
Pria itu menyapa Orizel dengan senyumannya, yang menyiratkan sebuah kebengisan dalam dirinya. Bersama dua orang bodyguard yang berada dibelakang pria itu. Orizel kini hanya bisa tertegun, merasakan lidahnya terasa kelu, dan tubuhnya pun tiba-tiba seperti mematung. Orizel sepertinya sudah tahu persis, jika akan ada hal yang tidak bagus, melihat pria yang kini datang menemuinya. "Mau apa kau kemari Ryuzen!" Ujar pria yang wajahnya kini jelas terlihat gugup.
Masih saja bermulut besar! Ryuzen langsung menyunggingkan senyum miring, menanggapi ocehan Orizel. "Yang pasti mengunjungi seseorang yang mungkin hidupnya tidak akan lama lagi."
Apa maksudnya?
Kenzo tiba-tiba datang, sejenak ia memecah suasana diantara Ryu dan Orizel, asistennya Ryu itu pun langsung mendekati Ryuzen, dan berujar, "Tuan muda semua sudah seperti yang kau minta!"
"Bagus!" Ryuzen pun tanpa basa basi lagi, langsung menyuruh kedua bodyguard yang ada dibelakangnya itu, untuk langsung menangkap Orizel, dan membawanya ke dalam mobil.
"Baik tuan!" Jawab kedua bodyguard itu dengan patuh melakukan titah tuannya. Orizel pun tak bisa lagi menyembunyikan ketakutannya. Tubuhnya terlihat gemetar, dan peluhnya perlahan keluar hingga terasa dingin ditubuhnya. "Jangan coba-coba kalian menangkapku, dasar brengsek!" Kalimat itu terlontar keras dari mulut Orizel dengan nada panik. "Ryuzen beraninya kau meminta orangmu untuk melakukan hal ini padaku! Lepaskan aku sekarang!"
Ryuzen tentu saja tidak peduli dengan semua umpatan kemarahan yang keluar dari mulut Orizel. Dirinya justru melihat Orizel dengan tatapan menghina, dan tanpa belas kasih. Bagi Ryuzen, tidak ada ampun bagi siapapun yang berani menyakiti orang-orangnya.
"Ryuzen sialan! Cepat kau suruh mereka lepaskan aku!" Orizel terus meronta dan berteriak, ia berusaha lepas dari cengkeraman kedua bodyguard Ryuzen yang mengenakan pakaian serba hitam tersebut. "Lepaskan aku! Ryuzen Han kumohon padamu!"
Ryuzen yang tadinya sudah membelakangi Orizel, tiba-tiba kembali membalikan tubuhnya mengahdap Orizel. "Apa aku tidak salah dengar? Barusan kau tengah memohon padaku? Heh! Jadi tuan Orizel sudah tahu bagaimana caranya memohon?" Nada bicara Ryu terdengar mengolok-olok Orizel.
Sialan kau Ryu!
"Hem... mungkin aku akan melepaskanmu, jika kau bersedia memohon kepadaku sekali lagi!"
Huh? Apa tuan muda serius berkata begitu? Pikir Kenzo yang masih berdiri di dekat Ryu menyaksikan kejadian tersebut.
Sial! Dia ingin mempermalukan aku, dasar Ryuzen keparat! Tapi apa mungkin jika aku coba begitu dia akan melepaskanku?
"Bagaimana? Kau mau memohon padaku?" Ryuzen terus memprovokasi Orizel, memacing emosinya karena penasaran akan apa yang akan dilakukan, oleh pria yang kini tampak tak berdaya itu.
Bibir Orizel terlihat bergetar, hal itu makin menampakkan jelas, jika pria itu ingin berbicara sesuatu hal yang sulit diucapkan."Ba- baiklah.... Ryuzen kumohon tolong lepaskan aku!"
"Apa? Kurang keras!"
Sial, kalau tidak terpaksa aku tak akan sudi! "Ryuzen aku mohon padamu lepaskan aku!" Ujar Orizel sekali lagi dengan suara keras. Ryu pun tak kuasa tersenyum puas, dirinya langsung saja meminta kedua bodyguard-nya itu melepaskan Orizel. "Lepaskan dia!"
"Ta- tapi tuan kau yakinー"
"Lepaskan saja kubilang." Kedua bodyguard itu tak ada pilihan dan langsung melepaskan Orizel.
"Anak buahku sudah kuminta melepaskanmu. Lalu apa imbalan darimu untukku?"
"Ap- apa maksudmu dengan imbalan?" Orizel tampak bingung.
Ryuzen berdecak sengit. "Apa kau lupa tradisi Black serpents tuan Orizel? Selalu ada imbalan untuk sebuah pertolongan!"
"Tapi kau sudah berjanji padaku Ryu!"
"Aku tidak bilang janji, aku hanya bilang 'mungkin'"
"Sial! Kau licik Ryuzen!"
"Memang sejak kapan aku menjadi pria baik-baik dan tidak licik, tuan Orizel...?" Ryuzen berjalan mendekati Orizel, "Baiklah... karena kau tidak bisa memerikan imbalan itu padaku maka...."
