku yang sudah tidak cantik lagi sehingga Ryu sudah tidak mencintaiku lagi dan malah memilihi Sara yang hanya wanita biasa itu? Kenapa kak! Jawab aku...."
Melihat Erika yang sepertinya sudah semakin mabuk, Yoshiki pun mengajaknya pulang. "Sudahlah! Kau itu cantik dan menarik, tapi sekarang kau sebaiknya aku antar pulang saja."
Yoshiki memapah Erika dan membawanya keluar dari Kairaku.
"Kak, kenapa kau baik kepadaku dan juga Ryu? Sebenarnya kau ada dipihak siapa?"
"Kau ini bicara apa?" Gumam Yoshiki yang masih memapah Erika menuju ke mobil untuk diantar pulang.
~~
Setibanya di mobil mewah berwarna merah milik Yoshiki, ia segera membantu Erika masuk ke mobil dan memasangkan sabuk pengamannya.
"Kenapa kau tidak menjawabku kak?"
"Jawab apa?" Balas Yoshiki yang sudah duduk di kursi kemudi dan menyalakan mesin mobilnya.
"Siapa yang kau bela, aku atau si wanita sialan itu?"
Yoshiki menghela napas dan kemudian manjalankan mobilnya.
"Erika," ujar Yoshiki sambil menyetir.
"Apa? Sudahlah, aku sudah tau kau akan jawab apa. Kau pasti akan membela wanita itu bukan?" Ungkap Erika yang mulai terlihat pasrah.
"Aku tidak membela siapa-siapa."
"Kenapa?"
"Karena bagiku, kau dan Ryuzen adalah temanku, aku menganggap kalian sudah seperti saudaraku. Jadi tidak alasan untukku membela siapa diantara kalian."
"Begitukah?" Sahut Erika yang kini fokus menatap ke ke arah luar dari kaca mobil.
"Erika jujur saja, aku sedih melihatmu seperti ini. Aku tidak tega melihatmu yang selalu berjuang sendirian, dan berusaha mendapatkan yang sudah jelas tidak mungkin kau akan dapatkan kembali. Jadi berhentilah menyiksa dirimu sendiri, carilah kebahagiaanmu sendiri. Lupakan masa lalumu, lupakan Ryuzen."
Erika hanya tersenyum getir menanggapi perkataan Yoshiki tersebut.
Andai semudah itu melupakan masa lalu. Mungkin tidak akan pernah ada yang namanya luka karena jatuh cinta.
~~
Di kamarnya Gina masih berusaha keras berpikir bagamaina cara agar dirinya bisa mendapatkan bukti yang kuat, untuk di jadikan alat pertimbangan di persidangan nanti.
"Aku harus bisa mencari seseorang yang siap bersaksi, tapi siapa orang lain selain Erika yang bisa dan mau untuk bersaksi di persidangan nanti?" ujarnya sambil mondar-mandir.
"Aku harus menghubunginya," Gina pun langsung meraih ponselnya dari atas nakas, menyentuh layar ponselnya tersebut guna menghubungi Ryuzen terkait persidangan yang akan di gelar terbuka lusa.
"Halo Tuan Han, bagaimana?" tukas Gina berbicara dalam percakapan via telepon.
"Huh! Aku sejak awal sudah menduga pasti wanita itu tidak bersedia menjadi saksi di persidangan nanti! Kita harus mencari saksi lain selain Erika, kalau tidak Sara pasti akan sulit memenangkan kasus ini."
~~
Karena pintu kamar Gina, yang ternyata tidak terlalu tertutup. Arvin yang awalnya hanya ingin pergi ke kamar mandi ternyata malah tak sengaja mendengarkan percakan Gina di telepon.
"Apa maksudnya, kemungkinan mamiku tidak akan keluar dari penjara?" Arvin tampak ketakutan, raut wajahnya tergambar jelas memperlihatkan rasa khawatir dan gelisah. Dirinya pun buru-buru menepis prasangka itu.
