Love Petal Falls

Love Petal Falls
Love petals bloom 26


"Jadi, lusa nanti kau akan mengadakan pesta peringatan hari jadi Emerald?" ujar Biyan Dao.


"Kenapa? Apa kau mau datang paman? Jika iya, aku dengan senang hati menerimamu," balas Ryuzen dengan nada yang terdengar santai.


Paman dan keponakan itu seolah saling membisu untuk beberapa saat.


"Paman, kali ini tidak ada kesempatan lari lagi untukmu."


"Baiklah...," balas Biyan Dao


"Lalu? Kau masih ingin tahu bagaimana dirinya saat ini kah?"


"Kau manusia brengsek, Paman!"


"Kau pikir begitukah? Suatu hari nanti kau akan tahu diantara aku, ayahmu, dan dirimu, siapa yang paling brengsek dan b*ji*gan?" ujar Biyan Dao dengan nada berkelakar.


"Aku memang pendosa, dan untuk menebus dosaku. Maka yang harus aku lakukan adalah menghabisi para pendosa lain. Setidaknya itu yang harus aku lakukan saat ini."


"Kau berdiri di antara jurangmu sendiri, keponakanku! Bersabarlah, karena cepat atau lambat. Jawaban yang kau tunggu akan segera terungkap, tapi... aku pastikan itu tidak akan mudah. Karena ada harga yang harus kau dan pria itu bayar padaku!"


Ryuzen tersenyum sinis, "Aku akan menunggu untuk kehancuranmu Biyan Dao!"


Ryuzen Han, sepertinya kau masih tidak tahu siapa yang sebenarnya adalah musuhmu selama ini.


"Ah baiklah, sepertinya basa basi kita cukup sampai disini! Sudah saatnya permainan kita jadi serius," ungkap Biyan Dao.


"Ya, kau benar!" balas Ryuzen.


"Kalau begitu aku duluan ya, Tuan muda Han!" Biyan Dao pun akhirnya pergi meninggalkan Ryuzen yang masih tetap berdiri di sisi tebing sendirian.


Jika pun aku mati nanti, aku tidak ingin dan tidak akan mati dengan rasa penasaran. Pria yang tak pernah aku lihat seumur hidupku, yang meninggalkanku dan ibuku dengan segala penderitaannya. Apa masih pantaskah untukku menyebutnya sebagai ayah.


~~


"Astaga, maaf! Aku tak sengaja," ujar Sara kala tak sengaja menumpahkan ice coffeenya pada seorang pelanggan lain yang ada di sebelahnya.


Sara dengan spontan langsung mengeluarkan sapu tangan dari tasnya, untuk mengelap noda yang membekas di pakaian orang yang ia tabrak itu. Namun saat Sara mencoba untuk mengelap noda itu dengan sapu tanga miliknya, tangan Sara justru dihalangi oleh satu tangan yang tidak lain adalah tangan milik seseorang yang ia tabrak. Sara yang sejak tadi menunduk pun, akhirnya mengangkat kepalanya guna menatap seseorang yang dari tangannya sepertinya seorang wanita.


"Erika?" gumam Sara sedikit terperanjat, saat tahu orang yang terkena tumpahan es kopi miliknya itu ternyata adalah Erika.


Erika hanya menatap tajam pada Sara, dan kemudian menapik tangan Sara yang ingin membersihkan noda di bajunya itu.


"Aku tidak butuh itu! Jadi menyingkirlah!" Erika menatap sinis pada Sara, mengisyaratkan pada istri Ryuzen Han itu untuk minggir dari hadapannya yang ingin melangkah pergi.


"Tapi Erika, aku..." Erika semakin menatap Sara sinis.


"Apa kau tuli? Aku bilang minggir!" Erika menaikan sedikit nada suaranya.


Karena tak ingin mencuri perhatian banyak orang, Sara pun mengikuti apa yang dikatakan oleh Erika barusan.


~~


Di dalam toilet Erika yang tengah membersihkan bekas noda yang ada di pakaiannya pun hanya terus saja bergumam kesal atas apa yang terjadi.


"Kenapa aku selalu saja sial jika bertemu dengan wanita rendahan itu! Terlebih lagi... dia kini sudah tau keadaan ibuku yang seorang pasien rumah sakit jiwa. Arrgh...! Sial!" Erika nampak frustasi, ia menatap dirinya sendiri lewat kaca toilet yang ada di hadapannya saat ini. Sambil mengucurkan keran air yang menempel pada wastafel, yang kemudian dirinya gunakan untuk membasuh wajahnya.


~~


"Erika...!" Erika terperanjat kaget, saat melihat Sara yang ternyata sudah ada di depan pintu keluar area toilet.