Bug! ughh.. "Pergi saja kau ke neraka Orizel!"
Kenzo dan kedua bodyguard Ryu itu pun sontak dibuat terkejut, melihat Ryuzen yang tiba-tiba menendang Orizel hingga terkulai tak berdaya.
"Ringkus manusia sampah itu! Dan bawa ke anglo!" Seru Ryu pada kedua anak buahnya.
"Baik tuan!"
Kau menyakiti wanitaku, maka itu bayaran atas apa yang telah kau perbuat Orizel!
~~
Sara dan Arvin terlihat tengah menghabiskan waktu di ruang keluarga. Sayangnya... Sara yang sejak tadi terlihat menyulam selimut untuk calon anak keduanya, membuat Arvin tampak merengut. Pria kecil itu nampak tidak suka, melihat maminya begitu sibuk mempersiapkan keperluan adiknya, sehingga Arvin seolah seperti diabaikan. "Mami! Berhenti memaikan alat itu, nanti tanganmu bisa sakit tau!" Protes pria kecil itu.
Sara menjawab, "Tidak kok... mami tidak apa-apa."
Arvin langsung mengerucutkan bibirnya, ia tampak semakin merasa cemburu dan kesal dibuatnya karena Sara tidak berhenti menyulam. "Mami... ayo kita makan kue saja, aku akan minta bibi Rachel bawakan kue untukmu dan aku!"
Huh? Kau mau kue? Bukankah tadi kau habis makan eskrim? Tapi... kalau kau mau biar mami minta bibi untukー"
Arvin yang sudah tidak bisa menahan rasa cemburunya itu pun, mengambil alat sulam itu dari tangan Sara secara tiba-tiba. Sontak, Sara pun terkejut dibuatnya. "Sayang kenapa kau ambil alat itu dari mami?"
Arvin membulatkan pipinya, bibirnya mengerucut dan menatap sinis pada sang mami, ia pun menjauhkan dirinya dari Sara. "Arvin... kenapa kau...." Tunggu dulu, jangan-jangan dia... "Arvin sayang... ayolah... kembalikan alat itu pada mami."
"Tidak! Pasti kalau aku kembalikan alat ini pada mami, mami akan kembali sibuk memainkan benang-benang itu lagi! Tidak akan aku kembalikan!"
"Sayang, ayolah... jangan jadi anak yang nakal ya, kau kan sudah mau jadi kakak..."
"Aku tidak mau jadi kakak... huhu...!" Ujar Arvin yang kemudian mulai menangis.
"Mami..." teriak Arvin yang tampak khawatir. Namun Sara tetap kembali melangkah, wajahnya terlihat tengah mencoba menahan rasa sakit dikakinya. (Sebenarnya kaki Sara sudah tidak sesakit itu lukanya saat ini. Namun ia terpaksa pura-pura agar putranya mau mendekatinya)
"Mami stop! Jangan berjalan lagi!" Sara pun seketika kembali duduk. Karena tidak sanggup melihat Sara kesakitan begitu, akhirnya Arvin pun memutuskan sebagai yang mengalah, dan kemudia mau mendekati maminya.
"Anak pintar...," Puji Sara kepada putranya yang masih terlihat ngambek itu.
"Ini! Aku kembalikan." Arvin memberikan kembali alat sulam itu kepada Sara, meski wajahnya terlihat sekali tidak rela memberikannya.
Sara seketika menarik Arvin dan memeluknya, lalu berkata, "Arvin sayang... apa kau takut mami tidak meperhatikanmu lagi saat adikmu lahir, makanya kau bertingkah seperti ini?"
Arvin mengangguk dalam dekapan Sara.
"Kenapa kau berpikir begitu sayang?"
Arvin menarik tubuhnya dari pelukan Sara. "Soalnya.... mami sejak tadi terus saja memainkan benang-benang itu, ditambah teman disekolahku bilang, kalau kita punya adik, pasti orang tua kita akan lebih sayang pada adik kita, sehingga mereka akan lupa dengan anak pertama mereka, dan akhirnya anak pertama tidak disayang lagi." Arvin langsung sedih dan kembali memeluk Sara, "Aku tidak mau mami lupa padaku.... aku tidak mau mami dan papi melupakan aku... huhu...."
Sara menarik Arvin dari pelukannya, kemudian memberikan sebuah kecupan kecil di kening Arvin, dan menghapus air mata pria kecil kebanggaannya itu. Sara menatap Arvin dan tersenyum, "Arvin sayang... dengarkan mami. Meskipun nanti adikmu sudah lahir, aku pastikan cintaku untukmu tidak akan pernah berubah, bahkan semakin bertambah. Jadi jangan pernah berpikir begitu, karena orang tua yang baik tidak akan pernah melupakan salah satu anaknya, mereka semua akan mendapatkan kasih sayang yang sama. Begitupun yang akan mami lakukan padamu dan adikmu kelak."
"Benarkah?" Tanya Arvin yang masih agak tersengguk karena habis menangis.
Hem, angguk Sara. "Sekarang... coba kau lihat ke wajah mami." Arvin pun spontan melihat Sara dan menatap lamat-lamat wajah cantik ibunya itu. "Apa dimatamu, mami ibu yang tidak baik dan suka mengabaikanmu?"