Tidak! Mamiku tidak bersalah, mamiku pasti keluar dari dalam penjara. Papiku dan bibi Gina pasti bisa mengeluarkan mamiku.
Meski telah mencoba menepis prasangka buruk itu, Tapi rasa kalut dihati anak itu tidak bisa disembunyikan. Arvin pun langsung bergegas pergi dari tempatnya saat itu, karena takut ketahuan oleh bibinya. Arvin tidak mau Gina melihatnya yang seperti sekarang ini, karena dirinya paham jika bibinya melihat dirinya saat ini, pasti hanya akan menambah masalah Gina saja, dan membuatnya jadi tidak terlalu fokus mengurus kasus maminya.
Aku harus membantu papi dan bibi Gina. Tapi bagaimana caranya?
~~
Pagi-pagi sekali Kenzo sudah harus dipanggil oleh bosnya untuk menemuinya di ruangan kerjanya.
"Iya bos ada apa?"
"Bagaimana tugasmu?" Tanya Ryuzen yang terlihat begitu serius hari ini.
"Semuanya sudah tertangani dengan baik sesuai perintahmu. Saham Emerald semakin stabil dan berita simpang siur tentang keluarga Han juga semakin menurun. Hanya saja...."
Ryuzen memicingkan matanya penasaran dengan apa yang ingin dikatakan oleh asistennya itu.
"Kenapa?"
"Sepertinya berita tentang nona Sara kemungkinan akan memanas lagi, dikarenakan sidang yang akan di gelar besok. Belum lagi ujaran netizen yang banyak memunculkan banyak spekulasi-spekulasi aneh tentang perkara tersebut."
"Apa yang mereka katakan?" Tanya Ryu ingin tahu.
"Dari yang aku telah baca sendiri, rata-rata mereka berkomentar menyalahkan nona Sara, Hal itu dipicu oleh spekulasi mereka yang berpikir karena status nona Sara yang hanya dari kalangan biasa, jadi kemungkinan nona jadi pembunuh adalah sangat
mungkin. Tapi, sebagian juga ada yang membela nona Sara. Kau tahu tuan, Aku saja aneh membaca teori-teori yang dibuat para netizen," jelas Kenzo tergelitik.
"Jadi begitu...."
"Um Tuan, selain hal-hal itu apa yang ingin sebenarnya kau tanyakan padaku?"
Ryu tersenyum getir melihat Kenzo yang bisa menebak apa maksud Ryu memanggil asistennya itu.
"Kau sekarang sudah mulai bisa menebak isi otakku ya Kenzo?"
"Ah tidak juga, aku hanya menebak-nebak saja, hihi... aku salah ya?"
"Tidak apa, kau benar! Memang ada hal yang ingin aku katakan padamu."
Sepertinya ada hal serius?
"Apa yang ingin kau katakan Tuanku?"
"Kenzo, seandainya aku jatuh miskin. Apa kau masih bersedia bekerja untukku?"
"A- apa maksudmu tuan, aku tidak mengerti."
Tentu saja pertanyaan Ryuzen itu mengherankan, terutama bagi Kenzo yang sudah bertahun-tahun bekerja untuk Ryuzen.
"Sepertinya..., aku memang harus menyerahkan saham Emerald pada si tua bangka itu."
Kenzo terbelalak mendengar perkataan Ryuzen barusan. Dirinya tidak pernah mengira sebelumnya jika Ryuzen bisa mengatakan hal demikian.
๐น๐น๐น
Terima kasih banyak untuk yang sudah mau setia membaca ceritaku, sekali lagi maaf tidak bisa update harian. Tapi aku harap kalian masih mau setia membaca ceritaku ini, dan jangan lupa untuk tinggalkan jejak berupa like, comment, vote.
Sekali lagi terima kasih banyak atas apresiasi kakak-kakak, dan teman-teman reader sekalian.
Happy reading fellas and i hope you like it.
For more info follow my ig account @chrysalisha98 thank you. ๐