"Kau mengikutiku?!" Sahut Erika dengan nada yang jelas menunjukkan rasa ketidak sukaannya pada Sara.


"Erika tunggu!" Sara mencengkram dan menarik pergelangan tangan Erika, seolah meminta Erika untuk tak boleh pergi menghindar dari hadapannya saat ini.


"Ada apa lagi? Apa sebenarnya maumu Sara?!" tanya Erika ketus, sambil menarik kembali pergelangan tangannya dari cengkraman pelan Sara.


Erika menarik napasnya lalu melepaskannya dengan gusar.


"Baiklah!"


~~


Sara dan Erika pun memilih sebuah kafe untuk tempat mereka berbincang. Secangkir kopi sudah terlihat berada di hadapan Erika, sedangkan Sara yang jarang sekali minum kopi pun entah kenapa ingin sekali meminum minuman berkopi. Oleh sebab itu ia memesan segelas ice coffee untuk dirinya.


"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?" ungkap Erika to the point.


Sara yang baru saja menikmati ice coffee miliknya, langsung meletakan kembali minunannya dan memilih fokus pada Erika yang kini duduk di berhadapan dengannya.


"Erika, maaf sebelumnya tapi...."


"Ibuku?" belum selesai berbicara Erika sudah bisa menebak kemana arah obrolan Sara.


"Sara, apa kau ingin mengasihaniku setelah kau melihat bagaimana keadaan ibuku, huh?"


"Erika, aku-"


"Atau kau ingin menertawakan aku?'


"Aku tidak-"


"Cih! Tidak usah pura-pura Sara, jujur saja kau senang sekaligus kasihan padaku kan?"


Sara mencengkram rok yang ia kenakan di pangkuannya dengan kedua tangan, ia ingin sekali menanyakan alasan kenapa dulu Erika meninggalkan Ryuzen. Tapi di sisi lain dirinya takut mendengar alasan itu langsung dari Erika.


"Erika, aku hanya ingin bertanya satu hal. Apakah kepergianmu meninggalkan Ryuzen beberapa tahun lalu karena ibumu?" pada akhirnya Sara pun mengutarakan pertanyaan yang sangat ingin ia tanyakan pada Erika.


Erika memicingkan matanya, menatap penuh arti pada Sara yang berada menatapnya dengan tatapan penuh keingintahu-an.


"Kau ingin mendengarnya dariku langsung? Apa Ryuzen tak pernah cerita padamu sehingga kau harus bertanya padaku?" ucap Erika.


"Aku-"


"Sara, aku dan Ryuzen sudah saling mengenal sejak kami masih kecil. Kami bersekolah di tempat yang sama dan sering bermain bersama, hingga suatu hari Ryuzen datang menemuiku dan mengajaku ke sebuah taman. Di taman itu, Ryuzen telah mempersiapkan makan malam romantis dan pada saat itu juga ia menyatakan cintanya padaku. Dan yang harus kau tahu Sara! Malam itu adalah, pertama kalinya seorang Ryuzen menyatakan cinta pada seorang gadis, dan gadis itu adalah aku!"


Mendengar ucapan - ucapan Erika barusan tak membuat Sara terlihat cemburu sama sekali, justru yang terlihat dari sorot mata Sara adalah rasa iba pada Erika.


Sara tersenyum santai.


"Kenapa kau tersenyum?" tanya Erika merasa aneh.


"Erika, erika... kau pikir aku akan cemburu mendenger semua kenangan fairy tales antara dirimu dan Ryuzen di masa lalu?"


"Kau!" Erika menatap marah.


"Maaf Erika! Aku sama sekali tidak cemburu, justru aku merasa ingin memelukmu saat ini juga. Aku merasa kau itu kesepian dan tidak tahu arah."


"Cukup Sara! Kau tidak tahu apa-apa tentangku, jadi jangan berlagak sok tahu. Kalau aku ingin membuatmu cemburu memangnya kenapa, huh?" Erika nampak begitu emosional kali ini.


"Erika aku sungguh-sungguh berempati padamu dan ibumu."


"Aku tidak butuh empati palsumu! Aku tak butuh dirimu! Jadi jangan pernah temui aku!" Erika berdiri dari duduknya dan langsung melenggang pergi meninggalkan Sara dengan sesegera mungkin tanpa permisi.


Aku tahu kau sebenarnya tidak jahat Erika, kau hanya kesepian dan tak tahu kepada siapa kau bisa bersandar. Tapi meski begitu, aku minta maaf... karena aku tidak bisa mengalah untuk cinta Ryuzen.


Sara hanya bisa memandangi kepergian Erika, tanpa bisa menahannya kali ini.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


VOTE, LIKE, COMMENT! THANK YOU ๐Ÿ™