Arvin menggeleng."No, Mami yang terbaik!"
"Begitukah? Lalu kenapa kau sampai berpikir mami akan melupakanmu?"
Arvin tidak menjawab, dan sedikit malu-malu dibuatnya. Sara pun hanya bisa tersenyum, dan kemudian mengusap kepala Arvin dengan lembut. "Yasudah... tapi mami mohon, kau jangan lagi berpikir jika aku akan melupakanmu ya.... Karena bagi mami, kau tetaplah Arvin yang spesial, sekalipun ada adikmu nantinya... arvin tetaplah putra mami dan papi yang paling hebat oke!"
Arvin tiba-tiba langsung mencium singkat pipi Sara. "Oke mami maafkan aku, aku sayang mami," tukas Arvin malu-malu. Sara pun membalasnya dengan bergantian mencium pipi Arvin. "Mami juga sangat sayang padamu Arvinku...."
Arvin pun kembali memeluk Sara dengan erat. Sara kali ini dibuat geleng-geleng melihat tingkah Arvin yang sedang cemburu. Hem... Dasar ayah dan anak, kau persis seperti Ryuzen saja kalau cemburu...
~~
Setibanya di Anglo, Ryuzen meminta Kenzo menyeret Orizel ke hadapannya. Kenzo pun menyeret Orizel kehadapan Ryu, dan membuka penutup matanya. Kini Orizel seolah bersimpuh dibawah kaki Ryu.
"Ka- kau mau apa?" Tanya Orizel tidak tahu apa yang akan dilakukan Ryu padanya.
"Kau pikir? Kau sudah menyakiti wanita yang paling berharga dalam hidupku jadi kau seharusnya tau akibatnya kan...!"
Wajah lusuh dengan luka dikepalanya akibat tendangan Ryuzen tadi, Orizel benar-benar tampak menyedihkan, ia dalam posisi bersimpuh dengan kakinya yang tak bisa berjalan, dan tangan diikat.
"Ryuzen, kau ingin membunuhkukah?!"
"Aku tidak ingin membunuhmu, tanganku terlalu berharga untuk membunuhmu. Aku hanya ingin kau mati perlahan, sambil merenungi apa yang telah kau perbuat. Selama ini, kau masih kuberi kesempatan hidup, tapi kau tidak tahu diri dan malah menyentuh wanitaku! Jadi jangan salahkan aku tidak aku tidak jadi pria murah hati lagi, untuk ke sekian kalinya..."
"Apa maksudmu!"
"Bawa dia kepenjara bawah Anglo!"
"A- apa maksudmu! Pe- penjara bawah tanah anglo yang didalamnya terdapat hewan-hewan pemakan daging kelaparan itu!" Ujar Orizel panik dan ketakutan.
"Ya! Dulu aku pernah dimasukan ke dalam sana, tapi aku masih hidup. Seharusnya kau yang merasa lebih hebat bisa kan?" Ejek Ryuzen pada Orizel.
"Ryuzen!" Orizel menarik kaki Ryuzen meminta pengampunan.
"Lepaskan tangan kotormu, dari kakiku!" Ujar Ryuzen lalu menendang pria itu lagi.
"Tuan, apa kau yakin dia..." ujar Kenzo tiba-tiba, merasa iba pada Orizel.
Ryu menatap Kenzo dengan tatapan tajam. "Baiklah, aku diam."
"Lempar dia kepenjara itu!"
"Si- siap tuan!" Kenzo akhirnya melakunan apa yang diperintahkan oleh Ryuzen.
"Ryuzen, kau keparat! Kau iblis! Lepaskan aku! Lepaskan...!"
Tanpa menghiraukan segala makian Orizel, Ryu pergi meninggalkan tempat tersebut tanpa menoleh kembali sedikitpun.
~~
Di kediamannya, Renji yang tengah berada di ruang belajarnya, mengambil ponselnya yang tiba-tiba berdering itu. Ia langsung tersenyum simpul, melihat nama kontak Biyan Dao tertera dilayarnya saat ini.
Diangkat panggilan dari Biyan Dao itu. "Baiklah... tuan Dao, aku terima tawaran kerjasama denganmu!" Ucap Renji tanpa ragu, dan kemudian mematikan panggilan tersebut. Renji tersenyum penuh intrik sambil mencengkeram ponsel ditangannya. "Pembalasan dendam, dimulai Ryuzen Han."
🌹🌹🌹
Halo my beloved readers, apa kabar? Semoga baik dalam lindungan Tuhan. Aku tak pernah henti bilang terima kasih buat kalian yang masih setia dengan novel ini. Dan tak lupa aku juga mohon maaf jika masih banyak kesalahan, baik typo dan juga hal lain yang banyak kurangnya. Teruntuk kalian yang sudah selalu vote, like dan ramein komentar, tbh aku seneng dan berterima kasih banget, karena itu mood booster buat aku. So... once again, terima kasih buat kalian para pembaca kisah Ryu dan Sara. 🌹🙏 Love -C